Antara aku, dia, dia, dan diri-Nya...

|
Dengannya,
Ku mencoba membaca semua cerita
Menyusurinya perlahan
Berharap jawabanNya tak lama tertahan...

Hingga akhirnya,
Dia kan hadir melengkapi yang kurang
Kukatakan pada belahan jiwa
Ia telah datang

Maka kuminta padanya yang kusayang
Tolong tuliskan cerita indah yang pernah kita punya
Dengan keseluruhan hati,
Ia bentangkan kisah itu dengan begitu indah:


"Sebagaimana Peziarah......."
(oleh: Nazla Luthfiah, 2004)

Sebagaimana peziarah, demikianlah kita tertawan kerinduan
pada langit yang senantiasa berubah-ubah warna
Kita kemas puluhan cemas dalam kantung mata
Dalam tiap perjalanan yang asing, menetes mereka
di sela-sela jari lalu menggumpal menjelma danau

Kita terus saja berjalan, sebab katamu kau ingin
terbang tapi sayap dipunggung hanya sebelah
dan sebagaimana peziarah, kita sampirkan
ayat-ayat do'a di kepala
menafsirkan tanda mencari-cari sebelah sayap yang hilang

Kita tebar ayat-ayat do'a dipermukaan gelombang hingga bening
lalu kita terpaku, sebab disanalah, di dasar danau air mata itu,
tergolek sebelah sayap memanggil-manggil namamu penuh rindu
Engkau gegas menggapai sayap gelepai itu. Kemudian kau peluk aku,
kawan ziarah dalam menapaki jalan kerinduan. Kau menatapku
dan berkata, sayang, sekarang aku harus terbang!

Begitulah, kusaksikan kau layang menembus langit senja
yang senantiasan berubah-ubah warna: biru-jingga, biru-jingga

0 comments: