Significant Others

|
Dahulu, seorang paman pernah menanyakan cita-cita saya. Dengan lantang saya menjawab: "dokter gigi!". Lalu semua orang tergelak. Paman saya berkata, "Ngapain jadi dokter gigi? Meriksa jigong orang. Huahahahahahaha..." tawanya disambut dengan tawa orang sekitar. Saya tersentak. Mengiyakannya.

Lalu beberapa tahun lalu, saya tulis di secarik kertas sebuah cita-cita saya. Catatan itu buat saya pribadi. Bukan untuk diumumkan. Hanya ingin melihat dan menilai, pantas atau tidak jika saya menjadi seperti itu.

Tak sangka dan tak diduga. Ada yang melihat catatan "iseng" saya itu. Dia tertawa lalu memberi pengumuman mengenai apa yang saya tulis. Ia juga mempertanyakan kebenaran catatan saya lalu menegaskan dirinya yang memisahkan konsep ibadah dengan "menjadi". Ada rasa sedih di hati saya. Tapi saya mencoba tidak peduli.

Kemudian beberapa bulan setelahnya. Seorang kolega bertanya, "Kamu mau jadi apa?". Saya menjawab sinis, "Cita-cita yang sebenarnya adalah masuk surga".

Satu bulan yang lalu, penegasan seseorang mengenai konsep dirinya yang berlainan dengan konsep diri saya diungkit kembali. Katanya, dia tidak ingin sakit-sakitan. Ia mengungkapkannya keras-keras. Saya yang berlalu lalang disekitarnya menjadi... sangat mual.

Satu minggu ini, saya merasakan mual yang semakin menjadi. Depresi. Ya, saya depresi. Tangan gemetar. Badan terasa dingin. Gerak tubuh melamban. Saya merasa amat sangat sedih. Hati saya pun kerap memaki-maki. Rasanya, saya sangat ingin melemparkan buku tebal yang berat di bawah meja belajar ke muka seseorang. Saya sangat marah. Tidak mau berharap. Tidak mau peduli. Apalagi bercita-cita.

Hari ini, saya putuskan untuk berbincang dengan seorang guru. Ia adalah seseorang yang hebat. Ada banyak cobaan pada dirinya dan ia bisa melaluinya dengan sangat bijak. Ia bukan orang kebanyakan. Saya pun bertanya pada dirinya, apa yang harus saya lakukan supaya terlepas dari rasa sedih.

Sang guru berkata, saya harus menata hati. Saya harus membagi hati saya dalam beberapa bilik. lalu saya harus memilah siapa yang penting dan siapa yang tidak penting.

Kemudian terbayanglah orang-orang tercinta yang juga sanggup mencintai saya dengan segala kekurangan. Saya tempatkan mereka di ruang hati yang terindah dengan permadani lembut terhampar di sana. Wewangian bunga pun ada. Biarkan suara lembut mereka menghantarkan damai.

Ada juga orang-orang yang tidak penting. Saya biarkan mereka memasuki sebuah ruang. Saya kunci rapat-rapat ruang itu. Biarkan suara mereka yang nyaring lagi menyakitkan menggema di sana. Saya tidak peduli. Saya tidak bisa mendengarkannya lagi.

Saya tidak tahu, bagaimana saya nanti. Saya juga tidak tahu, sampai kapan usia ini diizinkan untuk terus bertambah. Yang saya tahu, saya ingin bahagia dan orang-orang tercinta juga bahagia.

*buat mbak Ayoe-ku tersayang. Terima kasih atas nasihatnya. I love you forever.

0 comments: