Hengki blengki

|
Saya bingun mau nulis apa. Ada banyak draft tulisan. Semua draft saya simpan saja tanpa penyelesaian yang baik. Mereka terlantar begitu saja.

Saya kembali merasa mampet. Danau Science Park yang indah itu pun tidak dapat diceritakan dengan baik. Semua menjadi macet. Sepertinya ini terjadi karena saya memang sedang mreformat isi otak dan hati. Ya. Mungkin itu jawabannya.

What ever it is, saya merasa lega karena setidaknya hari ini saya sudah membuat sedikit tulisan. Walaupun tulisan ini tak begitu berarti...

Rindu pada Indahnya Kesejukan

|
Saya kembali lagi bercermin... Kali ini tidak pada indahnya danau di science park... Saya bercermin di sudut ruang yang kosong pada sebuah cermin kecil... Sendiri.

Ada yang hilang pada diri saya. Saya pernah menyadarinya... terlalu sering, bahkan. Sebelah sayap saya juga pernah mendengar keluhan ini... Belahan jiwa pun pernah menyampaikannya. Saya sendiri hanya mengamati apa yang saya sampaikan, apa ia sampaikan, tanpa berbuat sesuatu yang berati... Ya, saya memang terlalu lamban dan terlalu sibuk mencari hal lain yang bukan seharusnya menjadi perhatian saya...

Salah Satu Rasa Indah yang Ku Rasa

|
Kerinduan pada wajah-wajah manis itu sering kali tak terbendung. Kaki ini ingin sekali segera berlari, menuju rumah dan menyaksikan sambutan hangat dari mereka. Ara bersorak dengan gaya khasnya yang menggemaskan. Ia belum bisa melompat. Tetapi ia berusaha menggerakkan seluruh tangan dan dadanya, naik turun, sambil berteriak: “ayyya yayayaya... mimimimimi..”. Fatih langsung berlari ke luar rumah menghampiri saya. Kadang jika hujan turun, ia hanya mengintip kedatangan saya dan suami saya dari balik daun pintu atau jendela. Ia pun berteriak ke arah adiknya, “umi pulang, Ra! Umi pulang! Lihat!”. Ara pun, seperti yang sudah mengerti apa yang disampaikan abangnya langsung berteriak dan berlari ke arah pintu... menyambut umi dan ayahnya...

Rindu... rasa ini tidak bisa memberikan toleransi terhadap jarak yang kadang memisahkan saya dan mereka. Saya benar-benar ingin sekali berlari dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah, tanpa rintangan yang menghalangi. Pipi pada wajah-wajah mungil yang penuh dengan keceriaan itu ingin segera saya sentuh dengan kedua tangan ini. Lalu saya ingin menciumi mereka dalam-dalam, penuh kehangatan, penuh kasih sayang. Saya betul-betul mencintai mereka.

Jarak yang kadang memisahkan saya dengan anak-anak lucu itu seringkali membuat saya bersedih. Tetapi saya sadar, saya tidak boleh terkalahkan oleh tubuh dan perasaan saya sendiri. Setidaknya, betapa pun penat yang saya telah rasakan, rasa bahagia juga sering terselip di dalam hati ini... Alhamdulillah, saya bahagia karena bisa merasa merindu... setiap hari... dan itu... sangat indah...

Fatih n Ara.... Umi loves U so much...

Senangnya Kalo Ada yang Perhatian...

|
Sore itu saya merasa sangat kesal dan ingin menangis keras-keras. Biasalah... perempuan kalo sedang mengalami "masa"-nya, banyak yang tidak bisa menahan emosi kalau disenggol sedikit. Termasuk saya. Jadi, sebelum sampai ke rumah, saya memutuskan untuk mampir dulu ke kantor suami untuk mencurahkan kekesalan hati. Tetapi, ternyata itu tidak cukup memuaskan saya... Sepulang dari kantor suami, saya masih merasa sedih.

Sampai di halaman rumah, saya sudah mendengar tangisan Ara yang keras. HUf... Saya pulang terlalu malam. Saya peluk Ara, kemudian saya cium abangnya. Seperti biasa, saya segera menyusui anak saya yang paling kecil setelah selesai membersihkan diri. Uwak yang mengasuh Ara pulang. Maka, di rumah hanya ada saya, Ara dan Abang.

Biasanya, Abang suka merengek-rengek karena tidak sabar untuk dibacakan buku cerita. Kali ini dia berbeda. Saya yang sedang menyusui adiknya malah dipeluk erat. Dia mencium pipi saya, kemudian bertanya, "umi, umi mikirin apa sih..."

Saya yang ditanya jadi agak kaget. Saya tahu anak saya yang sulung itu memang sangat perhatian. Dia sangat tahu setiap detil mengenai apa yang saya, ayahnya atau adiknya sukai atau tidak sukai. Misalnya, jika ada salah satu lagu disko kesukaan saya diputar di radio, dia akan teriak, "umi! ini kesukaan umi, kan?" Tapi, baru kali ini saya ditanya mengenai apa yang saya pikirkan... dan entah mengapa, saya langsung jujur menjawab, "umi lagi kesel ama temen umi..."

Lalu abang Fatih yang masih memeluk saya menyahut jawaban saya, "emang, temen umi jahat, ya?" Masya Allah... kok hati saya jadi berbunga-bunga mendengar jawabannya, ya? Saya langsung tersenyum dan menjawab, "Ngga kok Bang, dia nggak jahat, cuma ngeselin aja". Ara sudah tertidur dan saya segera melepaskan diri darinya, kemudian langsung memeluk abang Fatih...