Jatuh tak tersadar
ada suara ceracau terdengar...
jauh samar
pilu, sayang saru oleh ketukan yang kian membuar
Kuikuti iramanya
ia pun mewujud dalam nada
ku bangkit dan lakukan tarian
layaknya lakon Totto Chan
Dalam bayang sekelebat
gerak putar semakin cepat,
aku tak terlihat
dan tersembul gelembung tentang kisah jiwa Tuhan yang pernah kudapat
Degup jantung terlepas
hingga tak tersisip ruang napas
sua setitik embun, aku terpaku
luluh, bukan hancur karena alu
Beningmu
menentramku
sederhana namun tak malu
dan tak memaku-maku
Lagi, mengejar asa
ketukan itu kerap saja menggoda
bola mata ku pun bergerak ke sana
ku pun ingin berteriak tapi terhimpit sempitnya ruang hampa...
Bukan hanya nyalanya warna merah di mata
juga bukan warna hitam kelam di tubuh besarnya
ada lidah panjang nan lebar tlah menjulur dan melilit-lilit
begitu kencang dan hisap daya di setiap lekuk tubuh yang kian sikit
Menitik air di ujung mata kian deras
cermin pantulkan wajah yang pias
Kamu pun pernah berujar
Warna coklat di mataku telah pudar...
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



0 comments:
Posting Komentar