Kemarin, 2 desember 2008, saya kopdaran sama bundaeihsa :) seneng deh. Kita banyak ngobrol. Kikik… bukannya dengerin ceramah si dosen malah ngobrol. salah satu obrolan kita adalah -tentunya- anak2.
jadi inget kalo pas lebaran kemaren si abang di ajak uwi ulan ke daerah senayan. Waktu itu memang sudah larut malam. jadi lampu-lampu kota yang indah itu sudah menampakkan warna2nya. Si abang sangat terkesima. Apalagi ketika ia melihat gedung2 pencakar langitnya. Pada saat itu dia berteriak, “BUSET DaaaaaaaaaaH.” :D sepulang dari jalan2, uwi ulan tidak bisa menahan cerita tentang si abang. Dia bilang, “Ya oloh riiiiiiiiiiiiiiiiiii, anaknya si umiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….”
yah, abang memang sudah menguasai banyak kosa kata ajaib, antara lain dari buset. oon sampai bego. Biasanya, orang yang mendengar akan menyalahkan tv, sinetron dan anaknya asisten saya. Padahal, ada orang yang sangat berperan dalam menularkan kata-kata ajaib itu. mereka adalah uwaknya fatih dan asisten uwaknya fatih.
kalo asisten saya atau asisten kakak2 saya berperilaku macem2 sama anak saya, saya akan sangat mudah menghadapinya. Saya pecat saja dia, saya minta kakak saya menegor sang asisten, atau sekalan dipecat saja. saya yang akan mencarikan penggantinya. Saya tidak peduli jika mereka sampai menangis bombay. Saya lebih peduli terhadap anak saya, betapapun mencari asisten pada saat ini sangatlah sulit. Tetapi kalo uwaknya si fatih yang rese? ini lebih merepotkan.
Saya seringkali mengomel. Tapi seperti biasa, saya tidak didengar. Orang tua memang lebih sulit diberitahu dari pada anak kecil. Mereka akan selalu memiliki teori yang lebih banyak dari pada saya yang masih muda belia ini–dibandingkan mereka. Alhasil, saya sepakat dengan suami saya yang baik supaya kita memperbesar pengaruh kita terhadap fatih. Jadi, jangan sampai pengaruh eksternal lebih besar dari pada pengaruh orang tua. Kita memang tidak bisa mengontrol lingkungan. Tetapi, kita bisa bisa berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan nilai yang terbaik buat bekal fatih dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Ada beberapa nasehat saya untuk fatih jika kita hendak pergi silaturahmi ke uwak2nya fatih. “Bang!nasehatin ajah papih, bilangnya astaghfirullahal’adzim… gitu!” saya berusaha mencekoki si fatih. Tapi fatih biasanya bertanya kembali, “kalo papih bilang ‘ogah ah…’ gitu?”, saya jawab, “ya…. nasihatin lagi. jangan menyerah” :p Fatih waktu itu hanya mengangguk2.
satu tahun yang lalu, saya pernah berpikir untuk menyekolahkan fatih ke playgroup. Tapi kata psikolog yang aktif di milis beingmom bilang kalo fatih tidak perlu bergabung dalam sebuah playgroup kalo punya teman sepermainan yang seumuran. Jadi, aman deh uang 2 jete saya :p Ternyata, saya memang masih punya pengaruh terhadap anak saya. Ada beberapa kosa kata yang sudah langgeng menempel di bibirnya jika ada sesuatu yang “aneh” atau menyenangkan bagi hatinya, seperti astaghfirullahal’adzim dan alhamdulillah :)
Memang saya dan suami saya sangat tidak sempurna dalam menjalankan peran orang tua. Tetapi kita bisa bekerja sama dalam melalui proses belajar menjadi orang tua. Seminggu yang lalu, sempat terlintas di dalam pikiran saya dan suami saya bahwa fatih perlu masuk ke play group demi meminimalisasi nyanyiannya kangen band yang sering dinyanyikan sama si fatih. kami ungkapkan niat itu ke mamih, salah seorang kakak kepercayaan kami, isteri tersayangnya papih. Tapi mamih berkomentar lain. Dia bilang, ”yaaaah… telat! seharusnya setaon yang lalu. Kalo sekarang mah, kasian nanti die jadi jagoan sendirian. Yang ada, nanti die jadi asisten guru! :D”
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



0 comments:
Posting Komentar