Infeksi Pikiran pada Dirinya, diri saya, dan jangan sampai pada dirimu!

|
Beberapa waktu yang lalu, ada seorang ibu yang tergolek lemah di rumah sakit. Setelah di cek secara keseluruhan, sebenarnya ibu yang sedang sakit itu tidak menderita penyakit apapun. Semua anggota tubuhnya bebas dari penyakit. Sang dokter mungkin merasa bingung bagaimana mengkomunikasikan permasalahan ini kepada sang ibu yang menjadi pasiennya. Ketika dokter tersebut mengemukakan bahwa sebenarnya seluruh bagian tubuh sang ibu sehat-sehat saja, sang ibu malah marah sekali. Sang ibu merasa bahwa ia merasa kesakitan, sehingga ia sangat kesal dinyatakan sehat oleh dokter yang memeriksanya. Pada akhirnya, sang dokter tidak pantang menyerah dan mencoba mengungkapkan kepada sang ibu bahwa sang ibu memang sakit dan mengalami infeksi, yaitu infeksi pikiran.

Penyakit infeksi pikiran yang dimaksudkan oleh dokter tersebut adalah psikosomatis. Hanya saja dokter tersebut mencoba mengkomunikasikan penyakit psikosomatis yang di derita sang ibu dengan bahasa yang bisa diterima oleh sang ibu yang menjadi pasiennya tersebut. Infeksi pikiran, menurut saya pun, memang terdengar lebih “medis” sehingga lebih “keren” jika disampaikan kepada sang ibu yang merasa yakin bahwa ada sesuatu di tubuhnya, dibandingkan istilah psikosomatis yang mungkin masih jarang diketahui oleh orang umum, salah satunya oleh sang ibu tersebut.

Setelah mendengar pernyataan dokter mengenai penyakit yang dialaminya, sang ibu merasa setuju. Ia memang merasa bahwa terlalu banyak hal yang dipikirkan olehnya. Ia juga merasa banyak sesuatu hal yang ada di masa lalunya yang masih teringat sampai saat ini dan begitu membekas. Pengalaman masa lalu yang dimaksudkan bukan masa lalu yang manis. Masa lalu yang diingat oleh sang ibu adalah pengalaman-pengalaman pahit yang membuatnya sering bersyukur karena keadaannya kini jauh lebih baik, tetapi juga merasa sedih karena harus mengalaminya. Jika dokter tersebut mengistilahkan psikosomatis tersebut dengan istilah infeksi pikiran, maka sang ibu punya istilah lain. Sang ibu bilang kepada saya jika pikiran-pikiran mengenai masa lalunya sudah “nuju”. Apa arti daru “nuju” itu? Saya tidak tahu.

Saya, pada saat itu, yang mengikuti secara langsung cerita tersebut menyelipkan rasa bangga di hati. Pasalnya, sayalah yang meyakinkan kepada salah satu pihak keluarga sang ibu bahwa penyakit yang dialami sang ibu adalah psikosomatis. Sehingga, saya sangat khawatir jika sang ibu selalu dicekoki berbagai obat yang tidak diperlukan oleh tubuhnya. Apalagi, pada saat itu, saya mendengar bahwa setiap kali sang ibu mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter, ia akan merasa sangat kesakitan.

Salah seorang anggota keluarga yang saya dekati pun mau mendengarkan pendapat saya. Ia langsung menelpon beberapa anggota keluarganya yang menjadi pengambil keputusan mengenai penyakit psikosomatis yang mungkin di derita oleh ibunya. Mereka pun bermusyawarah di antara sesama anggota keluarga, kemudian mereka pun bermusyawarah dengan dokter yang bertanggung jawab terhadap proses perawatan sang ibu. Hasilnya, sang ibu bisa pulang dari rumah sakit-setelah dirawat selama seminggu- dengan kondisi yang lebih baik karena ia telah mengetahui “jenis penyakit” yang selama ini telah menggerogotinya dan ia juga tidak lagi dicekoki oleh obat-obatan yang tidak diperlukan oleh tubuhnya.

Kebanggaan saya terhadap salah satu upaya kecil yang pernah saya lakukan untuk sang ibu dan keluarganya tersebut kini sirna. Bagaimana tidak? Saya menasihati orang lain mengenai penyakit psikosomatis dan bahaya yang bisa diakibatkannya. Ternyata, saya mengetahui di kemudian hari bahwa saya sendiri terkena penyakit yang sama.

Terus terang, saya merasa sangat bodoh. Apalagi psikosomatis yang saya alami tersebut telah berdiam di dalam diri saya sejak lama, bahkan sebelum cerita sang ibu dan dokternya tersebut berlangsung di panggung dunia ini. Saya juga semakin merasa bodoh karena saya sendiri merasa sangat sulit mengobati penyakit psikosomatis yang selama ini telah saya derita. Apalagi psikosomatis yang saya derita tersebut terasa telah menjadi sangat akut. Masya Allah... betapa diri saya menjadi begitu lemah karenanya. Saking lemahnya, berbagai penyakit pun merasuk ke dalam tubuh saya. Baik masuk angin (flu), biduren (gatal-gatal di kulit tubuh yang disebabkan oleh alergi terhadap sesuatu), asma, sampai dengan membengkaknya konka di hidung yang membuat telinga saya menjadi kurang berfungsi. *saya memang bodoh!*

0 comments: