Rasa Ada

|
Setiap manusia merasa
Nampaknya kesadaran seringkali tidak penuh
Maka tampilan diri pun seperti robot
Manusia lain juga seperti tak berjiwa
Padahal setiap makhluk ada punya ingin
Untuk dibelai
Dipeluk
Atau hanya sekedar disapa
Hingga mereka merasa ada

Pertanyaannya, apakah dirimu merasa ada?

Ingin Menjadi Orang Kaya

|
Sempat ada pikiran melintas. Aku ingin menjadi orang kaya. Bahkan lebih kaya dari pada orang kaya di Indonesia. Semua bisa di beli. Namun nyatanya kekayaan tidak selalu memberikan kebahagiaan.

Saya ubah lagi mimpi saya. Saya ingin jadi orang kaya. Tapi kekayaan saya tidak membuat saya menjadi budak uang. Saya tidak mau menjadi bingung bagaimana menghabiskan uang yang segunung setiap hari. Uang ada ditangan saya, bukan di hati saya... Sebagaimana Sayyidina Ali berdoa.

Mimpi itu kadang surut, kadang kembali sampai akhirnya saya bertemu seorang kaya raya. Ia miliki tanah berhektar-hektar. Namun masyarakat di sekitar tidak memiliki kesengsaraan karenanya. Sebaliknya, semua kekayaannya memberikan banyak manfaat bagi masyarakat sekitar. Tak ada pemuda yang menganggur. Ibu-ibu juga tak sempat bergunjing tentang orang lain. Para kepala rumah tangga juga memiliki kesibukan. Semua produktif.

Betapa indahnya hidup seperti itu, ya? Sang hartawan yang dermawan tersebut menyebut kegiatannya sebagai social entrepreneurship.

Hm... menggiurkan...

Tapi untuk sementara, saya syukuri saja yang ada pada saya saat ini. Saya sekarang sudah kaya kok. Saya punya suami yang sholeh dan anak-anak yang spesial. Saya punya kehidupan yang penuh keberkahan... ALhamdulillah.

:)

Permata Hati

|
Anak-anakku adalah permata hatiku. Layaknya permata, maka mereka indah dengan pancaran cahaya yang didapatkan dari sekitarnya.

Sebagai permata hati, maka begitulah para guru di TK itu memperlakukan anakku, Fatih. Mereka melihat ada banyak perbedaan padanya yang tidak dimiliki orang lain. Perbedaan-perbedaan tersebut diberi judul dengan “rasa ingin tahu yang besar”. Bukan dengan cap “anak nakal”, “anak jahil” atau “anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tua”.

Fatih, sebagaimana anak murid yang lain, adalah anak yang istimewa.
Jika ada kesalahan yang dibuat oleh Fatih, sang guru tidak serta merta menuliskan “catatan buruk” dalam buku penghubung. Sebaliknya, jika ada “sedikit” prestasi yang ditorehkan oleh anakku, maka ia akan segera melaporkan. Seperti salah satu tulisan indah yang tertera di dalam buku penghubung: “Fatih pintar sekali bahasa Inggisnya, bunda...”

Ah, andaikan... TK Permata Hati memiliki sekolah lain yang berjudul SD, SMP, SMU Permata Hati...