Aku dan Sendu

|
jadi, saat itu...
maaf jika aku harus pergi sendiri
menelusuri lorong kota
dalam gemerlap warna indahnya

biar ku tembus bersama rindu
meraih sisi manusia yang slama ini hanya cerita
dalam buku
dalam puisi

di sana aku terperangah bercengkerama
hati ku hati mereka
membicarakan Tuhan
lalu kesucian yang ada pada debu-debu

Ku coba raih
Matamu
Jemarimu
Asamu

Lalu kamu pun membalas
Menatapku kagum
Atas pakaian yang kukira tak lah mewah
tak lah istimewa

(iya...
Aku ingat lengan ibuku menarik kain ini dari atas tikar
"obral! obral!"
Ada yang menyeru seperti itu
)

Terpanggil suatu cerita sementara itu
Matamu bicara
Mungkin yang kukenakan
Bisa menutupi tubuh anakmu yang empat, atau lima, atau... sepuluh

Ku susuri lagi
perjalanan panjang dengan lampu hias yang indah
Hingga akhirnya aku kembali
Ke suatu tempat dimana kau pernah berada

Semua berbeda
Lebih apik dengan susunan batu yang menjulang berwujud rumah Tuhan

Kerapuhan sendu masa lalu masih ada
Tidak dengan keberadaan hatiku yang mungkin menghilang dan mengeras
Kemudian sedikit meleleh
menyaksikan sumur dalam yang hanya sejengkal tangan dari mulut pintu

Aku pening
Aku menangis
Aku memikirkan kamu
Bukan sendu kamu

Aku kehilangannya
atau mungkin meninggalkannya
atau menutupinya
Oleh sendu lain yang berbalut kesepian dan kepalsuan

Dalam Satu Tarikan Napas Terdalam

|
Pernahkah merasa
Tubuh menjadi ringan
Bebas
Seperti kapas sehelai saja

Menyusuri angin
Bermain dengan hembusan udara
Bersama dedaunan dan debu
Berputar-putar seirama

Semua berbahagia sampai gemericik air di kejauhan pun terdengar
Menemani riang hati yang tak henti tertawa
Tersenyum
Gembira

Hati jadi hadir tanpa sedih
Tanpa keraguan
Hidup saja
Tanpa curiga

Lalu seketika menapaki riak danau
Mengetuk-ngetuk air yang terpapar cahaya
Yang tidak silaukan mata
Hingga bosan mau merayap mendekat

Saat sepi menjauh
Awan putih di sana tawarkan satu sisinya
Meminta waktu sedikit
Supaya tubuh bisa berbaring di lembutnya air putih nan dingin

Sambil menatap kedamaian
Di danau hijau membiru
Yang gelombangnya berjalan tenang menuruti angin
Sampai merasuki kalbu yang sedang tak ingin diganggu...

Dum dum dum...*

|
Dum dum dum...

Menusia dan waktu
Bersama sifat
Keangungan dan kerapuhannya

Melenggang
Merasa
Menangis
Tertawa

Dum dum dum...


Setengah tak percaya
sosok dirinya dibalik indah puisinya

Dum dum dum...

Aku tahu
Kamu tahu
Semua tahu
Manusia...

Maka lihat tali yang kuat
Pegang erat-erat

Kedamaian hanya dari diri-Nya

Dum dum dum...

Aku berlari
Tergopoh-gopoh

Bertanya pada dirinya yang tersayang
Apa maumu, cinta?

“Hanya ingin keluarga yang tenang...”, jawabnya lembut dari hati terdalam

Iya,
Keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah...

Melayang
Terhempas lagi

Lalu berhasil menitikkan air mata...

Aku bahagia

Dum dum dum...

Masih tak percaya
Mungkinkah?

Dum dum dum...

Sehingga akhirnya terdalami kata-kata yang pernah begitu sering terucap

“Apabila ada kebenaran yang tersampaikan, sesungguhnya itu datang dari Allah...”

*terinsprasi dari blog temennya Lulu