The Story of My Little Fatih (0-3 Years)

|
15 maret 2005

saya lihat jam di dinding. jam 6 pagi ternyata masih lama. dua sahabat saya (lulu dan erza) sudah tertidur lelap di lantai. kalo tidak salah, mereka tidur hanya beralaskan koran . di sisi dinding yang lain, aku lihat foto bayi-bayi lucu dari berbagai belahan dunia. mereka lucu-lucu. Anakku lucu ngga ya? yang lebih penting lagi, aku bisa merawat anak saya tidak, ya? Ini adalah pertanyaan serius karena saya merasa tidak akan bisa begadang untuk menyusuinya, menggantikan popoknya, meredakan tangisnya, dll.

16 Maret 2005

jam enam pagi, beberapa petugas rumah sakit masuk ke ruangan saya. mereka langsung mempersiapkan operasi caesar untuk kehamilan pertama saya. it’s ok. apapun akan saya jalani, yang penting anak dalam kandungan saya ini selamat. Tapi, jika dia lahir, apakah saya bisa merawatnya?

:)

saya tentu saja bisa. saya tidak bisa menahan rasa cinta kepada anak saya . Lihat saja dua matanya,



atau tawanya,




saya dan orang-orang disekeliling saya memiliki pandangan yang salah. ternyata saya bisa merawat bayi :)

semua yang saya khawatirkan tidak terbukti. tapi justru yang saya tidak khawatirkan malah terjadi. nah, apaan tuh?

kata kakak2 saya, anak saya itu akan seperti saya dan ayahnya yang pendiam, penurut, pokoknya siiip lah. ternyata, sodara2, my fatih itu tidak seperti saya dan ayahnya yang sekarang. tetapi seperti saya dan ayahnya yang dulu, waktu kita masih kecil: sok teu, suka nanyaaa terus, komentaaaaaar terus, tukang ngerusakin barang, tukang lompat2in kursi, tukang main air, tukang main ujan2an, dll. pokoknya jauh deh dari ramalan kakak2 saya. (makanya, kalo bukan peramal, jangan sok jadi peramal deh! lagian, prasaan saya dan suami saya sekarang juga masih bandel kok. hihihi. cuman emang, agak jaim ajah…).

Ada perilaku fatih yang tak terlupakan, yang bikin jantung emaknya deg-deg-an.. waktu itu dia dah 2,5 tahun. di depan aku dan neneknya, dia lempar sepedanya ke arah pintu. astaghfirullah… lucu katanya. saya yang waktu itu masih tinggal di rumah mertua, tidak bisa berkutik. saya mau marah, ada mertua. saya ngga marah, itu kan salah!

setelah pindah dari rumah mertua, saya merasa memiliki otoritas sebagai orang tua. reward dan punishment harus dijalankan. Kalo reward mungkin sudah biasa. Fatih memang sudah terlalu dimanja oleh uwak2nya, nenek2nya dan kakeknya. Tapi kalo perihal punishment, ini agak janggal.

salah satu punishment yang saya terapkan untuk fatih adalah “time out”-nya nanny 911. saya bingung mem-bahasa indonesiakannya. jadi, kalo fatih ngelakuin hal yang ngga bisa di tolerir lagi, “lihat tembok!” maksudnya, saya menaruh dia di suatu tempat di pojok rumah. dia saya suruh duduk sambil liat tembok. tempat dimana dia duduk memang harus yang nyaman. jadi kalo berontak, dia tidak terbentur benda keras. pilihannya, kalo tidak kursi sofa, ya tempat tidur. kadang dia (dan uwaknya, atau kakeknya) suka meledek. mulutnya di menyon2in, matanya di putar2, seperti ini:



atau dia menawarkan pilihan: “mi, lihat atap ajah!” terus kakeknya menyahut: “iya, sambil tiduran ajah.” saya mengangguk, tidak tersenyum, berusaha untuk konsisten. Alhamdulillah, trik ini berhasil. selama dia dihukum, saya tidak pernah meninggalkannya. saya tetap menemaninya. kalo dia mau kabur, saya akan menangkapnya, menggendongnya dan mengembalikan dia ke tempat seharusnya dia berada karena sedang dihukum.

sekarang kalo fatih coba-coba untuk melakukan tindakan yang tidak berkenan, saya tinggal memasang muka serius. biasanya, dia langsung mengurungkan niatnya atau langsung memenuhi perintah saya. Saya selalu memperkenalkan kalo saya ini adalah BOS.

Tetapi, sayangnya fatih baru nurut sama saya saja. Kalo saya tidak ada, dia berani sama siapa saja, baik uwak atau ayahnya sendiri. saya selalu bilang sama ayahnya kalo fatih membutuhkan seorang ayah darinya, bukan teman. kalo teman kan, si fatih pasti punya. dan sekarang ayah juga punya posisi tawar sama anaknya. jadi, kalo fatih sudah berbuat yang aneh2, ayah bisa marah.

well, kita memang masih belajar jadi orang tua. yang pasti, kita ngga pernah luput deh tuk selalu berdoa. semoga fatih (dan ara) bisa menjadi anak yang soleh :)

0 comments: