Rindu

|

Entah...
Berapa banyak dan besar luka yang pernah kutorehkan
di tubuh mu...
di hatimu...

Dengan sosokku yang mungil
Yang sedikit memaksa untuk meminta penghidupan
Hingga membuatmu semakin ringkih
dibalik keperkasaan jiwamu...

Entah...
Seberapa besar artinya hadirku
Melalui pengorbananmu
Yang tak akan pernah tertebus oleh lautan cintaku padamu...

Aku rindu akan marahmu
Aku rindu akan syukurmu
Aku rindu akan do'a dan pengharapanmu
Juga lantunan ayat suci yang kerap membangunkan lelap tidurku...

Mungkin aku hanya bisa sampaikan lewat derai air mataku
Saat kau lelah, terjatuh lalu aku tak bisa berbuat lebih banyak
Kadang sering pula ku malu tuk sampaikan...
Karena aku ingin kau hanya tahu bahwa aku cukup kuat dan tegar untuk berdiri...

Saat ini aku merasa kekurangan kekuatan untuk terus tersenyum dan berkata, "Tak apa... semua baik-baik saja..."
Saat ini aku hanya ingin memelukmu erat-erat
Lalu menangis sekecang-kencangnya
Dan kembali berkata dalam diam...

*I love You, Mom...*

Curhat

|
Beberapa hari terakhir ini sempat terpikir kembali untuk menulis di blog. Cuap-cuap saja. Ngga perlu sistematis dan romantis. Hanya mengeluarkan kata-kata supaya jiwa memiliki sedikit ventilasi.

Cuap-cuap kali ini tentang pengetahuan yang ngga baru tapi baru disadari urgensinya seputar badan sendiri yang sudah mulai tidak dikenali sejak tidak menari, tidak berjalan kaki, jarang naik turun tangga dengan berlari, dan lebih sering mengandalkan jasa ojek. Saat saya malas bergerak, badan saya menjadi mekar. Dari angka 48 beranjak ke 52, kemudian ke 53 lalu ke 63. Angka terakhir didapatkan karena memang berbadan dua. Setelah melahirkan angkanya turun ke 54. Namun kemudian menanjak lagi ke angka 58, 59, dan 60. Lalu saya lelah melihat angka timbangan. Saya menyerah sampai akhirnya berani menimbang diri dan melihat jarum alat ukur bobot badan yang mengarah ke angka 63. Saya terkejut kemudian berusaha menurunkan berat badan namum jarum timbangan tidak kunjung bergeser ke kiri. Saya jadi semakin tertekan.

Selanjutnya saya berkenalan dengan benda yang bernama korset. Seorang teman bilang, korset itu wajib dikenakan untuk wanita selayaknya dua benda pakaian dalam lain yang biasanya dipergunakan wanita sehari-hari. Sekali dua kali pemakaian korset membuat saya merasa percaya diri. Namun lama kelamaan korset membuat saya merasa semakin tersiksa dan semakin mengabaikan apa yang namanya "DIET".

Ketidakpedulian terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh dan apa yang dirasakan oleh tubuh ternyata menumbuhkan berbagai penyakit yang menyebalkan. Ada satu kista yang sudah dioperasi ternyata tumbuh lagi tepat dibawah bekas jahitan operasi. Miom, kista dan endometriosis yang sudah lama berdiam di rahim juga nampak menggila. Mereka seperti yang meledek, kadang terasa seperti yang ingiin mencabik-cabik perut dan mengatakan, "Hei, we're still here! don't do anything coz we love staying in ur unhealthy body". Perut saya terasa sakit 100% (Meminjam istilah yang suka diungkapkan abang). Dokter pun meminta saya untuk terapi hormon. Saya lakukan itu tetapi sakit tidak kunjung hilang dan membuat saya ketagihan terhadap obat-obatan. Sampai akhirnya dokter yang lain mengatakan, "operasi, kalau perlu angkat rahimnya atau hamil lagi".

Rasanya mengerikan jika saya harus operasi. Lalu terbayang pada saat operasi dokter memutuskan sesuatu yang tidak diinginkan karena jaringan yang ada di dalam tubuh saya itu melekat kuat di rahim. Saya hanya terdiam sejenak. Bingung dan sedih. Suami hanya mendukung apa yang menjadi keputusan saya.

Pada akhirnya saya memutuskan sesuatu dengan tegas! Saya diet (baca: hidup sehat) dan lebih banyak bergerak. Saya harus berolahraga. Olah raga pilihan saya adalah angkat beban karena ada artikel yang mengatakan kita harus membangun otot jika ingin menurunkan berat badan dan membakar lemak. (See http://duniafitnes.com/fat-loss/membakar-lemak-sambil-membentuk-otot-why-not.html)

Alhamdulillah, saat ini ada banyak perubahan signifikan. Jarum timbangan akhirnya bergeser ke kiri. Lingkar pinggang juga menyusut. Lemak berkurang sebanyak 3%. Hidup lebih hidup dan saya juga sudah tidak takut makan lagi. Kemudian yang terpenting, perut tidak terasa sakit lagi. Tapi... kok saya belum datang bulan juga ya? Sudah telat seminggu nih!



*many many thanks to Duniafitness.com, Denny Santoso dan dr. Jeffry Tenggara untuk tips dietnya. Pengetahuan tentang otot tubuh memakan lemak, metabolisme, dan lainnya benar-benar membukakan mata (hati) :)

Yes, I Am

|
Iya, saya itu orang yang setia lalu kenapa ya harus jadi setia? Kan setiap orang memiliki inginnya sendiri Bodoh sekali mengharapkan orang untuk memberikan kesetiaannya secara rela Lucu juga menjadi setia, tapi orang yang dicintai begitu mudah melucuti hati-hatiku dari hatinya Ya, aku orang yang setia aku juga baru sadari Ketika sayapku memeluk erat dan mengatakan betapa dia sayang padaku Ia bilang kan menjagaku dengan hati-hati Tapi entah kenapa sifat yang ia lekatkan padaku menjadi kabur Berubah jadi rasa yang membuatku merasa senantiasa kedinginan sendirian *for my dearest husband, sayangku juga hanya untukmu

Senyum Saja

|
Sekelebat terbayang dalam benak. Akankah perut aku bisa terlepas dari rasa nafsu yang tak berkesudahan? Bisakah lidah ini tak merasa lagi? Mampukan mata ini tak terbelalak dan menimbulkan rasa ingin pada kilapan-kilapan cahaya kecil yang timbul dari berbagai indahnya benda-benda yang kan pudar oleh usia? Banyak yang mengatakan, dahaga tak akan pernah bisa ditiadakan. Apalagi hanya dengan segenggam atau dua genggam berlian. Rasa puas juga tidak akan pernah tercipta jika ada sekian banyak lembaran merah dimasukkan ke dalam rongga mulut hingga isi perut tak sanggup menampungnya. Jadi, tersenyum sajalah... Lepaskan, ihklaskan... Merdekakan...

Baru Mengerti

|
Di balik sikap kerasnya, ada kasih sayang yang meluap
Memberikan perlindungan terhadap buah hatinya
dari kekejaman orang yang seringkali lebih buas dari pada serigala

Dibalik sikap sabarnya, ada juga keraguan
Benarkah caranya?
Benarkah keputusannya?
Atau juga mungkin penyesalan atas beberapa kelenturan yang pernah dilakukan

Kadang kita memang tidak mengerti
Atau memang dibuat untuk tidak mengerti
Untuk kemudian mengambil pelajaran

Hanya Allah yang tahu isi hati manusia.

Menulis

|
Entah skenario apa yang menghantarkan saya pada pekerjaan ini: menulis. Dahulu kala, menulis itu merupakan suatu hal yang asing buat saya. Rasanya, otak dan jemari saya memang tidak pernah ditakdirkan untuk berhubungan demi kata kerja yang satu ini: menulis. Perasaan itu semakin menguat ketika saya melihat skripsi tebal milik kakak saya. Saya berpikir, "bagaimana dia bisa mengeluarkan ribuan kata ke dalam kertas seperti itu?".

