Suka teringat saat lalu. Abang suka memperhatikan raut wajah aku lalu bertanya, "umi kenapa?". Atau saat lain dia bersikukuh pada beberapa kesukaan aku. Entah lagu kesukaan, warna kesukaan. Dia tahu semua. Dia perhatian, juga menyukai detil. Satu lagi, sensitif. Lantas aku memasukkannya dalam kotak melankolis, melupakan kotak koleris. Walau terkadang terpikir sedikit kotak berwarna sanguinis dan plegmatis. Jadi, jika ada suatu hal yang kiranya mengganggu dia, aku khawatir. Maka terlontarlah beberapa percakapan ini.
Umi: "Abang, tadi gimana? ada yang ngeledek abang ngga?"
Abang: "Ada"
Umi: "Terus abang di bilang apa?"
Abang: "Ngga tau ah. Abang mah cuek aja. Ga mau ngeladenin"
Umi: "Oh... Bagus tuh..." *meleset*
...
Abang: "Dena kan ga masuk terus, Mi!"
Umi: "Oh ya? Kenapa?"
Abang: "Ga tau deh. Kecapekan kali."
Umi: "Yaaah... Dena bagaimana sih... kasih tau bang... kalau ngga sekolah nanti besarnya mau jadi apa? belum ketinggalan pelajaran... Kan repot? Apa kasih tau ibunya aja ya?"
Abang: "Umi! Ngapain juga abang disuruh mikirin Dena sih?"
Umi: "oh iya yah... Nanti ibunya Dena juga tersinggung ya bang..." *sambil berpikir, iya... ngapain juga aku memikirkan banyak hal*
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



0 comments:
Posting Komentar