Bening di Setetes Embun (Baca: Nazla Luthfiah)

|
Jatuh tak tersadar
ada suara ceracau terdengar...
jauh samar
pilu, sayang saru oleh ketukan yang kian membuar

Kuikuti iramanya
ia pun mewujud dalam nada
ku bangkit dan lakukan tarian
layaknya lakon Totto Chan

Dalam bayang sekelebat
gerak putar semakin cepat,
aku tak terlihat
dan tersembul gelembung tentang kisah jiwa Tuhan yang pernah kudapat

Degup jantung terlepas
hingga tak tersisip ruang napas
sua setitik embun, aku terpaku
luluh, bukan hancur karena alu

Beningmu
menentramku
sederhana namun tak malu
dan tak memaku-maku

Lagi, mengejar asa
ketukan itu kerap saja menggoda
bola mata ku pun bergerak ke sana
ku pun ingin berteriak tapi terhimpit sempitnya ruang hampa...

Bukan hanya nyalanya warna merah di mata
juga bukan warna hitam kelam di tubuh besarnya
ada lidah panjang nan lebar tlah menjulur dan melilit-lilit
begitu kencang dan hisap daya di setiap lekuk tubuh yang kian sikit

Menitik air di ujung mata kian deras
cermin pantulkan wajah yang pias
Kamu pun pernah berujar
Warna coklat di mataku telah pudar...

Layang-layang Putus

|
cetak!

Terlepas
terpisah, perlahan...
jatuh terhempas
di daratan

semua acuh
bahkan sang empunya
terabai saja
dan terinjak-injak pada tanah yang basah

ia pun terkoyak-koyak...
makna padanya semakin hilang
bukan layang-layang
hanya seutas benang, dua batang bambu dan onggokan kertas minyak

Di Langit Biru Jingga

|
Terbang melayang
di cakrawala yang tawarkan sekian angan
gapai dalam kecepatan yang kian melamban
angin sejuk kadang berang

Lelah,
danau berganti menjadi asa
Tiba di sana,
hanya ada hampa...

Tanpa lagi merintih,
kembali pada langit biru putih
yang kemudian berubah jingga
lalu mengelam, hingga fajar yang kan tiba

Antara aku, dia, dia, dan diri-Nya...

|
Dengannya,
Ku mencoba membaca semua cerita
Menyusurinya perlahan
Berharap jawabanNya tak lama tertahan...

Hingga akhirnya,
Dia kan hadir melengkapi yang kurang
Kukatakan pada belahan jiwa
Ia telah datang

Maka kuminta padanya yang kusayang
Tolong tuliskan cerita indah yang pernah kita punya
Dengan keseluruhan hati,
Ia bentangkan kisah itu dengan begitu indah:


"Sebagaimana Peziarah......."
(oleh: Nazla Luthfiah, 2004)

Sebagaimana peziarah, demikianlah kita tertawan kerinduan
pada langit yang senantiasa berubah-ubah warna
Kita kemas puluhan cemas dalam kantung mata
Dalam tiap perjalanan yang asing, menetes mereka
di sela-sela jari lalu menggumpal menjelma danau

Kita terus saja berjalan, sebab katamu kau ingin
terbang tapi sayap dipunggung hanya sebelah
dan sebagaimana peziarah, kita sampirkan
ayat-ayat do'a di kepala
menafsirkan tanda mencari-cari sebelah sayap yang hilang

Kita tebar ayat-ayat do'a dipermukaan gelombang hingga bening
lalu kita terpaku, sebab disanalah, di dasar danau air mata itu,
tergolek sebelah sayap memanggil-manggil namamu penuh rindu
Engkau gegas menggapai sayap gelepai itu. Kemudian kau peluk aku,
kawan ziarah dalam menapaki jalan kerinduan. Kau menatapku
dan berkata, sayang, sekarang aku harus terbang!

Begitulah, kusaksikan kau layang menembus langit senja
yang senantiasan berubah-ubah warna: biru-jingga, biru-jingga

Setelah Sekian Lama, Ia Mengatakannya...

|
Menemuinya
Meluaplah rasa gembira
Siapa yang tak rindu?
Dia...

Pernah mendengar pepatah, bertepuk tangan sebelah?
Itulah saat itu
Dia duduk kaku
Membisu...

Ceritaku berserakan
Namun sepertinya ia tetap berada dalam angan-angan
Aku tak peduli
Sibuk mendamaikan hati

Aku sadari
Mungkin kita memang bukan satu lagi
Atau memang tak pernah terjadi
Tuhan, aku sayang dia...

Aku pergi
hampa...
Kukatakan sejujurnya apa yang kurasa
Dia juga tak peduli

Aku tak tahu...
Hingga kini...
Ia berucap kata-kata ini:
Ia rindu padaku...

*Untuk salah seseorang sahabat terbaik...
Saya hampir merasa akan kehilangan dirimu...*

Ketika Kesunyian Memanggil

|
Duduk diam, terpaku pada indahnya air danau yang sunyi. Ditambah dengan pepohonan berjejer rapi begitu menyatu dengan langit biru putih. Indah. Kami menarik napas dalam-dalam. Ia, sahabatku, berkata dalam puisinya... malu...

Ada beban berupa persoalan tidak begitu rumit seperti hari ini. Namun kami merasa butuh sekali ketenangan, kesunyian itu, hingga damai datang menghampiri.

Kami tersenyum pada indahnya hamparan air dan tetanam di sana. Masjid yang tua itu pun turut tunduk. Kami semakin merasa rendah hati...

Kerinduan yang mendalam pada ketenangan hati saat bersujud menjadi-jadi. Kami cinta pada-Nya... Kami pun tahu bahwa beban ini akan terurai oleh kekuasaan-Nya...

Lantas sahabat berucap. Kadang bibir ini tidak memiliki pilihan selain tertutup serapat-rapatnya dan mendengarkan... Ada bisikan dari hati bahwa hatinya sangat jernih dan mampu dijadikan cermin

Lalu bagaimana dengan hati diri sendiri yang seringkali berkata dalam kesunyian itu? Tiba-tiba sang hati kembali menghibur, "aku masih hidup..." Namun kemudian ia berbisik lagi, lirih sekali, "bantu aku..."

Tiba-tiba ada air yang muncul diujung mata. Sedikit demi sedikit ia berjatuhan. Alirannya membasahi pipi dan juga hati ini yang kian mengusam. Sahabat berkata, "bacalah, sayang..."

Hati yang sebelumnya terasa kaku karena selimut debu yang mengerak lamban bergerak. Ia melembut kemudian berjalan ke arah cahaya dimana tanda-tanda itu ada tanpa mampu berdalih lagi...

*i miss u all, my bestfriends...*

Isi Hati yang Terdalam...

|
Bukannya saya tidak mau bertemu. Tetapi memang hati ini belum memiliki energi yang cukup banyak untuk bisa menarik diri ke dalam zona ketidaknyamanan. Wilayah itu sepertinya lebih dalam dari pada lubang hitam yang diceritakan oleh banyak orang. Tidak ada yang lebih menakutkan dari pada kehilangan jari diri yang sebenarnya...

Jadi, biarkan saya disini... dan mereka di sana...

Masalah ini menjadi agak sedikit rumit karena memang ketidakjujuran sudah menggerogoti persahabatan itu sendiri. Apalagi jika kami sudah membandingkan mana yang lebih baik. Dia atau diriku? Walapun kita sadar bahwa tidak ada yang sempurna.

Saya sendiri sudah lupa arti kehilangannya itu apa. Cerita itu sudah lama sekali. Bahkan sudah terlalu terkubur dalam, jauh dibawah sana. Namun ketika ia menyatakan ketidakpeduliannya, ya, saya bersedih dan ingin menangis... sebentar saja.

Pertanyaannya adalah, sampai kapan saya harus seperti ini? Apakah memang saya begitu sempurna hingga begitu bodoh untuk tidak mampu melangkahkan kaki dan membukakan pintu hati untuknya?

Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Tapi saya minta maaf jika saya memang terlalu mudah patah dan retak, bahkan hancur...

Di Atas Panggung

|
Sebelum memainkan skenario yang sudah dituliskan di atas kertas, darah di tubuh terasa mengalir begitu deras. Jantung berdetak cepat. Tanganku juga sedikit berkeringat.

Kaki ini pun sampai di tempat yang menjadi sorotan utama pandangan semua orang. Rasa canggung tetap menjalari tubuh hingga saya berpikir, mungkin ini tidak akan lagi terulang.

Setiap gerak dalam lagu kulakoni. Kata-kata yang harus diucapkan pun ku keluarkan melalui bibir ini. Ada beberapa yang terlupa, disitulah kreativitasku diuji...

Satu hal yang pasti, ini bukan permainan. Pasti akan ada penilaian. Tepuk tangan atau cemoohan? Aku tidak peduli. Aku sedang asik dengan peran ini.

=)

Jangan Sampai Itu Terjadi...

|
Suatu hari di sebuah mall kecil. Abang dan Ara memilih permainan yang ada dihadapannya dengan leluasa. Mereka terlihat asik sekali. Terutama abang. Dia mengendarai mobil mainannya seperti yang sudah ahli menyetir mobil. Dia mainkan persenelingnya dengan lincah. Mobil yang ia kendarai bergerak maju dan mundur dengan mulus, sesuai kehendaknya. Adiknya, Ara, lebih memilih untuk memegang erat kuda-kudaan dan mengamati anak-anak yang lain.

Semua anak di tempat bermain itu memang terlihat gembira. Di tengah taman bermain yang didesain menyerupai taman kota, anak-anak tertawa riang. Ada beberapa di antara mereka yang menangis. Ada juga yang menekuk bibirnya karena suatu hal. Sepertinya ia kesal karena mainan yang ia incar masih dipergunakan oleh anak yang lain.

Semuanya terasa indah. Apalagi pendingin ruangannya pun berfungsi sempurna. Semua yang bermain di sana tidak ada yang kepanasan walau matahari di luar sana begitu terik.

Saya amati sekeliling ruang bermain itu. Setiap sisi dinding tidak hanya berhiaskan berbagai macam karakter khas anak-anak. Warna catnya di atur sedemikian rupa hingga menyerupai langit biru dan awannya.

Saya mengarahkan pandangan saya ke atas. Sungguh pemandangan yang tidak menyenangkan. Yang terlihat hanyalah kabel-kabel dan lorong pendingin yang berwarna kelabu dan hitam. Kontras sekali dengan warna indah yang disuguhkan sisi dinding ruangan.

Tangan kecil Ara menggapai salah satu bagian kakiku. Dia tersenyum cantik. Dia pun turut mendongakkan kepalanya. Dia bilang, "Umi... Unga...". Saya mengikuti arah matanya. Saya lihat benda warna-warni yang ada tepat di atas kepala kami: rangkaian bunga plastik.

Saya tersenyum semanis mungkin pada Ara. "Iya, sayang... bunga..." Tiba-tiba hati saya menjadi sedih. Saya jadi teringat pohon kenari yang diawetkan di film Ice Berg. Pohon itu begitu indah. Ia berdiri sendiri di tengah gedung pencakar langit. Ia nampaknya adalah tumbuhan terakhir yang tersisa. Oleh karenanya diawetkan...

Hm, ketakutan yang terlalu berlebihan, ya?

Pinta ku...

|
"Abang, abang sedih ngga kalo umi meninggal?", tanyaku sore ini, secara tiba-tiba.

Abang menatapku, bola matanya membesar dan ia pun mengangguk-angguk. "Iya, umi...", jawabnya dengan nada yang pelan.

"Abang, kalau umi meninggal, abang doa buat umi, ya?" Pintaku, lembut... Anak sulungku yang masih berusia 4 tahun itu semakin menatapku lekat. Adiknya yang masih 1 tahun 10 bulan hanya mendengarkan. Kemudian Abang angkat bicara, "Umi, gimana? Abang ngikutin.."

Akupun melantunkan sebuah doa. Sebelumnya aku berniat untuk membacakan "doa untuk orang tua". Namun kemudian yang keluar dari mulutku adalah "doa sebelum makan". Aku dan anak sulungku tertawa terbahak-bahak... Ara, sang adik kecil yang sedari tadi turut menyimak, juga tertawa geli.

Lalu ku pinta dua orang anakku untuk mendengarkan "doa untuk orang tua" yang kan kubaca untuk mereka. Aku mengira anak sulungku akan mengikuti doa itu setiap kata demi kata. Ternyata dia hanya menyimak. Setelah ku selesai membacakan "doa untuk orang tua", anak sulungku membacakan artinya dengan lantang namun lembut...
"Ya Allah,
ampunilah dosaku...
Ampunilah dosa kedua orang tuaku...
Sayangilah mereka
sebagaimana mereka menyayangiku sejak aku kecil...
AMin..."


Allahu ya Rabbi... Hatiku tersentak. Aku benar-benar tak mengira ia akan membacakan artinya. Ya Allah, Alhamdulillah... Aku pinta anak sulungku untuk menghampiriku... Ku peluk erat tubuhnya dan tubuh adiknya yang mungil...

Rindu padanya...

|
Tahun ini, saya berziarah tepat di hari Jum'at. Katanya, para ahli kubur mengetahui kedatangan para peziarah di hari itu. Setiba di makam ibunda, hati ini seperti yang bergolak, ingin menangis. Saya rindu padanya.

Ketika beliau masih hidup dan saya masih sendiri hingga beliau tiada, berbagai macam hidangan sudah disiapkan beberapa bulan sebelumnya. Bahan-bahan makanan tersebut beliau olah beberapa hari sebelum hari Raya tiba. Semuanya dilakukan dengan perencanaan matang. Sehingga beberapa kewajiban kepada-Nya pun tidak tertinggal.

Tahun ini, semua berbeda. Opor pun hanya dimasak dengan bumbu instan. Jadi, kenapa saya ingin menangis ketika memanjatkan doa kepadaNya di hari Jum'at pagi yang teduh itu? Sungguh, saya rindu padanya...

Araku yang Cantik

|
Dulu, saya suka bingung jika ada ada anak kecil yang berdiri di hadapan saya. Akan saya apakan dia? Kata orang-orang, anak-anak itu lucu. Tapi tidak bagi saya. Sampai pada akhirnya saya mempunyai anak-anak lucu seperti anak saya... :) Narsis? entah lah... tapi mungkin itulah yang disebut dengan naluri seorang ibu, orang tua...

Akhir-akhir ini saya sedang gemas dengan Ara yang usianya masih 18 bulan. Subhanallah, senyumnya, tingkahnya, matanya, semuanya membuat hati saya yang kerapkali merasa penat menjadi lebih tenang.

Salah satu pujian dan candaan yang saya suka dilakukan kepadanya adalah dengan melontar pertanyaan kepadanya, "siapa yang soleh? siapa yang cantik? siapa yang pintar?" Dia pun menjawab pertanyaan saya satu persatu dengan suara imut dan cadelnya: "Alaaaaaaa...."

Subhanallah, kemudian saya pun menatap matanya dalam-dalam dan berharap semua perkataan saya padanya bisa menumbuhkan banyak cinta di dalam hatinya, menumbuhkan banyak kasih sayang dalam dirinya, hingga kelak ia bisa benar-benar tumbuh menjadi perempuan yang soleh, cantik dan pintar... Amin.

Fatih dan Sekolah Pertamanya

|
Hari pertama menemani Fatih memasuki gerbang sekolahnya yang pertama adalah suatu hal yang mengharukan. Tidak terasa, sepertinya baru kemarin saya lah yang diantar oleh almarhumah mamah untuk di "test" masuk TK. Saya ingat, sepulang wawancara di TK, saya ditanya oleh kakak-kakak saya: "tangan kanannya nyampe ke kuping kiri, ngga?" Namun pada hari itu, 13 Juli 2009, saya menyaksikan Fatih berbaris dengan teman-temannya.

Hari kedua, fatih terlihat jauh lebih manja. Dia tidak mau lepas dari pelukan saya. Saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkannya. Dia menjerit dan menangis. Tapi saya tidak peduli. Dia harus mandiri. Alhamdulillah, keputusan saya benar. Saya memang harus belajar melepasnya ke dunia yang baru.

Seminggu kemudian, saya memutuskan untuk mengantarkan Fatih ke Gerbang sekolahnya. Selama ini, hanya ayahnya saja yang mengantarkan Fatih. Tetapi kejadian hari kedua ia bersekolah terulang kembali. Fatih menjadi sangat begitu manja. Beberapa minggu kemudian, Fatih pun mengakui kalau dia lebih suka diantar sama ayahnya. Dia bilang, "kalau sama umi, jadi kepengen sama umi aja".

Tadi siang, saya menghadiri undangan dari Gurunya Fatih untuk rapat POMG. Saya sempat menyaksikan sedikit aktivitas Fatih di sekolah. Ternyata ibu gurunya sedang membagikan hadiah untuk beberapa anak yang memenangkan lomba. Alhamdulillah, nama Fatih dipanggil. Ia mendapatkan juara ke tiga untuk lomba estafet. Saya cium pipinya dan mengucapkan selamat, "Selamat ya sayang, umi bangga... Besok pagi olah raga lagi ya... Biar tambah kencang larinya..." ^_^

Mau Kemana?

|
Hari spesial minggu yang lalu dimanfaatkan ayah untuk ke bengkel. Tadinya, ayah mau meninggalkan saya dan anak-anak di rumah karena ayah pikir kita akan merasa bosan jika harus ikut ke bengkel.Tapi beliau ngga tega. Apalagi melihat isterinya sok melas begitu :p Akhirnya kita berempat pergi ke bengkel melihat proses penggantian ban.

Ternyata perkiraan ayah -dan juga saya- meleset. Kita semua merasa asyik ketika diajak ke bengkel. Terutama anak-anak. Mereka terkesima dengan berbagai perlengkapan yang ada di bengkel. Apalagi peralatannya canggih, pakai komputer :) Norak? hehe... Ngga apa-apa lah.... learning is a journey, isn't it? :p

Tadi pagi abang ribut lagi dengan rencana kita di hari libur minggu ini. "UMIIIII... Kita mau cuci mobil, kan? yang mobilnya masuk itu loooooh.... Terus kapan kita naik KERETANYA..... Kata mbaknya Raka, yang suka bikin bom udah ketangkep kok, Miiiiii...". "Siap Abangku ganteng... Kemana saja...", sahut saya. Menikmati hari libur di mall memang tidak selamanya menarik, ya? :)

Dunia Maya dan Hidup Saya

|
satu tahun belakangan ini saya sedang terpesona dengan dunia maya. Manfaat yang bisa diambil oleh setiap orang pengguna jenis teknologi ini sangat luar biasa.

Kecanduan terhadap akses informasi melalui teknologi ini berawal dari keterpesonaan saya terhadap sebuah blog, yaitu stayathomemommy.wordpress.com (hallo mbak Devi...). Ada banyak hal yang diceritakan. Ulasannya juga sederhana, tetapi penting, dan banyak mengulas tentang dunia anak. Satu hal lagi yang saya sukai dari blog beliau: kejujurannya. I really love her.

Saya coba mengikuti cerita hidupnya. Sejak dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya yang sudah mapan karena anak, mendirikan sebuah milis "Beingmom" bersama teman2nya, dan membangun sebuah toko online yang kini sering dibahas di berbagai media. I just think that she's so amazing.

Untuk mengenal mbak Devi lebih jauh, saya nekat masuk milis Beingmom. Ketika terlibat di milis tersebut, ternyata saya menemukan beberapa orang hebat yang lain seperti mbak Dini Widiastuti Rustandi dan Mbak Rina (Rinso) Sofiani, sang moderator. Saya pun mendapatkan banyak hal yang baru, terutama seputar masalah kesehatan. It's so fun.

Kemudian dalam proses pembelajaran di milis Beingmom, mbak Devi juga memberikan komentarnya untuk beberapa kasus yang sedang dibahas di milis tersebut. Sayang, tidak sesering yang saya harapkan. Jadi, saya kurang puas. Pada akhirnya saya mencoba memberanikan diri untuk mengakui bahwa saya adalah salah satu penggemar beratnya di blog yang ia miliki. Alhamdulillah, dia merespon :) Seperti ditegur oleh seorang artis terkenal, saya giraaaang setengah mati :p Beliau, Devita Umardin, pun mengajak saya untuk berkomunikasi secara intensif di Facebook. Sejak itulah, saya menjadi semakin tenggelam dalam "kesendirian" di dunia maya. Di Facebook saya tidak hanya bisa berbagi dengan Mbak Devi dan teman di milis Beingmom, tetapi juga dengan banyak orang yang ada dalam hidup saya.

Keasyikan saya terhadap dunia maya menuai banyak protes dari berbagai pihak. Tetapi saya tetap tidak bergeming. Bagaimanapun ada beberapa hal yang bisa saya dapatkan di dunia maya. Salah satunya adalah saya memiliki banyak teman.

Sebagai makhluk sosial, teman merupakan kebutuhan mendasar yang tidak bisa dinihilkan keberadaannya. Tanpa teman, hidup manusia menjadi begitu kering. Dengan teman, terutama yang "ok" untuk dijadikan sparing partner menurut saya, kita bisa saling berbagi.

Dengan orang2 hebat di dunia maya, saya bisa berbagi tentang banyak hal, seperti yang kini menjadi minat utama saya: masalah pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Setidaknya beberapa perubahan yang terjadi pada diri saya setelah saya berinteraksi dengan dunia maya adalah:
1. Lebih rasional dalam memperlakukan anak yang sedang sakit
2. Lebih kreatif dalam memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak
3. Lebih komunikatif dalam menuangkan isi kepala dalam sebuah tulisan

Jadi, jika ada yang nyinyir dengan hubungan saya dengan si D. Maya. It's your problem. :)

Pilih-pilih Sekolah

|
Memilih sekolah ternyata bukan suatu hal yang mudah. Memilih sekolah berarti memilih lingkungan yang benar-benar sesuai dengan kaarkter anak. Dari gurunya, fasilitas sekolah sampai dengan teman2. Semuanya harus dipertimbangkan supaya anak2 tidak berperilaku sebaliknya dari yang diinginkan: menjadi cerdas dan soleh.

Alhamdulillah, Taman Kanak-kanak yang menjadi pilihan anak saya tidak mengecewakan. Setelah bersekolah, anak saya menjadi begitu bersemangat untuk belajar. Bahkan, ia merasa kecewa jika hari libur tiba. Hal ini membuat saya dan suami saya menjadi lebih bersemangat lagi untuk mencari lembaga pendidikan yang benar-benar berkualitas untuk masa depan anak-anak.

Otak saya semakin bekerja keras ketika beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah fakta bahwa sekolah yang "terkenal" tidak cukup menjadi modal bagi seseorang menuju kesuksesan. Tetap saja, orang tua lah yang memegang peranan untuk mengontrol motivasi belajar seorang anak. Jika teman-teman dan guru di suatu sekolah sudah memerankan fungsinya dengan baik, sementara orang tua tidak memberikan motivasi yang cukup untuk anak, maka hasilnya menjadi tidak maksimal. Setidaknya, orang tua harus tetap menjalankan fungsi kontrol terhadap anak-anaknya. jadi, orang tua tidak melepas anaknya begitu saja dan mempercayakan anaknya pada sekolah dengan prinsip: anak gua kan dah sekolah di tempat yang terkenal.

Saya setuju bahwa learning actually is a journey not a race. Prinsip ini sangat tepat diterapkan apabila orang tua atau para pemegang peran utama dalam proses pendidikan anak mengetahui bahwa anak-anaknya tidak mencapai target yang diinginkan. Misalnya, anaknya tidak masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan, anak tidak mencapai peringkat 1 di kelas atau di sekolahnya. Pada kondisi tersebut, orang tua dan guru atau lingkungan tidak tepat bila harus memberi hukuman dengan memberi sigma kepada anaknya, bahwa anaknya adalah bodoh. Karena, dari pengalaman kegagalannya tersebut, anak bisa belajar banyak hal.

Tetapi prinsip learning actually is a journey not a race sepertinya kurang tepat bila harus disandingkan pada saat anak sedang menjalani proses belajar. Mengapa? Karena saya berpikir, si anak pasti akan merasa terlena dalam "zona nyaman".

Jadi, beberapa hari yang lalu, saya pun berdiskusi dengan suami saya. "Ayah, sekolah itu mahal banget, tetapi murid-muridnya tidak dibiasakan berkompetisi, jadi ngga ada ranking. Kalau yang itu, kompetisinya ketat, terutama kompetisi di bidang akademik, tapi katanya anak-anak muridnya banyak yang stress". Suami saya menjawab, "yang membiasakan anak-anak berkompetisi aja, mi... Ayah ngga mau sama yang membuat anak-anak terbiasa dengan zona nyaman..."

Saya jadi berpikir, ya benar, zona nyaman memang membuat seseorang malas berpikir. Tapi, bagaimana kalau anak-anak menjadi stress? Berarti disinilah peran saya dan suami saya sebagai orang tua dengan tidak menambah beban anak. Sebaliknya, membantu dan memfasilitasi anak untuk melakukan manajemen stress yang mereka miliki pada saat mereka menghadapi permasalahan di lingkungannya.

Hengki blengki

|
Saya bingun mau nulis apa. Ada banyak draft tulisan. Semua draft saya simpan saja tanpa penyelesaian yang baik. Mereka terlantar begitu saja.

Saya kembali merasa mampet. Danau Science Park yang indah itu pun tidak dapat diceritakan dengan baik. Semua menjadi macet. Sepertinya ini terjadi karena saya memang sedang mreformat isi otak dan hati. Ya. Mungkin itu jawabannya.

What ever it is, saya merasa lega karena setidaknya hari ini saya sudah membuat sedikit tulisan. Walaupun tulisan ini tak begitu berarti...

Rindu pada Indahnya Kesejukan

|
Saya kembali lagi bercermin... Kali ini tidak pada indahnya danau di science park... Saya bercermin di sudut ruang yang kosong pada sebuah cermin kecil... Sendiri.

Ada yang hilang pada diri saya. Saya pernah menyadarinya... terlalu sering, bahkan. Sebelah sayap saya juga pernah mendengar keluhan ini... Belahan jiwa pun pernah menyampaikannya. Saya sendiri hanya mengamati apa yang saya sampaikan, apa ia sampaikan, tanpa berbuat sesuatu yang berati... Ya, saya memang terlalu lamban dan terlalu sibuk mencari hal lain yang bukan seharusnya menjadi perhatian saya...

Salah Satu Rasa Indah yang Ku Rasa

|
Kerinduan pada wajah-wajah manis itu sering kali tak terbendung. Kaki ini ingin sekali segera berlari, menuju rumah dan menyaksikan sambutan hangat dari mereka. Ara bersorak dengan gaya khasnya yang menggemaskan. Ia belum bisa melompat. Tetapi ia berusaha menggerakkan seluruh tangan dan dadanya, naik turun, sambil berteriak: “ayyya yayayaya... mimimimimi..”. Fatih langsung berlari ke luar rumah menghampiri saya. Kadang jika hujan turun, ia hanya mengintip kedatangan saya dan suami saya dari balik daun pintu atau jendela. Ia pun berteriak ke arah adiknya, “umi pulang, Ra! Umi pulang! Lihat!”. Ara pun, seperti yang sudah mengerti apa yang disampaikan abangnya langsung berteriak dan berlari ke arah pintu... menyambut umi dan ayahnya...

Rindu... rasa ini tidak bisa memberikan toleransi terhadap jarak yang kadang memisahkan saya dan mereka. Saya benar-benar ingin sekali berlari dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah, tanpa rintangan yang menghalangi. Pipi pada wajah-wajah mungil yang penuh dengan keceriaan itu ingin segera saya sentuh dengan kedua tangan ini. Lalu saya ingin menciumi mereka dalam-dalam, penuh kehangatan, penuh kasih sayang. Saya betul-betul mencintai mereka.

Jarak yang kadang memisahkan saya dengan anak-anak lucu itu seringkali membuat saya bersedih. Tetapi saya sadar, saya tidak boleh terkalahkan oleh tubuh dan perasaan saya sendiri. Setidaknya, betapa pun penat yang saya telah rasakan, rasa bahagia juga sering terselip di dalam hati ini... Alhamdulillah, saya bahagia karena bisa merasa merindu... setiap hari... dan itu... sangat indah...

Fatih n Ara.... Umi loves U so much...

Senangnya Kalo Ada yang Perhatian...

|
Sore itu saya merasa sangat kesal dan ingin menangis keras-keras. Biasalah... perempuan kalo sedang mengalami "masa"-nya, banyak yang tidak bisa menahan emosi kalau disenggol sedikit. Termasuk saya. Jadi, sebelum sampai ke rumah, saya memutuskan untuk mampir dulu ke kantor suami untuk mencurahkan kekesalan hati. Tetapi, ternyata itu tidak cukup memuaskan saya... Sepulang dari kantor suami, saya masih merasa sedih.

Sampai di halaman rumah, saya sudah mendengar tangisan Ara yang keras. HUf... Saya pulang terlalu malam. Saya peluk Ara, kemudian saya cium abangnya. Seperti biasa, saya segera menyusui anak saya yang paling kecil setelah selesai membersihkan diri. Uwak yang mengasuh Ara pulang. Maka, di rumah hanya ada saya, Ara dan Abang.

Biasanya, Abang suka merengek-rengek karena tidak sabar untuk dibacakan buku cerita. Kali ini dia berbeda. Saya yang sedang menyusui adiknya malah dipeluk erat. Dia mencium pipi saya, kemudian bertanya, "umi, umi mikirin apa sih..."

Saya yang ditanya jadi agak kaget. Saya tahu anak saya yang sulung itu memang sangat perhatian. Dia sangat tahu setiap detil mengenai apa yang saya, ayahnya atau adiknya sukai atau tidak sukai. Misalnya, jika ada salah satu lagu disko kesukaan saya diputar di radio, dia akan teriak, "umi! ini kesukaan umi, kan?" Tapi, baru kali ini saya ditanya mengenai apa yang saya pikirkan... dan entah mengapa, saya langsung jujur menjawab, "umi lagi kesel ama temen umi..."

Lalu abang Fatih yang masih memeluk saya menyahut jawaban saya, "emang, temen umi jahat, ya?" Masya Allah... kok hati saya jadi berbunga-bunga mendengar jawabannya, ya? Saya langsung tersenyum dan menjawab, "Ngga kok Bang, dia nggak jahat, cuma ngeselin aja". Ara sudah tertidur dan saya segera melepaskan diri darinya, kemudian langsung memeluk abang Fatih...

Hari Istimewa Buat Abang dan Ade

|
Satu minggu ini abang dan ade melakukan demonstrasi. Demonstrasinya abang ditunjukkan dalam bentuk marah-marah yang tidak jelas penyebabnya. Biasanya, kegiatan marah-marah ini dilakukan abang di pagi hari, pada saat umi dan ayah akan berangkat kerja. Lain halnya dengan Ade. Ade tahu betul jika uminya terburu-buru. Dia pun hanya bisa memelas, menunjukkan muka sedih. Kadang, Ade juga tau kalau uminya pun menanggapi kesedihannya. Jika begitu, setiap pagi dia pasti akan memeluk umi dengan sangat eraat sekali. She really didn't want me to go... Pada saat umi pulang, Ade pun melompat-lompat senang. Dia pun langsung menuntut umi untuk menyediakan waktu hanya untuk dirinya, dengan menyusuinya sepanjang malam. Alhasil, umi kurang tidur dan selalu terkantuk-kantuk di kampus...

Ya, begitulah jika dua hari libur yang seharusnya menjadi hak anak-anak tidak bisa dijalankan seperti biasanya. Entah, mungkin saya yang yang terlalu sensitif. Saya merasa anak-anak protes karena mereka kehilangan dua hari libur yang seharusnya menjadi miliki mereka. Pada minggu ini, umi dan ayah pun bersepakat untuk memberikan dua hari istimewa buat mereka.

Karena Sabtu dan minggu ini ingin di sebut sebagai hari istimewa, maka kegiatan yang di lakukan pun tidak sekedar pergi ke mall seperti biasanya. Umi dan ayah merencanakan untuk pergi keliling kota Jakarta dengan mempergunakan transportasi umum. Pada saat itu, ayah sebenarnya belum sehat betul. Tetapi karena ayah sayang betul dengan umi dan anaknya, maka ia merelakan waktu istirahatnya. Abang dan -sepertinya juga- Ade, terlihat senang betul dengan rencana ini.

Kami pun menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan: tas gemblok dengan berbagai perlengkapan anak di dalamnya dan kue-kue serta minuman yang bisa menemani perjalanan istimewa kami. Lalu, pukul 7.30, di Sabtu dini hari yang mendung, kami pun berangkat. Tak lupa, kami makan bubur di warung bubur Padewo yang enak itu. Setelah itu, kami menuju Universitas Indonesia (UI) untuk memarkirkan (mungkin menitipkan, tepatnya) mobil kami di sana.

Alhamdulillah, kami sampai di UI tepat jam 9. Jadi, tidak ada cerita kemi's fam ketinggalan kereta :D Kami pun bergegas menuju ke Statsiun UI dan membeli karcis KRL AC. Ayah waktu itu sempat cemberut. Saya tidak tahu kenapa, mungkin karena ia memang belum begitu pulih. Tapi, saya pikir, sakit sariawan aja kok segitunya... :p

KRL AC yang akan kami tumpangi akan segera tiba. Matanya ayah agak berseri. Hatiku berbisik, alhamdulillah... Fatih, dia tentu saja bersorak gembira. Ara? dia tertidur di gendongan saya. Tetapi, pada saat itu sempat terjadi sedikit keributan. Ayah bingung mau naik dari mana. Seorang petugas KRL berteriak: "PAK! KALO MAU KE JAKARTA KE SANA! Aku juga teriak, "AYAH KE SANA YAH! ITU KE BOGOR!" duh, padahal mah santai saja lah ya... tidak perlu teriak2. Tapi tak apa lah, supaya tambah seru :p

Pada saat KRL AC tersebut berhenti, kami segera masuk dan mencari tempat duduk. Alhamdulillah, ada dua orang lelaki yang menyediakan tempat duduk buat kami. Pada saat itu, wajah ayah tambah berseri. Saya yang merasa bersalah, berbisik lagi dalam hati, Alhamdulillah... Kemudian meledek ayah yang tidak pernah naik kereta selama 6 tahun belakangan ini. "Yah, bagus kan keretanya... bersih... nggak umpel-umpelan (berdesak2desakan)...", saya senang sekali bisa berkata seperti itu. Ayah yang diledek hanya tersenyum senang. Abang yang di ajak naik kereta sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Dia hanya menatap Jakarta dari jendela. Dia betul-betul menikmati perjalanannya kali itu. Ara? Dia tertidur di pangkuan saya.

Sesampai di statsiun Juanda, kami turun dari kereta dan berjalan menuju halte busway yang ada di sekitar situ. Keributan kecilpun terulang kembali. Sesampai di loket tiket, ayah panik. "UMI, kita mau kemana?, tanya ayah. "HAH?", saya bingung. Ayah mengulangi pertanyaannya lagi. Mbak-mbak yang menjadi penjaga loket teriak2 juga. "Tujuh RIBU PAK! Tujuh RIBU!", katanya. Saya langsung connected, "YAH... nggak perlu pakai tujuan mana. Bayar aja langsung... Satu tiket untuk semua tujuan...". Mas-mas yang ada di belakang mba-mbak penjual tiket tersenyum2.

Kami pun masuk ke halte busway (fatih menyebutnya dengan busyoy). Di sana terjadi keributan lagi. "Ini kok ngga bisa!" ayah berteriak. Mas penjaga pintu halte menyambutnya dengan ramah dan meminta ayah menyerahkan tiket yang dipegangnya. "Sebentar pak, saya masukkan dulu tiketnya...", ia pun langsung memasukkan tiket ke tempatnya dan mempersilahkan ayah untuk masuk ke halte. Berikutnya baru saya yang masuk. Setelah itu, ayah panik lagi, "UMIII... Tiketnya MANAAAA...". Saya menjawab dengan tenang *cieee*, "tadi kan dah di masukkin ke situ yah... ya udah... nanti ngga di tagih lagi kok.... Ini kan bukan keretaaaaa.....kikikik... makanya sering2 naek angkot......" Ayah tersenyum malu :p Pada saat itu, abang sangat terlihat antusias sekali. Ade juga merasa senang. Tetapi rasa senang yang dimiliki Ade mungkin disebabkan kebersamaan dengan orang tuanya, bukan karena KRL AC atau busway.

Kami pun menaiki bus yang lebih nyaman dan bersih dari pada transportasi lain itu sampai halte Ragunan. Ayah, abang, dan Ade tertidur di perjalanan. Sesampai di Ragunan kami memutuskan naik taksi. Ayah sepertinya sudah tidak sabar ingin istirahat. Abang dan Ade juga sudah lelah. Jadi, naik taksi sajalah... kasian...

Kami naik taksi ke UI. Setelah dari UI, kami menuju ke aki's house. Semua merasa puas. Terutama Abang dan Ade. Abang memang sudah biasa saya ajak jala-jalan menaiki transportasi umum. Baginya, jalan-jalan pada hari itu seperti nostalgia pada saat waktunya umi tercurah hanya untuk dirinya. Berbeda dengan Ade. Ade memang baru kali ini di ajak menaiki transportasi umum sejenis kereta dan bus. Bagi saya sendiri, rasa puas juga timbul karena Abang dan Ade tidak merengek-rengek minta beli ini dan itu seperti halnya yang biasa mereka lakukan jika kami pergi ke mall. Kalau kami pergi ke mall, pasti adaaaa saja yang di rasa kurang. Yup, kami sangat puas... . Hanya saja, untuk acara jalan-jalan kami kali ini, kok lebih merepotkan mengajak ayah daripada anak-anak ya... :p

Hari-hari Penting Bagi Fatih dan Ara

|

Fatih dan Ara selalu menantikan hari Sabtu-Ahadnya. Mereka menantikan hari itu karena umi dan ayahnya libur. Mereka bisa bersama umi dan ayahnya seharian. Di hari Sabtu dan Ahad, diusahakan tidak ada orang lain yang mengganggu. Hari itu hanya ada Umi, Ayah, Fatih dan Ara. Hari itu tidak ada asisten, tidak ada uwak yang menjaga Ara dan Fatih di kala umi ke kampus... Just us... Kecuali kalau umi dan ayahnya ada kerjaan tambahan di hari-hari tersebut.

Lalu kemana kami menghabiskan waktu? Salah satu tempat yang menjadi pilihan, pastilah mall-mall. Mall mana saja akan kami kunjungi asalkan perjalanan menuju ke sana tidak macet dan ada arena permainannya. Terus terang si umi suka agak risih juga mengakui hal ini karena sebelum menikah, si umi bercita-cita supaya anaknya tidak menjadi anak mall. Tetapi ternyata cita-cita itu harus kandas. Sebab, si umi sendiri yang nggak tahan kalau ngga ke mall. Anak-anak? ya, mereka pasti meniru perilaku orang tua :p

Setelah menghabiskan waktu di arena permainan di mall, biasanya kami pasti langsung pergi ke restoran. Alhamdulillah, restoran yang menjadi tempat favorit tidak selalu yang bermerek. Restoran manapun, asalkan makanannya enak, akan kami kunjungi.

Selain mall, ada tempat favorit yang biasa kami kunjungin di hari libur. Tempat yang dimaksudkan adalah rumah kakeknya anak-anak (rumahnya aki) yang berada tidak jauh dari rumah kami. Rumah aki menjadi tempat favorit karena anak-anak sepertinya begitu leluasa bermain di sana. Seperti di mall, anak-anak bisa lari ke sana, lari ke sini karena rumah aki jauh lebih luas dari pada rumah kami. Selain itu, ada hal lain yang membuat anak-anak senang mengunjungi rumah aki. Di sana ada mamih dan papih. Mereka adalah bude dan pakdenya anak-anak. Jadi, anak-anak merasa punya teman bermain yang baru-yang tidak biasa mereka temui pada hari senin s.d. Jumat. Umi dan ayah pun "bebas tugas" :p

Kemudian, sebenarnya ada tempat yang lebih asik lagi yang menjadi pilihan favorit kami: kamar depan. Ya, ruang kamar di rumah kami di depan sebenarnya menjadi pilihan yang paling menyenangkan. Di sana kami bisa bermain sepuasnya tanpa harus memakai pakaian rapih. Kami juga bisa berteriak-teriak sepuasnya. Segala sesuatu yang ada di kamar pun bisa menjadi permainan favorit. Sebut saja bantal dan guling yang bisa dijadikan senjata-senjataan, perut umi dan ayah atau betis umi dan ayah yang bisa dijadikan kuda-kudaan, kasur twin yang bisa bisa dijadikan tangga atau tempat peperangan. Di antara seluruh kegiatan di kamar depan itu, ada satu kegiatan yang kurang disukai oleh Fatih dan Ara tetapi paling disukai oleh si umi dan ayah: tidur bersama seharian =D

Pada intinya, hari Sabtu dan Minggu adalah waktu dimana kami harus senang, harus bahagia dan tidak boleh ngambek. Hal ini harus di tulis dan di ingat terus karena si umi suka merusak suasana dengan kebiasaan "ngambek ngga jelas"-nya. Jika yang ngambek adalah Fatih, wajar karena dia masih anak-anak. Tapi kalau yang ngambek adalah umi, itu bahaya karena si umi kan sudah menginjak usia dewasa. Jadi, umi harus berusaha lebih banyak untuk bisa mengontrol otaknya dan memilih yang terbaik buat anak-anaknya. Dengan begitu, umi pun tidak merusak hari-hari yang penting bagi anak-anaknya.

Cara Mudah Mengontrol Mulut

|
Beberapa tahun yang lalu, saya sempat merasa dunia ini sepi sekali. Padahal di sekeliling saya begitu ramai karena ada suami dan anak saya. Saya merasa ada yang hilang. Ya, saya kehilangan teman curhat.

Tetapi sebenarnya, teman saya itu juga tidak kemana-mana. Dia selalu ada. Kalau saya membutuhkannya, dia pasti menyediakan waktu untuk mendengarkan saya. Hanya saja, setelah menikah, waktu saya untuk curhat2an dengannya menjadi jauh berkurang. Apalagi setelah dia pergi ke Bandung.

Dampak dari perasaan kehilangan ini ternyata sangat negatif . Saya yang biasanya lebih suka diam dan tidak banyak berbicara, menjadi orang yang rajin mengoceh. Saya seperti pistol yang menembakkan pelurunya secara brutal ke segala penjuru. Siapa pun dia, dimana pun dia, akan menjadi sasarannya. Kasihan betul orang-orang yang ada di sekitar saya yang harus menjadi korban curhat colongan :p Jadi, hati-hati kalau mau makan siang sama saya. You, you harus siap jadi tempat sampah dari curhatan. Hehehehe... parah...

Alhamdulillah, sekarang mulut saya jadi jauh lebih terkontrol. Kalau saya ada beberapa cerita yang mau diungkapkan, tinggal nulis di blog ini. Mulut saya tidak hanya kekontrol dengan baik, dengan nge-blog, saya juga jadi bisa lebih sering berkomunikasi dengan teman saya yang sempat "hilang" itu ;)

8 Februari 2009

|
Hari ini berarti saya sudah menikah dengan suami saya selama 5 tahun. Suatu hal yang pasti, saya bersyukur memiliki suami sepertinya... I love him.

Itu saja catatan saya hari ini. Semoga cinta ini kekal hingga kami dipanggil oleh-Nya. Amin...

Enaknya Punya Rumah yang Tidak Terlalu Besar

|
Sejak sebelum saya menikah, saya tidak berkeinginan memiliki rumah yang besar. Alasan saya pada saat itu sederhana. Saya bingung merawat rumah yang besar, katakanlah rumah yang berdiri di atas tanah seluas 600 meter persegi, maka saya pasti akan sangat kelelahan. Sepertinya saya akan selalu mengeluh, bukannya bersyukur, walaupun suami sudah jumpalitan berusaha membantu saya.

Alhamdulillah, sekarang Allah telah memberikan rumah kepada keluarga kami yang berusaha untuk selalu menjadi keluarga bahagia ini. Rumah yang kami tempati tidak besar, juga tidak terlalu kecil. Alhamdulillah, rumah kami cukup baik dan cukup sehat untuk dijadikan tempat tinggal.

Saat saya dan suami saya menjumpai rumah kami yang mungil ini pada pertama kalinya, terus terang, saya dan suami saya terkejut. Bagaimana tidak? Ketika kami masuk kedalam ruangan tamu, kami langsung menemui ruangan dapur! :D Suami saya sempat ragu, saya pun seperti itu. Kami adalah dua orang anak bungsu yang biasa tinggal di rumah yang relatif besar--setidaknya kami tidak langsung menemui ruangan dapur pada saat memasuki ruang tamu. Sebagai anak bungsu, kami pun hanya tahu kondisi keluarga kami yang sudah mencapai taraf “mapan”. Jadi, kami sebagai orang tua yang sering kekanak-kanakan ini, sedikit terperangah juga karena ternyata hidup berkeluarga itu harus step... by... step... *kikikik... jadi inget lagunya NKOTB*

Alhamdulillah, kondisi pada saat itu memaksa kami untuk harus melakukan transaksi pembelian rumah. Jadi, suka tidak suka, mau tidak mau, saya dan suami saya harus beli rumah kami yang sekarang, karena, ya... kemampuan finansial kami memang baru dapat membeli rumah yang tidak besar dan bukan yang besar :D Tetapi, Allah memang mengetahui apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya. Walaupun tidak besar, saya, suami saya, serta anak-anak saya, merasa sangat nyaman untuk tinggal di rumah kami yang “kecil” ini. Ada beberapa alasan yang membuat kami, terutama saya, menjadi sangat mensyukurinya:

1. Tidak perlu panik pada saat pembantu cuti.
Pembantu mudik atau cuti? Tak apalah... Itukan haknya dia. Rumah saya mah tangung jawab saya dan suami saya. Karena rumahnya “kecil”, saya dan suami mah bisa lebih bikin lantai dan perabotan rumah jadi kinclong. Tinggal srat-sret-srat-sret :p Rumah bersih, kita pun menjadi nyaman.

2. Dapat mengontrol anak-anak pada saat bekerja di rumah.
Misalnya, pembantu tidak ada dan saya lagi menyetrika, anak-anak menangis. “OEK!”, “MIIII....”. Dengan beberapa langkah saja saya langsung bisa menghampirinya, tanpa lupa mematikan setrikaannya. Lalu, misalnya, Fatih yang lagi senang bersepeda juga masih dapat dikontrol, walaupun pada saat yang bersamaan saya sedang menemani Ara latihan berjalan. Wong kita nguplek aje di satu ruangan :D Jadi, frekuensi teriakan memanggil anak-anak yang biasanya terjadi di rumah sang kakek yang jauh lebih besar dari rumah saya menjadi lebih berkurang. Dunia kami pun menjadi lebih tenang. *walaupun tetap lebih berisik dari pada tetangga, kayaknya.*

3. Dapat mengontrol barang belanjaan sesuai dengan kebutuhan
Melihat barang-barang yang lucu di mall? Karena rumah saya kecil, saya harus berpikir ulang untuk membelinya. Biasanya ada beberapa pertanyaan yang berkelebat di otak saya:

Pertanyaan pertama, barang itu dibeli untuk apa?
Pertanyaan kedua, barang itu harganya berapa?
Pertanyaan ketiga, barang itu mau ditaruh dimana?

Nah, Biasanya pertanyaan ketiga membuat saya urung membeli banyak barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Ini sangat menguntungkan bagi saya terutama pada saat dompet saya semakin menipis di akhir bulan. Jadi, saya tidak perlu memakai kaca mata kuda kalau pergi ke mall.

4. Saya lebih peduli terhadap kebersihan rumah hingga rumah harus terbebas dari kehadiran kecoa dan tikus.
Waktu di rumah orang tua saya, terus terang, saya tidak peduli jika ada tikus bernyanyi keras-keras di dapur. “Ciiit, cit cit ciiiiiit”, mereka berbunyi nyaring seperti itu baik pagi, siang atau malam hari. Suaranya tidak terlalu mengganggu saya, walaupun sedikit mengganggu.

Berbeda pada saat tinggal di rumah “kecil” yang membuat posisi ruang tidur utama sangat berdekatan dengan dapur. Suara tikus membuat saya menjadi stress. Jadi, jika tikus dan juga kecoa hadir dirumah saya, segala persiapan dilakukan. Dan saya mengobarkan perang pada binatang-binatang yang tidak lucu itu. Saya bongkar semua lemari. Saya bersihkan semua perabotan saya yang hanya sedikit itu. Tikus dan kecoa pun hilang. Tentu saja, pekerjaan ini akan jauh lebih berat dilakukan jika rumah saya besar dan berperabot banyak, kan?

Jadi, rumah yang tidak terlalu besar memang menguntungkan. Rumah tersebut tidak hanya memberikan perlindungan buat penghuninya secara fisik dari segala cuaca panas dan dingin yang ada di luar sana. Rumah yang tidak terlalu besar juga memberikan keteduhan pada hati, terutama jika penghuninya selalu ingat untuk bersyukur kepada-Nya...

*Kedip2*

Saya Memiliki Dua Orang Anak yang Lucu dan Baik

|
Saya tersenyum melihat judul postingan kali ini. Siapa sih orang tua yang tidak mencintai anaknya? Apapun penilaian orang lain terhadap anaknya, orang tua yang baik akan tetap mengatakan bahwa anaknya-lah yang terbaik, anaknya lah yang terlucu, anaknya is the best! :)

Tidak hanya itu, saya juga tersenyum melihat judul postingan kali ini karena saya memang nyata telah memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Pada saat memiliki satu orang anak, yaitu anak yang laki-laki, saya merasa bahwa saya tidak mungkin memiliki anak lagi dalam waktu yang dekat mengingat saya sendiri sudah kerepotan menghadapi anak laki-laki saya yang nteu daek cicing (tidak mau diam).

Tetapi kemudian, saya menghitung-hitung umur saya. Saya kaitkan umur saya dengan perencanaan hidup saya dalam jangka 10 tahun yang akan datang. Ternyata pada saat itu, perencanaan hidup saya tidak ada yang terkait dengan memiliki bayi lagi. Saya jadi mempertanyakan diri saya sendiri. Apakah memang saya tidak ingin memiliki bayi lagi? Jawabannya tentu saja tidak. Saya kasihan dengan anak laki-laki saya jika ia menjadi anak tunggal. Keluarga kami pasti menjadi sangat sepi. Alhasil, saya-dan suami- memutuskan untuk memiliki anak lagi pada saat anak laki-laki kami berusia 2 tahun.

Alhamdulillah, perencanaan dan doa kami disambut baik oleh-Nya. Saya pun segera hamil pada saat itu. Seperti yang telah diperkirakan, orang-orang di sekitar saya tidak menyambutnya dengan senyum seindah senyum mereka pada saat saya hamil pertama kali. Lebih menyakitkan lagi, ada orang yang marah-marah dengan kehamilan saya. Saya dinilai sembrono, tidak memiliki perencanaan, tidak tahu mana yang lebih prioritas, dll.

Ada juga yang bertanya kepada saya, “nanti gimana? Fatih kan belum besar? Nanti kalo adeknya di gimana-gimana-in?” Setelah bertanya panjang lebar, orang itu langsung pergi dengan muka cemberut tanpa mempedulikan saya akan menjawab pertanyaannya atau tidak. Saya pun hanya dapat menahan rasa. Entah apa yang saya rasakan pada saat itu. Suatu hal yang pasti, saya berusaha tidak peduli dan tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk anak saya yang laki-laki dan janin yang ada di dalam kandungan saya :)

Pada saat anak yang kedua lahir, anak saya yang perempuan, hampir semua prediksi orang-orang yang ada di sekitar saya benar. Beberapa prediksi yang benar tersebut adalah:

1. Saya pasti repot.

Pertanyaan saya:
Siapa orang tua yang tidak repot jika memiliki anak? Jika tidak mau repot, ya tidak perlu lah menikah lalu memiliki anak.

2. Anak saya yang laki-laki pasti cemburu pada adiknya.

Kenyataannya pada saat ini:
Anak saya yang laki-laki memang pernah menangis dan meraung keras karena kegiatan saya hanya menyusui adiknya saja. Tetapi setelah saya peluk anak saya yang laki-laki, agak lama, dan menyatakan bahwa saya masih sangat menyayanginya, anak laki-laki saya menghentikan perilaku negatifnya. Bahkan, setelah itu, dia menyuruh saya untuk segera menyusui anak saya yang perempuan.

3. Anak saya yang laki-laki pasti melakukan hal-hal yang aneh terhadap adiknya.

Kenyataan pada saat ini:
Ya, benar. Banyak hal yang “mengerikan” yang dilakukan anak saya yang laki-laki terhadap adiknya. Dia pernah memukul adiknya, dia juga pernah melempar mainan terhadap adiknya, dan banyak perilaku agresif lainnya yang pernah ia lakukan karena ia cemburu. Prediksi orang-orang di sekitar saya memang benar. Tetapi saya memiliki beberapa pertanyaan:
- Apakah saya harus merasa bersalah karena memiliki anak perempuan yang cantik?
- Patutkah saya memiliki berpikir mengenai “andai waktu berulang kembali”?

Terus terang, saya tidak tahu apa-apa mengenai hal-hal yang kini sedang saya alami dalam hidup saya. Saya masih belajar. Walaupun saya pernah membaca dan dicekoki berbagai teori tentang tingkah laku manusia dan lingkungan, tetapi saya tetap merasa di titik nol. Mengapa? Karena yang sedang saya hadapi pada saat ini adalah manusia-manusia. Mereka unik. Mereka pun tidak cukup dihadapi dengan segepok teori, dan juga segudang cerita pengalaman. Saya pun sering mendapatkan masukan. Alhamdulillah.

Tetapi, tetap, masukan-masukan tersebut harus saya saring terlebih dahulu berdasarkan permasalahan dan kebutuhan anak-anak saya. Jika tidak bersesuaian dengan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak saya, maaf, saya akan mencari cara yang lebih baik untuk anak saya. Saya kan orangtuanya :) Saya sebagai orang tua harus bijak dan pandai memilih berbagai masukan-masukan dan tidak konsumtif terhadap berbagai hal yang berlabel “sayang anak! sayang anak!” :D

Di bawah asuhan orang tua seperti saya yang “ampuuuuuuun!” ini, alhamdulillah sampai saat ini anak-anak saya masih berkembang sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak yang semestinya. Anak saya yang perempuan pun, kini sudah berumur satu tahun. Ia sehat tetapi belum bisa berjalan sendiri. Dia masih belum percaya diri. Abangnya dulu juga seperti itu. Hal itu terjadi bukan karena sering digendong dan jarang diberi stimulus. Lagi pula, memangnya ada standar bagi bayi untuk harus lulus bisa berjalan di usia satu tahun? *garul-garuk*

Lalu, walaupun sering diganggu oleh abangnya, anak saya yang perempuan suka merasa kehilangan jika abangnya pergi main ke tempat lain tanpa dirinya. Ada cerita yang mengharukan mengenai hubungan anak saya yang laki-laki dan perempuan itu. Suatu hari, anak saya yang laki-laki pernah merasa badannya sakit dan demam. Dia mengatakan kepada saya bahwa badannya terasa lemas. Dia pun tertidur lama sekali karena pada saat itu ia memang kecapekan.

Pada saat anak saya yang laki-laki tidur pulas, anak saya yang perempuan menghampirinya. Mungkin anak saya yang cantik itu bingung, “kemana abang saya yang rame itu, ya?” Ia pun mengelus-elus pipi abangnya, dan tidak saya duga, anak saya yang perempuan itu mencium pipi abangnya berulang-ulang.


Infeksi Pikiran pada Dirinya, diri saya, dan jangan sampai pada dirimu!

|
Beberapa waktu yang lalu, ada seorang ibu yang tergolek lemah di rumah sakit. Setelah di cek secara keseluruhan, sebenarnya ibu yang sedang sakit itu tidak menderita penyakit apapun. Semua anggota tubuhnya bebas dari penyakit. Sang dokter mungkin merasa bingung bagaimana mengkomunikasikan permasalahan ini kepada sang ibu yang menjadi pasiennya. Ketika dokter tersebut mengemukakan bahwa sebenarnya seluruh bagian tubuh sang ibu sehat-sehat saja, sang ibu malah marah sekali. Sang ibu merasa bahwa ia merasa kesakitan, sehingga ia sangat kesal dinyatakan sehat oleh dokter yang memeriksanya. Pada akhirnya, sang dokter tidak pantang menyerah dan mencoba mengungkapkan kepada sang ibu bahwa sang ibu memang sakit dan mengalami infeksi, yaitu infeksi pikiran.

Penyakit infeksi pikiran yang dimaksudkan oleh dokter tersebut adalah psikosomatis. Hanya saja dokter tersebut mencoba mengkomunikasikan penyakit psikosomatis yang di derita sang ibu dengan bahasa yang bisa diterima oleh sang ibu yang menjadi pasiennya tersebut. Infeksi pikiran, menurut saya pun, memang terdengar lebih “medis” sehingga lebih “keren” jika disampaikan kepada sang ibu yang merasa yakin bahwa ada sesuatu di tubuhnya, dibandingkan istilah psikosomatis yang mungkin masih jarang diketahui oleh orang umum, salah satunya oleh sang ibu tersebut.

Setelah mendengar pernyataan dokter mengenai penyakit yang dialaminya, sang ibu merasa setuju. Ia memang merasa bahwa terlalu banyak hal yang dipikirkan olehnya. Ia juga merasa banyak sesuatu hal yang ada di masa lalunya yang masih teringat sampai saat ini dan begitu membekas. Pengalaman masa lalu yang dimaksudkan bukan masa lalu yang manis. Masa lalu yang diingat oleh sang ibu adalah pengalaman-pengalaman pahit yang membuatnya sering bersyukur karena keadaannya kini jauh lebih baik, tetapi juga merasa sedih karena harus mengalaminya. Jika dokter tersebut mengistilahkan psikosomatis tersebut dengan istilah infeksi pikiran, maka sang ibu punya istilah lain. Sang ibu bilang kepada saya jika pikiran-pikiran mengenai masa lalunya sudah “nuju”. Apa arti daru “nuju” itu? Saya tidak tahu.

Saya, pada saat itu, yang mengikuti secara langsung cerita tersebut menyelipkan rasa bangga di hati. Pasalnya, sayalah yang meyakinkan kepada salah satu pihak keluarga sang ibu bahwa penyakit yang dialami sang ibu adalah psikosomatis. Sehingga, saya sangat khawatir jika sang ibu selalu dicekoki berbagai obat yang tidak diperlukan oleh tubuhnya. Apalagi, pada saat itu, saya mendengar bahwa setiap kali sang ibu mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter, ia akan merasa sangat kesakitan.

Salah seorang anggota keluarga yang saya dekati pun mau mendengarkan pendapat saya. Ia langsung menelpon beberapa anggota keluarganya yang menjadi pengambil keputusan mengenai penyakit psikosomatis yang mungkin di derita oleh ibunya. Mereka pun bermusyawarah di antara sesama anggota keluarga, kemudian mereka pun bermusyawarah dengan dokter yang bertanggung jawab terhadap proses perawatan sang ibu. Hasilnya, sang ibu bisa pulang dari rumah sakit-setelah dirawat selama seminggu- dengan kondisi yang lebih baik karena ia telah mengetahui “jenis penyakit” yang selama ini telah menggerogotinya dan ia juga tidak lagi dicekoki oleh obat-obatan yang tidak diperlukan oleh tubuhnya.

Kebanggaan saya terhadap salah satu upaya kecil yang pernah saya lakukan untuk sang ibu dan keluarganya tersebut kini sirna. Bagaimana tidak? Saya menasihati orang lain mengenai penyakit psikosomatis dan bahaya yang bisa diakibatkannya. Ternyata, saya mengetahui di kemudian hari bahwa saya sendiri terkena penyakit yang sama.

Terus terang, saya merasa sangat bodoh. Apalagi psikosomatis yang saya alami tersebut telah berdiam di dalam diri saya sejak lama, bahkan sebelum cerita sang ibu dan dokternya tersebut berlangsung di panggung dunia ini. Saya juga semakin merasa bodoh karena saya sendiri merasa sangat sulit mengobati penyakit psikosomatis yang selama ini telah saya derita. Apalagi psikosomatis yang saya derita tersebut terasa telah menjadi sangat akut. Masya Allah... betapa diri saya menjadi begitu lemah karenanya. Saking lemahnya, berbagai penyakit pun merasuk ke dalam tubuh saya. Baik masuk angin (flu), biduren (gatal-gatal di kulit tubuh yang disebabkan oleh alergi terhadap sesuatu), asma, sampai dengan membengkaknya konka di hidung yang membuat telinga saya menjadi kurang berfungsi. *saya memang bodoh!*

Ternyata...

|
Astagfirullah…

ternyata blog ini hanya bisa dibuka di kampus! saya dah coba posting2 di tempat lain dari kemaren gak berhasil. Hampunnnnnn…

Tak apalah.

Saya mulai belajar berselingkuh dengan blog lain. Saya mau coba mengikuti jalurnya lulu yang punya 14 blog :D dan menjadi banci internet. Terus, kok ya nge-blog mulu. bikin tulisan ilmiahnya kapan? Mana janjimu? terus K2pi pegimane ceritanya?

*garuk2*

Sebentar, eike lagi menata hati, menata diri, kemudian menata kehidupan keluarga, selanjutnya baru bisa menata lingkungan. Insya Allah eike mo daftar sekolah lagi semester ini. Mudah-mudahan semuanya bisa berjalan dengan lancar dengan cara 1 dayung, 2, 3 pulau terlampaui. Amin. Nah, saya pun merencanakan akan mengerjakan K2Pi liwat jalur sutera sajah… Tak apalah. Banyak kok contoh orang2 yang berhasil di jalan sutera ini. Bisnis aja berhasil, kenapa k2pi ngga?

*kedip2*

Menjadi Manusia

|
Kadang, saya bingung. saya bingung sama diri saya. Kenapa saya itu suka menuntut orang lain untuk menjadi orang yang sempurna? Padahal saya tahu, kalau saya sendiri tidak sempurna. Saya hanya manusia biasa, yang pasti tak bisa melakukan sesuatu tanpa cacat. Saya memang manusia, dan saya bukan malaikat.

kebingungan saya semakin bertambah jika ada manusia lain di luar saya yang juga menuntut saya menjadi malaikat. Saya bingung. Saya amat sangat bingung. Saya menuntut orang lain, orang lain juga menuntut saya. Kita saling menuntut. Energi kita pun terkuras hanya karena merasa bahwa tuntutan kitalah yang paling benar. Kita lupa bahwa kita hanya diberikan tugas yang sederhana dari sang Pencipta: berlomba-lomba melakukan kebaikan.

Berlomba-lomba melakukan kebaikan? Dengan cara apa? Ya, sederhana saja. Rasulullah pun memberikan contoh yang sederhana. Apa yang paling sederhana? kita hanya diminta untuk tersenyum kepada orang-orang di sekitar kita. Lalu mengapa itu menjadi sulit untuk sebagian orang, salah satunya adalah saya? Karena, untuk tersenyum, sebuah kebaikan yang sederhana dan tidak mahal itu, ternyata sangat membutuhkan energi yang sangat besar bagi orang-orang yang hatinya seringkali begitu sempit seperti saya. Jadi apa kesimpulannya? saya harus bisa berusaha memperluas hati saya.

Kemudian pertanyaan yang harus diajukan adalah, bagaimana memperluas hati yang sempit, plus membersihkan hati yang dekil and d kumel seperti hati yang saya miliki? Jawabannya adalah berdoa kepada sang Pencipta, Allah SWT, yang menciptakan hati kita itu sendiri. Saya harus berusaha mendekatkan diri lagi dengan-Nya. Hanya Allah yang bisa melapangkan hati kita, membersihkan hati kita, kemudian memberikan cahaya-Nya kepada hati kita. Lainnya? tidak ada yang bisa melakukannya.

Allah SWT, berdasarkan pengetahuan saya yang masih sangat terbatas ini, juga tidak hanya Maha Besar dan Maha Kuasa dalam memberikan hasil celupan yang indah pada hati kita. Allah SWT juga memiliki kekuasaan yang Maha Besar dalam menjaga hati kita, yang sering kali terbolak-balik bagaikan sehelai daun yang ditiup angin di tengah padang pasir. Jadi, kenapa saya harus banyak menunda. Saya harus segera kembali kepada-Nya. Saya harus menihilkan tuhan-tuhan lain di dalam hati saya, salah satunya adalah tuhan yang berwujud pendapat orang lain mengenai diri saya, dan keluarga saya, sehingga saya ingin sekali tampak menjadi manusia yang sempurna.

Hmmm...

|
kalo pikiran terinfeksi… tangan jadi mampet. bingung mau menulis apa…

Impetigo

|
dear all temans…

akhirnya saya bisa curhat lagi nih. sebulan ini memang ada banyak pekerjaan, tapi ada satu pekerjaan yang sebenarnya lebih berat dan menyita perhatian: ara sakit impetigo.

duh, saya sediiiih banget. permasalahannya, impetigo itu membuat kulit ara menjadi banyak bisul2 kecil seperti borok. penyakit ini dikarenakan air mandi yang tidak bersih. konon, daerah perumahan tempat saya tinggal adalah daerah persawahan.

Dulu, fatih juga pernah seperti itu. cuma, karena saya diberi antibiotik oleh dokter, fatih cepat sembuh. dokter memberikan obat antibiotik buat fatih karena memang penyebab penyakit itu adalah bakteri. plus, saya juga pada saat itu masih dalam masa kegelapan. Jadi, saya hiya aja kalo dikasih obat antibiotik.

ternyata setelah konfirmasi ama ibu -ibu ria- yang aktif di milis beingmom, obat antibiotik itu adalah solusi terakhir. Pengobatannya harus tetap diusahakan rasional, tidak menggampangkan pemberian antibiotik untuk anak. Alhamdulillah, dokter yang saya temui, dokter Huda di Hermina, juga merupakan dokter yang rasional. Jadi, dia tidak memberikan antibiotik untuk ara.

Awalnya saya sudah mau menyerah. Apalagi, pengasuhnya ara suka ngotot kalu itu adalah cacar :(( walhasil, ara tidak dimandikan. menyebarlah bisul-bisul bernanah itu dipunggungnya, lengannya dan dadanya… saya ingin sekali menangis. Terutama saat malam tiba :((

Saya akhirnya memutuskan untuk ke dokter lagi. Yang terakhir adalah dokter Rastra, di Hermina juga, di klinik Aulia juga. Alhamdulillah, beliau masih muda tetapi mau bersikap rasional. beliau tidak memberikan obat antibiotik untuk ara *tidak seperti yang saya harapkan, terus terang…*

pada saat itu, dokter rastra memotivasi saya untuk tetap menjaga kebersihan ara. Hal yang paling penting adalah, memandikan ara, walaupun dia cacar, katanya. beliau juga mengingatkan pengasuhnya ara untuk selalu memandikan ara 3 kali sehari. Saya sangat menyukai cara dokter rastra menasihati saya dan pengasuhnya ara. Dia sangat tidak sok pintar dan ramah sekali.

Satu masukan tambahan dari dokter rastra adalah, saya tidak boleh membalut badan ara yang terkena impetigo. Itu dikhawatirkan akan membuat ara yang gendut menjadi cepat berkeringat, walaupun di ruang ber-AC. Pokoknya, Ara harus bersih, sih, sih. Kalo keringat, di lap. Begitu seterusnya. Jika ara mau menggaruk bisul2nya yang membuat dia merasa gataaaal sekali. Saya harus berusaha mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Jadi, kalau malam tiba, saya harus siap begadang.

Alhamdulillah, ara sekarang sembuh dari impetigo. kulitnya jadi muluuuus lagi. Alhamdulillah :)) saya bahagia sekali :))

terimakasih to mbak ria…

trimakasih to beingmom…

i love you all…