Saya tersenyum melihat judul postingan kali ini. Siapa sih orang tua yang tidak mencintai anaknya? Apapun penilaian orang lain terhadap anaknya, orang tua yang baik akan tetap mengatakan bahwa anaknya-lah yang terbaik, anaknya lah yang terlucu, anaknya is the best! :)
Tidak hanya itu, saya juga tersenyum melihat judul postingan kali ini karena saya memang nyata telah memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Pada saat memiliki satu orang anak, yaitu anak yang laki-laki, saya merasa bahwa saya tidak mungkin memiliki anak lagi dalam waktu yang dekat mengingat saya sendiri sudah kerepotan menghadapi anak laki-laki saya yang nteu daek cicing (tidak mau diam).
Tetapi kemudian, saya menghitung-hitung umur saya. Saya kaitkan umur saya dengan perencanaan hidup saya dalam jangka 10 tahun yang akan datang. Ternyata pada saat itu, perencanaan hidup saya tidak ada yang terkait dengan memiliki bayi lagi. Saya jadi mempertanyakan diri saya sendiri. Apakah memang saya tidak ingin memiliki bayi lagi? Jawabannya tentu saja tidak. Saya kasihan dengan anak laki-laki saya jika ia menjadi anak tunggal. Keluarga kami pasti menjadi sangat sepi. Alhasil, saya-dan suami- memutuskan untuk memiliki anak lagi pada saat anak laki-laki kami berusia 2 tahun.
Tetapi kemudian, saya menghitung-hitung umur saya. Saya kaitkan umur saya dengan perencanaan hidup saya dalam jangka 10 tahun yang akan datang. Ternyata pada saat itu, perencanaan hidup saya tidak ada yang terkait dengan memiliki bayi lagi. Saya jadi mempertanyakan diri saya sendiri. Apakah memang saya tidak ingin memiliki bayi lagi? Jawabannya tentu saja tidak. Saya kasihan dengan anak laki-laki saya jika ia menjadi anak tunggal. Keluarga kami pasti menjadi sangat sepi. Alhasil, saya-dan suami- memutuskan untuk memiliki anak lagi pada saat anak laki-laki kami berusia 2 tahun.
Alhamdulillah, perencanaan dan doa kami disambut baik oleh-Nya. Saya pun segera hamil pada saat itu. Seperti yang telah diperkirakan, orang-orang di sekitar saya tidak menyambutnya dengan senyum seindah senyum mereka pada saat saya hamil pertama kali. Lebih menyakitkan lagi, ada orang yang marah-marah dengan kehamilan saya. Saya dinilai sembrono, tidak memiliki perencanaan, tidak tahu mana yang lebih prioritas, dll.
Ada juga yang bertanya kepada saya, “nanti gimana? Fatih kan belum besar? Nanti kalo adeknya di gimana-gimana-in?” Setelah bertanya panjang lebar, orang itu langsung pergi dengan muka cemberut tanpa mempedulikan saya akan menjawab pertanyaannya atau tidak. Saya pun hanya dapat menahan rasa. Entah apa yang saya rasakan pada saat itu. Suatu hal yang pasti, saya berusaha tidak peduli dan tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk anak saya yang laki-laki dan janin yang ada di dalam kandungan saya :)
Ada juga yang bertanya kepada saya, “nanti gimana? Fatih kan belum besar? Nanti kalo adeknya di gimana-gimana-in?” Setelah bertanya panjang lebar, orang itu langsung pergi dengan muka cemberut tanpa mempedulikan saya akan menjawab pertanyaannya atau tidak. Saya pun hanya dapat menahan rasa. Entah apa yang saya rasakan pada saat itu. Suatu hal yang pasti, saya berusaha tidak peduli dan tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk anak saya yang laki-laki dan janin yang ada di dalam kandungan saya :)
Pada saat anak yang kedua lahir, anak saya yang perempuan, hampir semua prediksi orang-orang yang ada di sekitar saya benar. Beberapa prediksi yang benar tersebut adalah:
1. Saya pasti repot.
Pertanyaan saya:
Siapa orang tua yang tidak repot jika memiliki anak? Jika tidak mau repot, ya tidak perlu lah menikah lalu memiliki anak.
2. Anak saya yang laki-laki pasti cemburu pada adiknya.
Kenyataannya pada saat ini:
Anak saya yang laki-laki memang pernah menangis dan meraung keras karena kegiatan saya hanya menyusui adiknya saja. Tetapi setelah saya peluk anak saya yang laki-laki, agak lama, dan menyatakan bahwa saya masih sangat menyayanginya, anak laki-laki saya menghentikan perilaku negatifnya. Bahkan, setelah itu, dia menyuruh saya untuk segera menyusui anak saya yang perempuan.
3. Anak saya yang laki-laki pasti melakukan hal-hal yang aneh terhadap adiknya.
Kenyataan pada saat ini:
Ya, benar. Banyak hal yang “mengerikan” yang dilakukan anak saya yang laki-laki terhadap adiknya. Dia pernah memukul adiknya, dia juga pernah melempar mainan terhadap adiknya, dan banyak perilaku agresif lainnya yang pernah ia lakukan karena ia cemburu. Prediksi orang-orang di sekitar saya memang benar. Tetapi saya memiliki beberapa pertanyaan:
- Apakah saya harus merasa bersalah karena memiliki anak perempuan yang cantik?
- Patutkah saya memiliki berpikir mengenai “andai waktu berulang kembali”?
Pertanyaan saya:
Siapa orang tua yang tidak repot jika memiliki anak? Jika tidak mau repot, ya tidak perlu lah menikah lalu memiliki anak.
2. Anak saya yang laki-laki pasti cemburu pada adiknya.
Kenyataannya pada saat ini:
Anak saya yang laki-laki memang pernah menangis dan meraung keras karena kegiatan saya hanya menyusui adiknya saja. Tetapi setelah saya peluk anak saya yang laki-laki, agak lama, dan menyatakan bahwa saya masih sangat menyayanginya, anak laki-laki saya menghentikan perilaku negatifnya. Bahkan, setelah itu, dia menyuruh saya untuk segera menyusui anak saya yang perempuan.
3. Anak saya yang laki-laki pasti melakukan hal-hal yang aneh terhadap adiknya.
Kenyataan pada saat ini:
Ya, benar. Banyak hal yang “mengerikan” yang dilakukan anak saya yang laki-laki terhadap adiknya. Dia pernah memukul adiknya, dia juga pernah melempar mainan terhadap adiknya, dan banyak perilaku agresif lainnya yang pernah ia lakukan karena ia cemburu. Prediksi orang-orang di sekitar saya memang benar. Tetapi saya memiliki beberapa pertanyaan:
- Apakah saya harus merasa bersalah karena memiliki anak perempuan yang cantik?
- Patutkah saya memiliki berpikir mengenai “andai waktu berulang kembali”?
Terus terang, saya tidak tahu apa-apa mengenai hal-hal yang kini sedang saya alami dalam hidup saya. Saya masih belajar. Walaupun saya pernah membaca dan dicekoki berbagai teori tentang tingkah laku manusia dan lingkungan, tetapi saya tetap merasa di titik nol. Mengapa? Karena yang sedang saya hadapi pada saat ini adalah manusia-manusia. Mereka unik. Mereka pun tidak cukup dihadapi dengan segepok teori, dan juga segudang cerita pengalaman. Saya pun sering mendapatkan masukan. Alhamdulillah.
Tetapi, tetap, masukan-masukan tersebut harus saya saring terlebih dahulu berdasarkan permasalahan dan kebutuhan anak-anak saya. Jika tidak bersesuaian dengan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak saya, maaf, saya akan mencari cara yang lebih baik untuk anak saya. Saya kan orangtuanya :) Saya sebagai orang tua harus bijak dan pandai memilih berbagai masukan-masukan dan tidak konsumtif terhadap berbagai hal yang berlabel “sayang anak! sayang anak!” :D
Di bawah asuhan orang tua seperti saya yang “ampuuuuuuun!” ini, alhamdulillah sampai saat ini anak-anak saya masih berkembang sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak yang semestinya. Anak saya yang perempuan pun, kini sudah berumur satu tahun. Ia sehat tetapi belum bisa berjalan sendiri. Dia masih belum percaya diri. Abangnya dulu juga seperti itu. Hal itu terjadi bukan karena sering digendong dan jarang diberi stimulus. Lagi pula, memangnya ada standar bagi bayi untuk harus lulus bisa berjalan di usia satu tahun? *garul-garuk*
Lalu, walaupun sering diganggu oleh abangnya, anak saya yang perempuan suka merasa kehilangan jika abangnya pergi main ke tempat lain tanpa dirinya. Ada cerita yang mengharukan mengenai hubungan anak saya yang laki-laki dan perempuan itu. Suatu hari, anak saya yang laki-laki pernah merasa badannya sakit dan demam. Dia mengatakan kepada saya bahwa badannya terasa lemas. Dia pun tertidur lama sekali karena pada saat itu ia memang kecapekan.
Pada saat anak saya yang laki-laki tidur pulas, anak saya yang perempuan menghampirinya. Mungkin anak saya yang cantik itu bingung, “kemana abang saya yang rame itu, ya?” Ia pun mengelus-elus pipi abangnya, dan tidak saya duga, anak saya yang perempuan itu mencium pipi abangnya berulang-ulang.
Pada saat anak saya yang laki-laki tidur pulas, anak saya yang perempuan menghampirinya. Mungkin anak saya yang cantik itu bingung, “kemana abang saya yang rame itu, ya?” Ia pun mengelus-elus pipi abangnya, dan tidak saya duga, anak saya yang perempuan itu mencium pipi abangnya berulang-ulang.



4 comments:
kalo aye mah bukan ngomelin, tapi heran kok baru punya anak. kirain bakal setaun sekali punya anak kaya akhwat2 yg laen mwehehehehe
mwehehehehehe.... setaun sekale mah jebol perut aye, bo! nekat amat... secara perut eike dah disilet2 dua kali begicuuu :D
Saya hanya ada seorang anak lelaki saja...terlupa pula nak bikin lebih tu hari...
waaah... bapak sibuk banget mungkin ya... foto anak bapak yang lelaki tak ada di facebook ya...?
Posting Komentar