Amarahnya

|
Tak cukup tancapkan paku
Ketika amarah kuasai, palu pun harus merusak kayu yang ada dihadapannya
Membiarkannya patah
Rusak
Terhina
Tak berguna

Tak cukup

Diludahinya sang kayu

Tak cukup

Diinjak

Diinjak lagi
Hingga remuk
Hancur
Tak terbentuk
Terabaikan

Begitulah amarah begitu menguasainya

Tak sadar
Entah menyesal atau tidak makhluk Tuhan berjubah emas itu tlah pergi
Keberadaannya tak lagi nyata
Entah lenyap
Entah Tuhan tlah menutup tabir tebal berwarna kelabu antara kami

Lalu ku ‎separuh tak berdaya dan terperangah
Makhluk Tuhan yang nampak "elok" sepertinya memang ada
Aku hanya berusaha tak menghakiminya atau diriku sendiri
Lalu berusaha mengembalikan pecahan kayu, entah bagaimana, Tuhan memberikan kekuatannya hingga pecahan itu kembali seperti semula

Ya...

Sang kayu tetap kembali utuh
Namun retaknya tetap nyata
Sedikit bergaris tak rata
Jadi ingat kisah serupa tentang tancapan paku pada kayu karena amarah pula

Maka jiwaku berkata
Tetaplah tersenyum
Tuhanmu bukanlah sang kayu
Ia mudah sekali rusak

Menjadi Orang Tua (2)

|
Saat Fatih masuk sekolah, ada rasa senang. Berarti peran saya sebagai orang tua menjadi lebih ringan. Setidaknya ada yang bantu mengajarkan Fatih hal-hal teknis kehidupan. Misalnya, membaca, menulis, menghapal, berteman, berperilaku baik, bekerja sama.. Loh kok jadi semua? :)



Satu tiga perempat semester berjalan. Ya, Fatih belajar banyak dari sekolah. اَلْحَمْدُلِلّهِ . Sebut saja, membaca, menulis, berdoa, dll. Namun tetap saja, Fatih akan jauh lebih antusias jika ibunya yang membaca dongeng. Fatih juga jadi semangat belajar jika ibunya memberikan motivasi. Doa-doa pun akan semakin meluncur deras dari bibirnya mungil. Itu terjadi karena ayahnya, ibunya, uwaknya memberi contoh di rumah.



Semakin besar dirinya, semakin banyak yang harus diterapkan. Saya dan suami tak bisa lagi berteori. Ia benar-benar ingin melihat contoh yang konkret. Bukan hanya kata-kata.



Lalu di mana peran guru? Kan mereka sudah di bayar 'mahal'?



Peran guru tak jauh berbeda dengan orang tua. Terkadang mereka juga berperan menjadi orang tuanya orang tua. Bukan sebagai 'asisten' yang profesional dengan tempelan gelar.

Suatu hari... Sang guru yang bijak pernah menegur kami yang baru belajar menjadi orang tua.



"Umi.. Ayah.. Fatih itu sangat pintar.. Tidak heran, orang tuanya memang hebat-hebat. Tapi Fatih menjadi suka sangat hiperaktif.. Setelah kami perhatikan.. Ia akan berperilaku seperti itu jika terlambat sekolah.. Nampaknya ia menghukum dirinya sendiri... Tapi setelah saya bertanya, apakah Fatih baru bangun tidur? Fatih diam saja.."



Saya tersenyum. Fatih terang diam saja. Ia bangun dini hari lalu ikut ayahnya sholat Shubuh di musholah. Permasalahannya, tidak hanya Fatih, orang tuanya juga harus belajar menaati peraturan sekolah.