Surat untuk Sahabat

|
Kamu dan aku pernah terpana pada hamparan air hijau membiru
Gelombangnya tenang menghanyutkan
Hingga tubuh merasa
Kau dan aku pun malu

Kamu dan aku melihat lembutNya
Tersenyum kecil
Saksikan kita yang sering terombang ambing oleh asa
Menghibur melalui hangatnya senja

Lalu kita coba mencari kata
Paparan indah danau yang kian mengelam
Kau dan aku
Lalu bunyi keloneng kereta

Hingga ada ranting kering di tanah yang lembab
Kemudian pepohonan hijau yang pancarkan kesejukannnya
Kutarik napasku
Sampai pulih lukaku

Kita pun terdiam
Mungkin
Saat itu suatu hari nanti
Kita kan selalu baik-baik saja...

Mesin Pencari di Hati

|
Dalam sebuah mesin pencari. Ketik kata, judul, gaya, tujuan dan hal lain yang sesuai tema.

"Sari ingin menyelesaikan sekolah dengan baik, pada waktu yang sudah ditentukan"

Ketik lagi.

Keluarlah memori. Semangat hidup yang pernah menghidupkan kematian dan kehampaan. Mencari pendorong daya yang kuat.

Aku ingin menangis.

Ketik lagi.

Terbangunlah ranting-ranting syaraf yang telah melemah, ada yang patah dan bahkan hampir mati.

Prioritas. Prioritas.

Ketik lagi.

Aku ingin bahagia. Aku ingin sayang-Nya.

Ketik lagi.

Keluar memori visi dan misi yang pernah termaktub, tertulis dengan indah, lalu kemudian terkubur entah dimana.

Ketik lagi.

Damai di hati. Damai di pikiran. Damai dengan tubuhku. Damai dengan aura di sekelilingku.

Ketik lagi.

Aku ingin anak-anakku menjadi anak yang soleh. Suamiku yang mencintaiku bahagia kan hadirku.

Ketik lagi.

Ya. Aku hidup untuk diri-Nya

----------------------------------------------------------------------------------
Lalu benda apa yang selama ini begitu kuat menarik diriku kedalam lubang yang hitam dan gelap? Yang membuat diriku hanyut, diam, dan tenggelam?

Ku Ketuk Pintu

|
Sedang apa kamu?
Meratapi drama dan lagu

Buat Apa?
Merasa

Untuk siapa?
Saya

Pernahkah kamu bergunjing? Memakan daging saudaramu sendiri hingga mulut penuh dengan darah?
Aku malu, aku marah

Kepada siapa?
Saya

Mengapa?
Saya lupa kan diri-Nya

"Keluar Sari! Tunjukkan kalau kamu menang!"
Saya belum bisa. Saya tidak memiliki energi untuk berhadapan dengan manusia.

Mengapa?
Saya kecewa
Saya takut
Saya bingung


Pernahkah kamu mengalaminya?
Ya
Sering sekali

Penahkah kamu memetik manis hikmahnya?
Ya
Sering


Lalu masalahmu apa?
Saya butuh ruang dan waktu untuk diri saya sendiri
Untuk jiwa saya
Untuk misi saya

Significant Others

|
Dahulu, seorang paman pernah menanyakan cita-cita saya. Dengan lantang saya menjawab: "dokter gigi!". Lalu semua orang tergelak. Paman saya berkata, "Ngapain jadi dokter gigi? Meriksa jigong orang. Huahahahahahaha..." tawanya disambut dengan tawa orang sekitar. Saya tersentak. Mengiyakannya.

Lalu beberapa tahun lalu, saya tulis di secarik kertas sebuah cita-cita saya. Catatan itu buat saya pribadi. Bukan untuk diumumkan. Hanya ingin melihat dan menilai, pantas atau tidak jika saya menjadi seperti itu.

Tak sangka dan tak diduga. Ada yang melihat catatan "iseng" saya itu. Dia tertawa lalu memberi pengumuman mengenai apa yang saya tulis. Ia juga mempertanyakan kebenaran catatan saya lalu menegaskan dirinya yang memisahkan konsep ibadah dengan "menjadi". Ada rasa sedih di hati saya. Tapi saya mencoba tidak peduli.

Kemudian beberapa bulan setelahnya. Seorang kolega bertanya, "Kamu mau jadi apa?". Saya menjawab sinis, "Cita-cita yang sebenarnya adalah masuk surga".

Satu bulan yang lalu, penegasan seseorang mengenai konsep dirinya yang berlainan dengan konsep diri saya diungkit kembali. Katanya, dia tidak ingin sakit-sakitan. Ia mengungkapkannya keras-keras. Saya yang berlalu lalang disekitarnya menjadi... sangat mual.

Satu minggu ini, saya merasakan mual yang semakin menjadi. Depresi. Ya, saya depresi. Tangan gemetar. Badan terasa dingin. Gerak tubuh melamban. Saya merasa amat sangat sedih. Hati saya pun kerap memaki-maki. Rasanya, saya sangat ingin melemparkan buku tebal yang berat di bawah meja belajar ke muka seseorang. Saya sangat marah. Tidak mau berharap. Tidak mau peduli. Apalagi bercita-cita.

Hari ini, saya putuskan untuk berbincang dengan seorang guru. Ia adalah seseorang yang hebat. Ada banyak cobaan pada dirinya dan ia bisa melaluinya dengan sangat bijak. Ia bukan orang kebanyakan. Saya pun bertanya pada dirinya, apa yang harus saya lakukan supaya terlepas dari rasa sedih.

Sang guru berkata, saya harus menata hati. Saya harus membagi hati saya dalam beberapa bilik. lalu saya harus memilah siapa yang penting dan siapa yang tidak penting.

Kemudian terbayanglah orang-orang tercinta yang juga sanggup mencintai saya dengan segala kekurangan. Saya tempatkan mereka di ruang hati yang terindah dengan permadani lembut terhampar di sana. Wewangian bunga pun ada. Biarkan suara lembut mereka menghantarkan damai.

Ada juga orang-orang yang tidak penting. Saya biarkan mereka memasuki sebuah ruang. Saya kunci rapat-rapat ruang itu. Biarkan suara mereka yang nyaring lagi menyakitkan menggema di sana. Saya tidak peduli. Saya tidak bisa mendengarkannya lagi.

Saya tidak tahu, bagaimana saya nanti. Saya juga tidak tahu, sampai kapan usia ini diizinkan untuk terus bertambah. Yang saya tahu, saya ingin bahagia dan orang-orang tercinta juga bahagia.

*buat mbak Ayoe-ku tersayang. Terima kasih atas nasihatnya. I love you forever.

Umi butuh Saringan

|
Suka teringat saat lalu. Abang suka memperhatikan raut wajah aku lalu bertanya, "umi kenapa?". Atau saat lain dia bersikukuh pada beberapa kesukaan aku. Entah lagu kesukaan, warna kesukaan. Dia tahu semua. Dia perhatian, juga menyukai detil. Satu lagi, sensitif. Lantas aku memasukkannya dalam kotak melankolis, melupakan kotak koleris. Walau terkadang terpikir sedikit kotak berwarna sanguinis dan plegmatis. Jadi, jika ada suatu hal yang kiranya mengganggu dia, aku khawatir. Maka terlontarlah beberapa percakapan ini.

Umi: "Abang, tadi gimana? ada yang ngeledek abang ngga?"

Abang: "Ada"

Umi: "Terus abang di bilang apa?"

Abang: "Ngga tau ah. Abang mah cuek aja. Ga mau ngeladenin"

Umi: "Oh... Bagus tuh..." *meleset*

...

Abang: "Dena kan ga masuk terus, Mi!"

Umi: "Oh ya? Kenapa?"

Abang: "Ga tau deh. Kecapekan kali."

Umi: "Yaaah... Dena bagaimana sih... kasih tau bang... kalau ngga sekolah nanti besarnya mau jadi apa? belum ketinggalan pelajaran... Kan repot? Apa kasih tau ibunya aja ya?"

Abang: "Umi! Ngapain juga abang disuruh mikirin Dena sih?"

Umi: "oh iya yah... Nanti ibunya Dena juga tersinggung ya bang..." *sambil berpikir, iya... ngapain juga aku memikirkan banyak hal*

Dengan Inginku

|
pernah ada yang bertanya
apa yang kau mau jika kau kaya nanti
aku bilang, minum teh kemasan sebanyak-banyaknya

iya,
kalo aku punya uang
aku mau minum teh kemasan sebanyak-banyaknya

tanpa batasan
uang jajan yang sudah dianggarkan

lalu sampai saatnya tiba

ketika tangan bebas memilih
hati luapkan kehendak

bukan teh kemasan yang aku lirik
namun beragam asupan
dengan lapisan-lapisan yang tak bisa lagi dicerna dengan baik

apalagi di sana

ada tawaran santapan tak terbatas
hingga perut dan napas tak lagi sanggup menerima

kadang tak tersadar
otak dan panca indera nampaknya tak lagi bersua
atau mulutku yang satu lagi memang tak mampu mendengar
atau otak terkendali oleh hati yang ingin dan ingin

maka bekerjalah terus tanganku yang dua
dengan jemari yang sepuluh
mengambil semua yang beragam
tanpa di pilah
ke dalam mulutku yang satu

geligiku pun berlomba
tanpa hitung
tanpa berpikir
semua bergerak otomatis hingga lidahku yang satu tak lagi merasakan beda

rasa kenyang ternyata tak pernah putus
apalagi rasa segar yang dulu pernah memberikan kata nikmat pada memori
tidak lagi
semua sama. semua kabur oleh rasa ingin

Vitamin B(unda) dan A(yah)

|
Jadi orang tua memang ngga gampang. Ada banyak pernak-pernik. Salah satunya terjadi di pagi hari saat harus menghadapi anak-anak tersayang berdemo, menuntut atas hak kasih sayang dari sang Bunda dan juga Ayahnya.

