Cara Mereka... Bukan Hanya Caraku...

|
Ada kebahagiaan ketika anak-anak mau memberikan kepercayaannya pada kita, orang tuanya. Mereka bersedia menceritakan apa isi hatinya. Maka, kusampaikan pertanyaan klasik ini pada anak sulungku yang tengah hangat memeluk tubuhku: "hari ini belajar apa, bang...?"

Kutatap matanya dan berharap ia menatap mataku juga. Lalu ia tersenyum malu dan mencoba untuk menatap mataku juga. Sekilas. Lalu matanya berputar-putar mengitari seluruh ruang kamar dan menjawab, sekenanya. "mobil, pesawat, motor, bebek...", katanya.

Aku menunggu dan sedikit memelas, memintanya menjawab dengan benar. Tetapi dia malah pergi meninggalkanku. Lalu meminta ayahnya untuk memandikannya.

Saat dikamar mandi, ku dengar ia berceloteh riang pada sang ayah. Ia ceritakan semua cerita di harinya. Hingga kemudian ia terlelap di tempat tidur didalam pelukan kasih ayahnya.

Aku cemburu.

Ayah hanya tersenyum atas perasaan yang melingkupi hatiku. Ia mencoba menjelaskan, "mungkin, menurutnya, ini memang pembicaraan yang hanya bisa dilakukan laki-laki dengan laki-laki...".

Iya, mungkin seperti itu. Seperti puteriku yang seringkali bersemangat membalas ciuman lembutku di pipinya... Namun, ia suka tersipu jika ayah yang melakukannya. Ia kan mengatakan, "maluuuuuuuuuuuuuu...", sambil menutup keduamatanya dengan tangan-tangannya yang cantik dan mungil.

Sejiwa

|
maka...

bukan ego dengan ego


namun...

jiwa dengan jiwa

karena kita adalah satu.

Dia Bisa Belajar

|
Banyak yang mengadukan, Fatih belajar kata-kata dan nyanyian yang tak enak didengar dari seorang anak miskin. Lalu, apakah aku harus melarangnya bermain dengannya? Nilai apa yang akan ia serap jika itu aku lakukan?

Aku berusaha untuk mempengaruhi temannya untuk berkata dan bernyanyi yang baik. Namun perilaku sang anak tidak memperlihatkan perubahan yang berarti, begitu pula Fatih.

Aku berkeluh kesah. Ayah tersayang berusaha untuk menengahi dan mengatakan, "dia anak yang pintar..."

Sore kemarin, saat aku bisa meluangkan waktu untuk anak-anak, ada kejadian yang menakjubkan. Fatih memberikan beberapa baju dan celana pada temannya yang tak berpunya itu. Dengan lembut ia berkata pada temannya, "kamu sudah ngga sabar mau pakai, ya? Pakai saja..." Sang teman bersorak gembira, matanya berbinar bahagia.

Aku terharu dan menceritakan peristiwa ini pada ayah. Ayah pun merasa bangga dan menanyakan alasan Fatih berperilaku demikian. Dengan sederhana, anakku menyampaikan:

"Ayah juga pernah ngasih baju ayah untuk kakaknya, kan?"