Jangan Sampai Itu Terjadi...

|
Suatu hari di sebuah mall kecil. Abang dan Ara memilih permainan yang ada dihadapannya dengan leluasa. Mereka terlihat asik sekali. Terutama abang. Dia mengendarai mobil mainannya seperti yang sudah ahli menyetir mobil. Dia mainkan persenelingnya dengan lincah. Mobil yang ia kendarai bergerak maju dan mundur dengan mulus, sesuai kehendaknya. Adiknya, Ara, lebih memilih untuk memegang erat kuda-kudaan dan mengamati anak-anak yang lain.

Semua anak di tempat bermain itu memang terlihat gembira. Di tengah taman bermain yang didesain menyerupai taman kota, anak-anak tertawa riang. Ada beberapa di antara mereka yang menangis. Ada juga yang menekuk bibirnya karena suatu hal. Sepertinya ia kesal karena mainan yang ia incar masih dipergunakan oleh anak yang lain.

Semuanya terasa indah. Apalagi pendingin ruangannya pun berfungsi sempurna. Semua yang bermain di sana tidak ada yang kepanasan walau matahari di luar sana begitu terik.

Saya amati sekeliling ruang bermain itu. Setiap sisi dinding tidak hanya berhiaskan berbagai macam karakter khas anak-anak. Warna catnya di atur sedemikian rupa hingga menyerupai langit biru dan awannya.

Saya mengarahkan pandangan saya ke atas. Sungguh pemandangan yang tidak menyenangkan. Yang terlihat hanyalah kabel-kabel dan lorong pendingin yang berwarna kelabu dan hitam. Kontras sekali dengan warna indah yang disuguhkan sisi dinding ruangan.

Tangan kecil Ara menggapai salah satu bagian kakiku. Dia tersenyum cantik. Dia pun turut mendongakkan kepalanya. Dia bilang, "Umi... Unga...". Saya mengikuti arah matanya. Saya lihat benda warna-warni yang ada tepat di atas kepala kami: rangkaian bunga plastik.

Saya tersenyum semanis mungkin pada Ara. "Iya, sayang... bunga..." Tiba-tiba hati saya menjadi sedih. Saya jadi teringat pohon kenari yang diawetkan di film Ice Berg. Pohon itu begitu indah. Ia berdiri sendiri di tengah gedung pencakar langit. Ia nampaknya adalah tumbuhan terakhir yang tersisa. Oleh karenanya diawetkan...

Hm, ketakutan yang terlalu berlebihan, ya?

Pinta ku...

|
"Abang, abang sedih ngga kalo umi meninggal?", tanyaku sore ini, secara tiba-tiba.

Abang menatapku, bola matanya membesar dan ia pun mengangguk-angguk. "Iya, umi...", jawabnya dengan nada yang pelan.

"Abang, kalau umi meninggal, abang doa buat umi, ya?" Pintaku, lembut... Anak sulungku yang masih berusia 4 tahun itu semakin menatapku lekat. Adiknya yang masih 1 tahun 10 bulan hanya mendengarkan. Kemudian Abang angkat bicara, "Umi, gimana? Abang ngikutin.."

Akupun melantunkan sebuah doa. Sebelumnya aku berniat untuk membacakan "doa untuk orang tua". Namun kemudian yang keluar dari mulutku adalah "doa sebelum makan". Aku dan anak sulungku tertawa terbahak-bahak... Ara, sang adik kecil yang sedari tadi turut menyimak, juga tertawa geli.

Lalu ku pinta dua orang anakku untuk mendengarkan "doa untuk orang tua" yang kan kubaca untuk mereka. Aku mengira anak sulungku akan mengikuti doa itu setiap kata demi kata. Ternyata dia hanya menyimak. Setelah ku selesai membacakan "doa untuk orang tua", anak sulungku membacakan artinya dengan lantang namun lembut...
"Ya Allah,
ampunilah dosaku...
Ampunilah dosa kedua orang tuaku...
Sayangilah mereka
sebagaimana mereka menyayangiku sejak aku kecil...
AMin..."


Allahu ya Rabbi... Hatiku tersentak. Aku benar-benar tak mengira ia akan membacakan artinya. Ya Allah, Alhamdulillah... Aku pinta anak sulungku untuk menghampiriku... Ku peluk erat tubuhnya dan tubuh adiknya yang mungil...