Lalu saya bertemu sahabat semasa SMU. Dia pernah memperlihatkan sebuah buku. Dia bilang, buku itu berisi catatannya. Bukunya bukan diari seperti yang pernah saya tulis, disimpan, lalu dibakar. Bukan. Bukunya adalah kumpulan lagu hasil ciptaannya. Entah apa ekspresi saya saat itu. Kemungkinan saya terlihat tak berekspresi. Ya, seperti biasa. Namun hati saya berkata, "kamu cantik, hebat pula!"

Semasa kuliah, saya menemukan episode yang tidak diduga dengan bertemu seorang sahabat lagi. Dia punya kumpulan cerpen, cerber dan puisi. Saya merasa minder sama dia. Saya iri juga sama dia. Saya bingung, kok dia bisa sih menciptakan kata-kata indah seperti itu?

Lalu waktu terus berjalan. Saya bisa juga membuat skripsi seperti kakak saya. Walaupun skripsi itu dikritik oleh sang Bapak. Tapi saya tidak peduli. Bapak bilang, kalimat saya terlalu panjang. Saya tetap tidak peduli. Saya sudah menulis skripsi. Itu saja sudah cukup.

Beberapa saat setelah penulisan skripsi selesai, sahabat saya mengajak untuk membuat suatu hal masih dirasa tidak mungkin terjadi pada diri saya. Dia mengajak saya menulis skenario. Saya tidak tahu apakah saya menerimanya atau tidak. Seingat saya, hati saya berteriak, "Hei! Aku kan tidak bisa menulis! Kalau main drama, hayu!".

Lalu saya teringat lagi dengan percakapan saya dan sahabat saya di pinggir danau itu. Tiba-tiba sahabat saya memegang secarik kertas dan pena ditangannya. Dia mengajak saya menulis kata-kata. Kata apa saja yang terbersit di pikiran dituliskan olehnya. Saya ucapkan semua yang saya lihat. Dia menuliskannya. Dia juga menuliskan apa yang dia lihat. Saya jadi bertanya, itukah cara menulis?

Sekarang saya juga lagi menulis dan memuntahkan apa yang ada di kepala. Saya mencoba untuk merasakan kemudahan menulis sesuatu karena saya sering merasa menulis itu bukan pekerjaan yang mudah. Menulis itu susah!

Kesulitan untuk menulis yang paling saya rasakan adalah saat mood tidak mau diajak bekerja sama dengan baik. Seperti mood saya saat ini. Bahan yang akan diolah untuk ditulis sudah diserap. Tapi ketika mau dikeluarkan, hati saya bilang, bikin blog aja deh tentang spongebob.

Spongebob? Ada apa dengan mahluk bohongan berwarna kuning itu?

Iya, saat mood saya lagi menyebalkan begini, saya ingat salah satu episode Spongebob yang ingin menulis. Sebelum menulis dia mengerjakan berbagai hal. Lalu dia kembali ke kertasnya. Tapi dia belum sanggup mengeluarkan kata-kata. Kemudian dia mengerjakan hal-hal lain lagi. Akhirnya dia bisa mengerjakan sesuatu dengan serius dengan kertas dan penanya tersebut. Ternyata hasilnya bukan tulisan dengan rangkaian kata-kata. Dia hanya membuat sebuah huruf yang berukir. Saya jadi tersenyum geli. Kisahnya mirip betul dengan saya apabila mau menulis.

Ya, malam ini saya memang gagal menuliskan sesuatu untuk sebuah tugas. Tapi tak apa. Setidaknya saya menjadi lebih sadar mengenai sesuatu dari ceritanya Spongebob yang tiba-tiba muncul di memori saya. Saya harus lebih fokus kalau mau menulis. Ya, itu saja.

The End