Ketika Kesunyian Memanggil

|
Duduk diam, terpaku pada indahnya air danau yang sunyi. Ditambah dengan pepohonan berjejer rapi begitu menyatu dengan langit biru putih. Indah. Kami menarik napas dalam-dalam. Ia, sahabatku, berkata dalam puisinya... malu...

Ada beban berupa persoalan tidak begitu rumit seperti hari ini. Namun kami merasa butuh sekali ketenangan, kesunyian itu, hingga damai datang menghampiri.

Kami tersenyum pada indahnya hamparan air dan tetanam di sana. Masjid yang tua itu pun turut tunduk. Kami semakin merasa rendah hati...

Kerinduan yang mendalam pada ketenangan hati saat bersujud menjadi-jadi. Kami cinta pada-Nya... Kami pun tahu bahwa beban ini akan terurai oleh kekuasaan-Nya...

Lantas sahabat berucap. Kadang bibir ini tidak memiliki pilihan selain tertutup serapat-rapatnya dan mendengarkan... Ada bisikan dari hati bahwa hatinya sangat jernih dan mampu dijadikan cermin

Lalu bagaimana dengan hati diri sendiri yang seringkali berkata dalam kesunyian itu? Tiba-tiba sang hati kembali menghibur, "aku masih hidup..." Namun kemudian ia berbisik lagi, lirih sekali, "bantu aku..."

Tiba-tiba ada air yang muncul diujung mata. Sedikit demi sedikit ia berjatuhan. Alirannya membasahi pipi dan juga hati ini yang kian mengusam. Sahabat berkata, "bacalah, sayang..."

Hati yang sebelumnya terasa kaku karena selimut debu yang mengerak lamban bergerak. Ia melembut kemudian berjalan ke arah cahaya dimana tanda-tanda itu ada tanpa mampu berdalih lagi...

*i miss u all, my bestfriends...*

0 comments: