Kadang, saya bingung. saya bingung sama diri saya. Kenapa saya itu suka menuntut orang lain untuk menjadi orang yang sempurna? Padahal saya tahu, kalau saya sendiri tidak sempurna. Saya hanya manusia biasa, yang pasti tak bisa melakukan sesuatu tanpa cacat. Saya memang manusia, dan saya bukan malaikat.
kebingungan saya semakin bertambah jika ada manusia lain di luar saya yang juga menuntut saya menjadi malaikat. Saya bingung. Saya amat sangat bingung. Saya menuntut orang lain, orang lain juga menuntut saya. Kita saling menuntut. Energi kita pun terkuras hanya karena merasa bahwa tuntutan kitalah yang paling benar. Kita lupa bahwa kita hanya diberikan tugas yang sederhana dari sang Pencipta: berlomba-lomba melakukan kebaikan.
Berlomba-lomba melakukan kebaikan? Dengan cara apa? Ya, sederhana saja. Rasulullah pun memberikan contoh yang sederhana. Apa yang paling sederhana? kita hanya diminta untuk tersenyum kepada orang-orang di sekitar kita. Lalu mengapa itu menjadi sulit untuk sebagian orang, salah satunya adalah saya? Karena, untuk tersenyum, sebuah kebaikan yang sederhana dan tidak mahal itu, ternyata sangat membutuhkan energi yang sangat besar bagi orang-orang yang hatinya seringkali begitu sempit seperti saya. Jadi apa kesimpulannya? saya harus bisa berusaha memperluas hati saya.
Kemudian pertanyaan yang harus diajukan adalah, bagaimana memperluas hati yang sempit, plus membersihkan hati yang dekil and d kumel seperti hati yang saya miliki? Jawabannya adalah berdoa kepada sang Pencipta, Allah SWT, yang menciptakan hati kita itu sendiri. Saya harus berusaha mendekatkan diri lagi dengan-Nya. Hanya Allah yang bisa melapangkan hati kita, membersihkan hati kita, kemudian memberikan cahaya-Nya kepada hati kita. Lainnya? tidak ada yang bisa melakukannya.
Allah SWT, berdasarkan pengetahuan saya yang masih sangat terbatas ini, juga tidak hanya Maha Besar dan Maha Kuasa dalam memberikan hasil celupan yang indah pada hati kita. Allah SWT juga memiliki kekuasaan yang Maha Besar dalam menjaga hati kita, yang sering kali terbolak-balik bagaikan sehelai daun yang ditiup angin di tengah padang pasir. Jadi, kenapa saya harus banyak menunda. Saya harus segera kembali kepada-Nya. Saya harus menihilkan tuhan-tuhan lain di dalam hati saya, salah satunya adalah tuhan yang berwujud pendapat orang lain mengenai diri saya, dan keluarga saya, sehingga saya ingin sekali tampak menjadi manusia yang sempurna.
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



0 comments:
Posting Komentar