Untung saya pernah punya kebiasaan nonton "The Nanny". Di reality show itu pernah menyinggung tentang pentingnya "keteraturan" buat anak di rumah. Berbekal pengetahuan itu, saya jadi ngga terlalu panik kalau anak-anak berdemo. Satu hal yang ingin saya (dan suami saya) evaluasi kala demo anak-anak terjadi: "ketidakteraturan apa yang terjadi sehingga membuat anak-anak marah".

Jadi kalau anak-anak ngambek di pagi hari, saya berusaha menahan ego. Saya peluk saja mereka. Pelukan itu diharap bisa meredakan amarah anak-anak. Jika marah anak-anak sudah bisa terkendali, biasanya saya baru bisa menanyakan apa yang membuat mereka emosional. Lalu memberikan solusi atas kebutuhannya. "Pemecahan Masalah"-pun tidak hanya berdasarkan terkaan saja.

Kebiasaan memberikan pelukan buat anak-anak juga ternyata terekam baik di hati anak-anak. Saya pernah bingung, ada apa dengan abang di suatu pagi. Ara dengan santai mengingatkan, "Umi... peluk abang....".

Ada kalanya juga pelukan saya tidak berhasil. Ternyata bukan pelukan saya yang dibutuhkan anak-anak. Tapi pelukan ayahnya. Itu terjadi jika ternyata sang Ayah yang kurang memberikan perhatian.

Pelukan yang selama ini diberikan biasanya memberikan hasil positif. Jadi, memang benar yang suka di twit sama BraveKidsVoices, pelukan adalah vitamin buat anak-anak.

Perhatian bisa dikatakan seperti vitamin karena vitamin katanya bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Begitu juga dengan perhatian. Perhatian bunda dan ayah juga bisa meningkatkan daya tahan tubuh anak. Ga percaya? Coba saja abaikan anak yang selama ini mendapatkan perhatian cukup, niscaya mereka akan mengalami psikosomatis.

Layaknya vitamin, Vitamin A juga nampaknya tidak bisa menggantikan vitamin B. Maka perhatian Ayah, juga tidak bisa digantikan (selalu) oleh perhatian Bunda. Masing-masing ada manfaatnya tersendiri. Ada sumbernya tersendiri.

Jadi, kalau anak sedang kekurangan vitamin A (perhatian Ayah), maka ia membutuhkan pelukan sang Ayah. Tapi kalau sang anak kekurangan vitamin B (perhatian Bunda), sang Bunda harus evaluasi diri. Kalau anak-anak kekurangan perhatian Ayah dan Bunda, berarti ayah dan bunda harus saling mengingatkan, bukan saling menyalahkan, dan membuat sang anak semakin kritis kasih sayang.

Selama ini pun terjadi keteraturan telah yang berlaku dalam keluarga kecil saya setiap malam dan pagi hari. Keteraturan itu dibuat supaya Bunda dan Ayah juga punya ukuran tersendiri dalam memberikan perhatian yang cukup buat buah hati tercinta.

Bentuk keteraturan kami sederhana dan bervariasi. Dari main bantal, main kelitik-kelitikan, nonton tivi, makan malam bersama, shalat berjamaah. Tidak hanya Bunda, Ayah juga harus berpartisipasi penuh. Semua harus terlibat. Kalau ngga, sang Ayah atau Bunda harus siap-siap menerima konsekuensinya di pagi hari: melihat anak-anaknya berdemo karena kekurangan vitamin A, atau vitamin B, atau kedua vitamin tersebut.

;)

Bahagiaku, Kamu Tahu...

|
Menoleh kebelakang
Melihat jejak-jejak
Yang telah diabadikan oleh tetesan embun
Yang katanya tak hanya ada air mata, tapi juga duri-duri yang tak enggan menorehkan luka

Kamu Tahu
Dia Tahu
Yang Lain Tahu
Dalam gelembungnya masing-masing

Terkadang ada ingin sekilas cerita
Yang bisa mengisahkannya
Dalam paparan sempurna
Mengenai apa pada setiap sisi manusia

Tapi akal sehat mengingatkan
Adalah hak jiwa tuk bisa tutupi lemahnya
Benahi dirinya
Menjadi pantas untuk pulang pada Jiwa Maha Suci

Lalu embun juga turut membalut luka
Dengan cerita Jiwa
Mengenai kesederhanaan perjalanan
Yang tak lah perlu dirancukan rasa ingin sesaat

Lalu dimunculkan pula kisah pertemuan antara jiwa dan jiwa
Yang digambarkan indah
Mengenai satunya dua jiwa yang berbeda
Jiwa-jiwa yang dipasangkan untuk memberikan makna satu dan yang lain

Seperti seorang puteri
Yang tlah menemukan makna dasar dari lampu-lampu yang berterbangan...

Maka saat kau gambarkan adanya sehelai sayap tergolek
Dalam cerita magis danau terbelah
Lalu bersamanya menyambut langit biru jingga
Aku yakin... memang ada yang terindah dalam setiap perjalanan hidup manusia