Merajut Mimpi-Mimpi yang Hampir Punah

|
Salah seorang teman di komunitas peduli kesejahteraan sosial (KPKS)–salah satu yayasan yang saya dirikan, pernah menyesali keputusan saya untuk bekerja di UI. Dia berpendapat bahwa keputusan saya, berarti akan membuat saya menanggalkan komitmen yang saya miliki untuk membangun KPKS. pada saat itu, tepatnya 6 tahun yang lalu, saya bersikeras kepada teman saya tersebut bahwa saya masih meluangkan waktu untuk membangun KPKS bersama teman2. tetapi, saya ternyata salah. Pekerjaan di kampus begitu menyita perhatian sehingga saya memang pada akhirnya meninggalkan KPKS. Tanpa saya, KPKS sempat berjalan sampai tahun 2006. Namun katanya, ia hidup segan, matipun tak mau. kini, KPKS pun dinyatakan menghilang.

kemudian pada tahun 2007 yang lalu, saya ditawari lagi untuk berkomitmen di sebuah yayasan. Yayasan tersebut bernama komunitas konsumen pendidikan indonesia (K2PI). hampir serupa dengan pengalaman saya di KPKS, saya kurang bisa membagi waktu antara perkerjaan di kampus dengan pekerjaan saya di K2PI. Saya berharap semoga permasalahan ini bersifat sementara.

Kini saya merasa optimis bahwa permasalahan itu memang bersifat sementara. Dalam kesibukan saya yang membuat saya mengidamkan memiliki tangan gurita, saya masih bisa merangkul K2PI pada kegiatan2 yang saya selenggarakan. Tidak hanya K2PI, saya juga bisa merangkul mimpi-mimpi yang pernah terukir di KPKS.Ternyata, saya memang tidak boleh berhenti bermimpi.

Kini, dalam beberapa kegiatan yang saya selenggarakan, saya bisa bertemu kembali dengan komunitas yang pernah terlibat dalam pembuatan skripsi saya, yaitu komunitas yang menjadi target sasaran dari pelayanan sosial yang pernah diberikan oleh KPKS. Mereka adalah komunitas kampung sawah.

Saya sangat bersyukur. walaupun KPKS sudah tiada, saya masih bisa banyak berbuat untuk mereka yang dikategorikan sangat miskin. walaupun KPKS telah hilang ditelan bumi, tetapi saya masih bisa merangkul kembali semangat visi dan misi KPKS yang sempat memudar dan nyaris menghilang. Ternyata, sekali lagi, kita memang tidak boleh berhenti bermimpi.

mIMpi…

adalah kunci…

lalalala…

lalalalalala…

*maaf saya tidak hapal*

:p


0 comments: