Memilih sekolah ternyata bukan suatu hal yang mudah. Memilih sekolah berarti memilih lingkungan yang benar-benar sesuai dengan kaarkter anak. Dari gurunya, fasilitas sekolah sampai dengan teman2. Semuanya harus dipertimbangkan supaya anak2 tidak berperilaku sebaliknya dari yang diinginkan: menjadi cerdas dan soleh.
Alhamdulillah, Taman Kanak-kanak yang menjadi pilihan anak saya tidak mengecewakan. Setelah bersekolah, anak saya menjadi begitu bersemangat untuk belajar. Bahkan, ia merasa kecewa jika hari libur tiba. Hal ini membuat saya dan suami saya menjadi lebih bersemangat lagi untuk mencari lembaga pendidikan yang benar-benar berkualitas untuk masa depan anak-anak.
Otak saya semakin bekerja keras ketika beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah fakta bahwa sekolah yang "terkenal" tidak cukup menjadi modal bagi seseorang menuju kesuksesan. Tetap saja, orang tua lah yang memegang peranan untuk mengontrol motivasi belajar seorang anak. Jika teman-teman dan guru di suatu sekolah sudah memerankan fungsinya dengan baik, sementara orang tua tidak memberikan motivasi yang cukup untuk anak, maka hasilnya menjadi tidak maksimal. Setidaknya, orang tua harus tetap menjalankan fungsi kontrol terhadap anak-anaknya. jadi, orang tua tidak melepas anaknya begitu saja dan mempercayakan anaknya pada sekolah dengan prinsip: anak gua kan dah sekolah di tempat yang terkenal.
Saya setuju bahwa learning actually is a journey not a race. Prinsip ini sangat tepat diterapkan apabila orang tua atau para pemegang peran utama dalam proses pendidikan anak mengetahui bahwa anak-anaknya tidak mencapai target yang diinginkan. Misalnya, anaknya tidak masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan, anak tidak mencapai peringkat 1 di kelas atau di sekolahnya. Pada kondisi tersebut, orang tua dan guru atau lingkungan tidak tepat bila harus memberi hukuman dengan memberi sigma kepada anaknya, bahwa anaknya adalah bodoh. Karena, dari pengalaman kegagalannya tersebut, anak bisa belajar banyak hal.
Tetapi prinsip learning actually is a journey not a race sepertinya kurang tepat bila harus disandingkan pada saat anak sedang menjalani proses belajar. Mengapa? Karena saya berpikir, si anak pasti akan merasa terlena dalam "zona nyaman".
Jadi, beberapa hari yang lalu, saya pun berdiskusi dengan suami saya. "Ayah, sekolah itu mahal banget, tetapi murid-muridnya tidak dibiasakan berkompetisi, jadi ngga ada ranking. Kalau yang itu, kompetisinya ketat, terutama kompetisi di bidang akademik, tapi katanya anak-anak muridnya banyak yang stress". Suami saya menjawab, "yang membiasakan anak-anak berkompetisi aja, mi... Ayah ngga mau sama yang membuat anak-anak terbiasa dengan zona nyaman..."
Saya jadi berpikir, ya benar, zona nyaman memang membuat seseorang malas berpikir. Tapi, bagaimana kalau anak-anak menjadi stress? Berarti disinilah peran saya dan suami saya sebagai orang tua dengan tidak menambah beban anak. Sebaliknya, membantu dan memfasilitasi anak untuk melakukan manajemen stress yang mereka miliki pada saat mereka menghadapi permasalahan di lingkungannya.
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



0 comments:
Posting Komentar