Tulisan Ilmian VS Tulisan Populer

|
ada dosen yang mengeluh bahwa tulisan mahasiswa banyak yang tidak bisa dimengerti. seringkali mahasiswa membuat kalimat-kalimat yang sulit dicerna. SPOK (subjek, predikat, objek, keterangan) dari kalimat yang dibuat oleh mahasiswa tidak jelas. Itu memang benar. Saya bahkwan sering menemui penulisan istilah-istilah gaul di beberapa tugas kuliah yang dibuat mahasiswa seperti: gw yang artinya gue atau berarti saya. Saya bilang kepada dosen yang mengeluh tersebut, mungkin mahasiswa perlu mengikut kuliah penulisan populer di FIB (masih ada ngga ya?).

Mahasiswa juga mungkin perlu baca buku-buku penulisan populer atau buku-bukunya Bapak Hernowo. Ada salah satu buku Bapak Hernowo yang saya suka. Judul bukunya adalah “bermain-main dengan teks”. Saya suka sekali dengan buku itu. setelah membaca buku itu, saya jadi lebih berani berekspresi melalui tulisan. Melalui buku itu, saya jadi semakin tahu bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa mengkomunikasikan pesan yang ada di kepala kita kepada yang membaca tulisan kita. Jika ada yang salah menafsirkan tulisan kita (baik itu artikel, skripsi, tesis, dll), maka kita perlu mengevaluasi ulang tulisan kita. Jangan menyalahkan orang yang membaca tulisan kita. Apalagi menyebut bahwa orang yang membaca adalah orang yang awam atau bodoh. Ternyata itu adalah kesalahan besar.

Usul saya itu ternyata tidak disetujui. dosen yang mengeluhkan tulisan mahasiswanya itu, dan dosen lain yang ada di sekitar kami pada saat berdiskusi mengatakan bahwa tulisan populer dan tulisan ilmiah adalah berbeda. Saya setuju jika dikatakan dua macam tulisan itu berbeda. Tetapi saya pikir skill untuk membuat kedua macam tulisan tersebut sama: mahasiswa memiliki ketrampilan–lebih tepatnya:keberanian– dalam menyampaikan pesan melalui tulisannya, atau menulis dilihat mahasiswa sebagai sebuah permainan seperti yang dikatakan oleh Bapak Hernowo. Menulis tidak lagi menjadi suatu hal yang menakutkan. Apalagi jika harus menulis skripsi.

Ada mahasiswa yang mengeluh karena dia merasa bingung ketika berada di depan komputer. Dia bingung menuliskan apa. Apa yang harus dia kemukakan dan bagaimana cara mengungkapkannya. Tetapi apabila mahasiswa yang bersangkutan diminta berbicara mengenai apa yang dia ingin tuliskan, maka ia akan bercerita panjang lebar, dengan cara yang sangat lancar.

Saya juga pernah merasakan hal tersebut. Saya pernah merasa mampet, peT. Saya juga pernah bertanya kepada teman saya yang jago menulis dan pernah jadi muridnya Bapak Hernowo juga: ibu Nazla Luthfiah. Dia mengatakan jika saya ingin menulis, atau bahkan menulis sebuah buku, ya, menulis saja. dia hanya mengatakan: menulis saja. Tetapi saya tetap tidak bisa melakukannya.

Setelah saya membaca tulisannya Bapak Hernowo, ternyata permasalahan saya dalam menulis adalah takut dengan penilaian orang lain. Saya takut dicela dan saya takut orang lain mengetahui pemikiran saya yang kadang cenderung “aneh”.

Sewaktu saya membuat skripsi, saya juga pernah merasa takut jika harus bimbingan skripsi. Saya seringkali sengaja untuk menunda pertemuan dengan bapak Dosen. Saya takut dinilai, dimarahi, dan ketahuan bahwa saya tidak smart. Sungguh, saya takut. Terutama pada bimbingan skripsi untuk pertama kalinya. sewaktu itu, dosen saya memberikan bimbingannya kepada saya di ruang Departemen, dimana ruangan itu ada banyak dosen lain yang berseliweran. Pemikiran buruk saya pada saat itu adalah dia akan berterik setelah membaca tulisan saya: “KAMU SIAP GAK SIH MENULIS SKRIPSI? KAMU BELAJAR BAHASA INDONESIA, TIDAK? KAMU INI….”. Sungguh, pada saat itu saya sangat takut. Tangan saya dingin. It’s true.

Ternyata dosen saya–yang pada saat itu baru saja merangkumkan disertasinya, tidak berteriak dan memaki-maki saya. Dia hanya menuliskan beberapa beberapa hal yang tidak perlu dicantumkan dalam tulisan saya. Satu lagi pesan beliau yang saya ingat adalah: jangan terlalu berbunga-bunga. Hal yang paling penting, dia tidak memberikan masukannya sampai orang lain bisa mendengar :) Tidak bisa dibayangkan jika reaksi pembimbing saya seperti yang saya takutkan.

Pada saat ini, detik ini, saya harus menjadi dosen yang tidak seperti ‘dosen yang saya takutkan’. saya juga berkeinginan untuk menyampaikan kembali pesan dari bukunya Bapak Hernowo, kepada mahasiswa saya sehingga mereka bisa lebih bersahabat dengan teks.

Sebagai seorang pendidik, tentu saya harus memberikan contoh yang baik kepada yang dididik. jika saya meminta mereka lebih lincah dalam menulis, maka saya juga harus seperti itu. Malu jika seorang pendidik menyuruh anak didiknya pintar menulis tapi yang menyuruh masih ‘yaaa begitu deh’. Oleh karenanya, saya harus berani memulai menulis. Saya ingin menulis tulisan ilmiah, tetapi tulisan ilmiah yang saya ingin tulis adalah tulisan ilmiah yang populer, yang enak di baca dan perlu. Tulisan ilmiah yang mudah dimengerti oleh orang yang membacanya.

0 comments: