Abang tiba-tiba bertanya, "umi, kapan abang di kubur?"
Ya, jawabannya adalah hanya Allah yang tahu. Tapi, aku agak tersentak ketika ia bertanya seperti itu. "kenapa abang nanya itu?", aku balik bertanya.
"Abang ingin dikubur aja. Lebih enak dikubur."
"Bagusnya sih umi duluan yang dikubur. Kalau abang duluan, umi nanti sedih banget. Tapi kita kan ngga tau. Yang tau cuma Allah..." jawabku, dengan hati yang terbalut sedikit takut.
"Abang sih maunya kita sama-sama terus. Umi, Abang, Ayah, Ara."
Ah, hatiku sedikit lega. Tetap dalam diam.
"Nanti kita ke rumah Allah, ya Mi?" Tanyanya lagi
"Iya, kalau kita melakukan yang baik-baik... Nanti Allah kasih hadiah untuk kita." Jawabku lagi dengan hati yang kembali bergetar. Berharap. Sangat memohon.
Abang tetap bertanya. "Kalau kita omong kasar, mi? Masuk neraka? Di bakar?" Burunya sementara aku berlari ke arah pintu karena ayah telah tiba.
"Kita kan bisa minta ampun, Bang... Allah kan Maha..."
"Penananang...?" sambarnya.
"Allah Maha Penyayang, sayang..." ku coba membetulkan, perlahan. Kemudian Abang mengulangi salah satu sifat Allah itu berulang-ulang.
Batinku sedikit bernafas. Mungkin dia tidak tahu, sebenarnya jawaban yang ku utarakan untuknya adalah untukku juga.
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



0 comments:
Posting Komentar