Satu minggu ini abang dan ade melakukan demonstrasi. Demonstrasinya abang ditunjukkan dalam bentuk marah-marah yang tidak jelas penyebabnya. Biasanya, kegiatan marah-marah ini dilakukan abang di pagi hari, pada saat umi dan ayah akan berangkat kerja. Lain halnya dengan Ade. Ade tahu betul jika uminya terburu-buru. Dia pun hanya bisa memelas, menunjukkan muka sedih. Kadang, Ade juga tau kalau uminya pun menanggapi kesedihannya. Jika begitu, setiap pagi dia pasti akan memeluk umi dengan sangat eraat sekali. She really didn't want me to go... Pada saat umi pulang, Ade pun melompat-lompat senang. Dia pun langsung menuntut umi untuk menyediakan waktu hanya untuk dirinya, dengan menyusuinya sepanjang malam. Alhasil, umi kurang tidur dan selalu terkantuk-kantuk di kampus...
Ya, begitulah jika dua hari libur yang seharusnya menjadi hak anak-anak tidak bisa dijalankan seperti biasanya. Entah, mungkin saya yang yang terlalu sensitif. Saya merasa anak-anak protes karena mereka kehilangan dua hari libur yang seharusnya menjadi miliki mereka. Pada minggu ini, umi dan ayah pun bersepakat untuk memberikan dua hari istimewa buat mereka.
Karena Sabtu dan minggu ini ingin di sebut sebagai hari istimewa, maka kegiatan yang di lakukan pun tidak sekedar pergi ke mall seperti biasanya. Umi dan ayah merencanakan untuk pergi keliling kota Jakarta dengan mempergunakan transportasi umum. Pada saat itu, ayah sebenarnya belum sehat betul. Tetapi karena ayah sayang betul dengan umi dan anaknya, maka ia merelakan waktu istirahatnya. Abang dan -sepertinya juga- Ade, terlihat senang betul dengan rencana ini.
Kami pun menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan: tas gemblok dengan berbagai perlengkapan anak di dalamnya dan kue-kue serta minuman yang bisa menemani perjalanan istimewa kami. Lalu, pukul 7.30, di Sabtu dini hari yang mendung, kami pun berangkat. Tak lupa, kami makan bubur di warung bubur Padewo yang enak itu. Setelah itu, kami menuju Universitas Indonesia (UI) untuk memarkirkan (mungkin menitipkan, tepatnya) mobil kami di sana.
Alhamdulillah, kami sampai di UI tepat jam 9. Jadi, tidak ada cerita kemi's fam ketinggalan kereta :D Kami pun bergegas menuju ke Statsiun UI dan membeli karcis KRL AC. Ayah waktu itu sempat cemberut. Saya tidak tahu kenapa, mungkin karena ia memang belum begitu pulih. Tapi, saya pikir, sakit sariawan aja kok segitunya... :p
KRL AC yang akan kami tumpangi akan segera tiba. Matanya ayah agak berseri. Hatiku berbisik, alhamdulillah... Fatih, dia tentu saja bersorak gembira. Ara? dia tertidur di gendongan saya. Tetapi, pada saat itu sempat terjadi sedikit keributan. Ayah bingung mau naik dari mana. Seorang petugas KRL berteriak: "PAK! KALO MAU KE JAKARTA KE SANA! Aku juga teriak, "AYAH KE SANA YAH! ITU KE BOGOR!" duh, padahal mah santai saja lah ya... tidak perlu teriak2. Tapi tak apa lah, supaya tambah seru :p
Pada saat KRL AC tersebut berhenti, kami segera masuk dan mencari tempat duduk. Alhamdulillah, ada dua orang lelaki yang menyediakan tempat duduk buat kami. Pada saat itu, wajah ayah tambah berseri. Saya yang merasa bersalah, berbisik lagi dalam hati, Alhamdulillah... Kemudian meledek ayah yang tidak pernah naik kereta selama 6 tahun belakangan ini. "Yah, bagus kan keretanya... bersih... nggak umpel-umpelan (berdesak2desakan)...", saya senang sekali bisa berkata seperti itu. Ayah yang diledek hanya tersenyum senang. Abang yang di ajak naik kereta sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Dia hanya menatap Jakarta dari jendela. Dia betul-betul menikmati perjalanannya kali itu. Ara? Dia tertidur di pangkuan saya.
Sesampai di statsiun Juanda, kami turun dari kereta dan berjalan menuju halte busway yang ada di sekitar situ. Keributan kecilpun terulang kembali. Sesampai di loket tiket, ayah panik. "UMI, kita mau kemana?, tanya ayah. "HAH?", saya bingung. Ayah mengulangi pertanyaannya lagi. Mbak-mbak yang menjadi penjaga loket teriak2 juga. "Tujuh RIBU PAK! Tujuh RIBU!", katanya. Saya langsung connected, "YAH... nggak perlu pakai tujuan mana. Bayar aja langsung... Satu tiket untuk semua tujuan...". Mas-mas yang ada di belakang mba-mbak penjual tiket tersenyum2.
Kami pun masuk ke halte busway (fatih menyebutnya dengan busyoy). Di sana terjadi keributan lagi. "Ini kok ngga bisa!" ayah berteriak. Mas penjaga pintu halte menyambutnya dengan ramah dan meminta ayah menyerahkan tiket yang dipegangnya. "Sebentar pak, saya masukkan dulu tiketnya...", ia pun langsung memasukkan tiket ke tempatnya dan mempersilahkan ayah untuk masuk ke halte. Berikutnya baru saya yang masuk. Setelah itu, ayah panik lagi, "UMIII... Tiketnya MANAAAA...". Saya menjawab dengan tenang *cieee*, "tadi kan dah di masukkin ke situ yah... ya udah... nanti ngga di tagih lagi kok.... Ini kan bukan keretaaaaa.....kikikik... makanya sering2 naek angkot......" Ayah tersenyum malu :p Pada saat itu, abang sangat terlihat antusias sekali. Ade juga merasa senang. Tetapi rasa senang yang dimiliki Ade mungkin disebabkan kebersamaan dengan orang tuanya, bukan karena KRL AC atau busway.
Kami pun menaiki bus yang lebih nyaman dan bersih dari pada transportasi lain itu sampai halte Ragunan. Ayah, abang, dan Ade tertidur di perjalanan. Sesampai di Ragunan kami memutuskan naik taksi. Ayah sepertinya sudah tidak sabar ingin istirahat. Abang dan Ade juga sudah lelah. Jadi, naik taksi sajalah... kasian...
Kami naik taksi ke UI. Setelah dari UI, kami menuju ke aki's house. Semua merasa puas. Terutama Abang dan Ade. Abang memang sudah biasa saya ajak jala-jalan menaiki transportasi umum. Baginya, jalan-jalan pada hari itu seperti nostalgia pada saat waktunya umi tercurah hanya untuk dirinya. Berbeda dengan Ade. Ade memang baru kali ini di ajak menaiki transportasi umum sejenis kereta dan bus. Bagi saya sendiri, rasa puas juga timbul karena Abang dan Ade tidak merengek-rengek minta beli ini dan itu seperti halnya yang biasa mereka lakukan jika kami pergi ke mall. Kalau kami pergi ke mall, pasti adaaaa saja yang di rasa kurang. Yup, kami sangat puas... . Hanya saja, untuk acara jalan-jalan kami kali ini, kok lebih merepotkan mengajak ayah daripada anak-anak ya... :p
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



3 comments:
bwahahahahahahaha, sama kaya ayahnya koosha, sariawan aja heboh minta ampun. trus tadi pagi karena dia ribut bangunin koosha, eike cakar aja, eh gores dikit aja tangannya ngeluhnya ampun2an wahahahahahaha, laki gueeee.
sadis amat y gw nyakar laki :D
hehehe... jadi ketawa ngebayangin lulu nyakar lakinya yang berisik pagi2...
Lulu: gw juga bakalan nangis kalo dicakar mah... dicakar ara aja ge meringis :D
mbak Ade: hihihihi...
Posting Komentar