Suatu hari di sebuah mall kecil. Abang dan Ara memilih permainan yang ada dihadapannya dengan leluasa. Mereka terlihat asik sekali. Terutama abang. Dia mengendarai mobil mainannya seperti yang sudah ahli menyetir mobil. Dia mainkan persenelingnya dengan lincah. Mobil yang ia kendarai bergerak maju dan mundur dengan mulus, sesuai kehendaknya. Adiknya, Ara, lebih memilih untuk memegang erat kuda-kudaan dan mengamati anak-anak yang lain.
Semua anak di tempat bermain itu memang terlihat gembira. Di tengah taman bermain yang didesain menyerupai taman kota, anak-anak tertawa riang. Ada beberapa di antara mereka yang menangis. Ada juga yang menekuk bibirnya karena suatu hal. Sepertinya ia kesal karena mainan yang ia incar masih dipergunakan oleh anak yang lain.
Semuanya terasa indah. Apalagi pendingin ruangannya pun berfungsi sempurna. Semua yang bermain di sana tidak ada yang kepanasan walau matahari di luar sana begitu terik.
Saya amati sekeliling ruang bermain itu. Setiap sisi dinding tidak hanya berhiaskan berbagai macam karakter khas anak-anak. Warna catnya di atur sedemikian rupa hingga menyerupai langit biru dan awannya.
Saya mengarahkan pandangan saya ke atas. Sungguh pemandangan yang tidak menyenangkan. Yang terlihat hanyalah kabel-kabel dan lorong pendingin yang berwarna kelabu dan hitam. Kontras sekali dengan warna indah yang disuguhkan sisi dinding ruangan.
Tangan kecil Ara menggapai salah satu bagian kakiku. Dia tersenyum cantik. Dia pun turut mendongakkan kepalanya. Dia bilang, "Umi... Unga...". Saya mengikuti arah matanya. Saya lihat benda warna-warni yang ada tepat di atas kepala kami: rangkaian bunga plastik.
Saya tersenyum semanis mungkin pada Ara. "Iya, sayang... bunga..." Tiba-tiba hati saya menjadi sedih. Saya jadi teringat pohon kenari yang diawetkan di film Ice Berg. Pohon itu begitu indah. Ia berdiri sendiri di tengah gedung pencakar langit. Ia nampaknya adalah tumbuhan terakhir yang tersisa. Oleh karenanya diawetkan...
Hm, ketakutan yang terlalu berlebihan, ya?
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



0 comments:
Posting Komentar