Sejak sebelum saya menikah, saya tidak berkeinginan memiliki rumah yang besar. Alasan saya pada saat itu sederhana. Saya bingung merawat rumah yang besar, katakanlah rumah yang berdiri di atas tanah seluas 600 meter persegi, maka saya pasti akan sangat kelelahan. Sepertinya saya akan selalu mengeluh, bukannya bersyukur, walaupun suami sudah jumpalitan berusaha membantu saya.
Alhamdulillah, sekarang Allah telah memberikan rumah kepada keluarga kami yang berusaha untuk selalu menjadi keluarga bahagia ini. Rumah yang kami tempati tidak besar, juga tidak terlalu kecil. Alhamdulillah, rumah kami cukup baik dan cukup sehat untuk dijadikan tempat tinggal.
Saat saya dan suami saya menjumpai rumah kami yang mungil ini pada pertama kalinya, terus terang, saya dan suami saya terkejut. Bagaimana tidak? Ketika kami masuk kedalam ruangan tamu, kami langsung menemui ruangan dapur! :D Suami saya sempat ragu, saya pun seperti itu. Kami adalah dua orang anak bungsu yang biasa tinggal di rumah yang relatif besar--setidaknya kami tidak langsung menemui ruangan dapur pada saat memasuki ruang tamu. Sebagai anak bungsu, kami pun hanya tahu kondisi keluarga kami yang sudah mencapai taraf “mapan”. Jadi, kami sebagai orang tua yang sering kekanak-kanakan ini, sedikit terperangah juga karena ternyata hidup berkeluarga itu harus step... by... step... *kikikik... jadi inget lagunya NKOTB*
Alhamdulillah, kondisi pada saat itu memaksa kami untuk harus melakukan transaksi pembelian rumah. Jadi, suka tidak suka, mau tidak mau, saya dan suami saya harus beli rumah kami yang sekarang, karena, ya... kemampuan finansial kami memang baru dapat membeli rumah yang tidak besar dan bukan yang besar :D Tetapi, Allah memang mengetahui apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya. Walaupun tidak besar, saya, suami saya, serta anak-anak saya, merasa sangat nyaman untuk tinggal di rumah kami yang “kecil” ini. Ada beberapa alasan yang membuat kami, terutama saya, menjadi sangat mensyukurinya:
1. Tidak perlu panik pada saat pembantu cuti.
Pembantu mudik atau cuti? Tak apalah... Itukan haknya dia. Rumah saya mah tangung jawab saya dan suami saya. Karena rumahnya “kecil”, saya dan suami mah bisa lebih bikin lantai dan perabotan rumah jadi kinclong. Tinggal srat-sret-srat-sret :p Rumah bersih, kita pun menjadi nyaman.
2. Dapat mengontrol anak-anak pada saat bekerja di rumah.
Misalnya, pembantu tidak ada dan saya lagi menyetrika, anak-anak menangis. “OEK!”, “MIIII....”. Dengan beberapa langkah saja saya langsung bisa menghampirinya, tanpa lupa mematikan setrikaannya. Lalu, misalnya, Fatih yang lagi senang bersepeda juga masih dapat dikontrol, walaupun pada saat yang bersamaan saya sedang menemani Ara latihan berjalan. Wong kita nguplek aje di satu ruangan :D Jadi, frekuensi teriakan memanggil anak-anak yang biasanya terjadi di rumah sang kakek yang jauh lebih besar dari rumah saya menjadi lebih berkurang. Dunia kami pun menjadi lebih tenang. *walaupun tetap lebih berisik dari pada tetangga, kayaknya.*
3. Dapat mengontrol barang belanjaan sesuai dengan kebutuhan
Melihat barang-barang yang lucu di mall? Karena rumah saya kecil, saya harus berpikir ulang untuk membelinya. Biasanya ada beberapa pertanyaan yang berkelebat di otak saya:
Pertanyaan pertama, barang itu dibeli untuk apa?
Pertanyaan kedua, barang itu harganya berapa?
Pertanyaan ketiga, barang itu mau ditaruh dimana?
Nah, Biasanya pertanyaan ketiga membuat saya urung membeli banyak barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Ini sangat menguntungkan bagi saya terutama pada saat dompet saya semakin menipis di akhir bulan. Jadi, saya tidak perlu memakai kaca mata kuda kalau pergi ke mall.
4. Saya lebih peduli terhadap kebersihan rumah hingga rumah harus terbebas dari kehadiran kecoa dan tikus.
Waktu di rumah orang tua saya, terus terang, saya tidak peduli jika ada tikus bernyanyi keras-keras di dapur. “Ciiit, cit cit ciiiiiit”, mereka berbunyi nyaring seperti itu baik pagi, siang atau malam hari. Suaranya tidak terlalu mengganggu saya, walaupun sedikit mengganggu.
Berbeda pada saat tinggal di rumah “kecil” yang membuat posisi ruang tidur utama sangat berdekatan dengan dapur. Suara tikus membuat saya menjadi stress. Jadi, jika tikus dan juga kecoa hadir dirumah saya, segala persiapan dilakukan. Dan saya mengobarkan perang pada binatang-binatang yang tidak lucu itu. Saya bongkar semua lemari. Saya bersihkan semua perabotan saya yang hanya sedikit itu. Tikus dan kecoa pun hilang. Tentu saja, pekerjaan ini akan jauh lebih berat dilakukan jika rumah saya besar dan berperabot banyak, kan?
Jadi, rumah yang tidak terlalu besar memang menguntungkan. Rumah tersebut tidak hanya memberikan perlindungan buat penghuninya secara fisik dari segala cuaca panas dan dingin yang ada di luar sana. Rumah yang tidak terlalu besar juga memberikan keteduhan pada hati, terutama jika penghuninya selalu ingat untuk bersyukur kepada-Nya...
*Kedip2*
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



4 comments:
duh, kapan ya eike pindah ke rumah mungil milik sendiri? kontrakanku yang sekarang, aje gile buset dah gede bo. makanya males ngepel, manaan dapur terpisah di luar *keluh*
dalam waktu dekat Insya Allah, ya... ;)
yup... setuju Sar. Aku juga (belajar dari pengalaman rumah ortu dahulu) nggak pingin punya rumah besar, juga nggak pingin punya halaman rumah yang besar juga. Susah ngerawatnya n jadi tergantung ama pembokat. Dah gitu, kalo manggil orang2, kalo pulsa lagi nggak ada, terpaksa harus teriak-teriak. Punya rumah besar itu enaknya sambil dibarengin dengan buka pangkalan ojek pas dimuka pintu rumah. jadi, kalo pulang dari bepergian mau ke kamar tinggal naik ojek deh biar cepet sampai hehehe...
wadduh... ada komennya mbak ade... maap mbak... baru buka :p
iya mbak... tapi teteub, rumahnya mbak ade yang sekarang mah dua kali rumahnya sayah.... hehehehe... =)
Posting Komentar