Keluhan2 saya sebenarnya adalah keluhan yang sudah usang. Salah satu keluhan saya adalah perihal poligami. Keluhan ini sebenarnya sudah membosankan bagi saya yang suka mengeluhkan hal ini :p *apaan sih bu sari?*
Apapun yang ada di benak laki2, saya paling senang jika ada laki2 yang menjawab pertanyaan saya tentang poligami dengan lebih memihak kepada perasaaan perempuan. Salah seorang lelaki yang pernah saya tanya mengatakan jika dia punya uang banyak, dia lebih memilih untuk berbisnis dari pada menikah lagi. Beliau bilang, “punya satu isteri saja, susah mendidiknya. apalagi lebih dari satu?”. sewaktu itu, saya yang belum menikah merasa amat sangat lega. ternyata, di dunia ini masih ada laki2 yang berperasaan.
dan ternyata, laki-laki yang baik hati dan tidak sombong itu memang ada. Sampai saat ini, alhamdulillah, saya masih merasa nyaman dengan lelaki yang baik dan tidak sombong itu. saya bahkan mencintainya. Semoga, cinta ini dapat kekal sampai akhirat nanti. Semoga pula, laki-laki saya yang sangat saya cintai itu tidak membuat saya kecewa, patah hati, hancur berkeping2 karena dia berpaling kepada wanita yang lain.
saya akui saya adalah wanita egois. Tetapi, saya juga tidak mau berpura2 untuk menjadi wanita soleh dan ikhlas. Lebih baik, saya berterus terang saja. Saya tidak rela jika ia mencinta wanita lain dan menikahinya–baik secara legal maupun tidak. Jika ia melakukannya, saya rasa, saya lebih baik pergi meninggalkannya dari pada anak-anak saya menderita karena melihat ibunya depresi.
kadang saya juga berpikir, jika suami saya, misalnya, melakukan poligami, kenapa saya harus bersedih. mari saya relakan saja lelaki baik itu. kata orang sunda mah, ‘ntong di kekeweuk sorangan’ (jangan dicengkeram sendirian). Yang penting, dana bulanan mengalir, anak2 sejahtera, dan saya bisa hidup lebih ‘bebas’ karena salah satu pekerjaan rutin sebagai seorang isteri bisa dialihkan kepada perempuan lain. Tapi, jika dipikir ulang kembali, jika pemikiran itu dibiarkan berakar dalam diri saya, saya merasa dunia menjadi begitu datar. Dunia menjadi begitu ‘hitam-putih’, tidak ada warna, tidak ada ‘taste’. Saya tidak mau dunia saya menjadi seperti itu. Jika suami saya mau membantu wanita lain yang terlantar di dunia ini, berikan saja uangnya pada saya. Biar saya yang mengelolanya mereka. Suami saya tidak perlu menikah lagi. Tetapi jika suami saya mau menikah lagi, ya, saya cari saja lelaki lain yang lebih baik hatinya. it’s not simple. tetapi saya harus membuat permasalahan itu menjadi sederhana dengan meninggalkannya. saya mohon maaf kepada semuanya.
tetapi, sekali lagi, alhamdulillah, segala puji baginya, suami saya adalah suami yang baik hati dan tidak sombong. Sampai saat ini, saya sering menanyakan keinginan dia untuk berpoligami. Alhamdulillah, sampai saat ini, dia merasa cukup dengan kehadiran isterinya yang tidak sempurna. Allahu’alam. Dia masih menghargai isterinya yang sangat jauh dari ideal.
Suami saya bukan supel.
dia juga bukan setal.
kalo digabunging, dia bukan supelstaaaaal…
dia hanyalah orang yang aku cintaIIIII…
dia juga bukan setal.
kalo digabunging, dia bukan supelstaaaaal…
dia hanyalah orang yang aku cintaIIIII…
Alhamdulillah, suami saya yang baik hati dan tidak sombong itu tidak seperti laki-laki lain yang tidak saya mengerti, yaitu laki-laki yang masih suka tebar pesona padahal isterinya cantik sekali, banting tulang demi mendapatkan sesuap nasi untuk anak2nya. lelaki itu pernah berpelukan dengan perempuan lain disaat anaknya tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran sekolah karena sedih melihat ibunya sering menangis diam2. Bahkan, ia juga menikahi perempuan lain, di saat isterinya yang cantik, seksi, pintar, jago masak, jago jualan kue, sedang menanti dirinya di rumah. Saya tidak mengerti dan saya merasa tersakiti.



0 comments:
Posting Komentar