Aku dan Sendu

|
jadi, saat itu...
maaf jika aku harus pergi sendiri
menelusuri lorong kota
dalam gemerlap warna indahnya

biar ku tembus bersama rindu
meraih sisi manusia yang slama ini hanya cerita
dalam buku
dalam puisi

di sana aku terperangah bercengkerama
hati ku hati mereka
membicarakan Tuhan
lalu kesucian yang ada pada debu-debu

Ku coba raih
Matamu
Jemarimu
Asamu

Lalu kamu pun membalas
Menatapku kagum
Atas pakaian yang kukira tak lah mewah
tak lah istimewa

(iya...
Aku ingat lengan ibuku menarik kain ini dari atas tikar
"obral! obral!"
Ada yang menyeru seperti itu
)

Terpanggil suatu cerita sementara itu
Matamu bicara
Mungkin yang kukenakan
Bisa menutupi tubuh anakmu yang empat, atau lima, atau... sepuluh

Ku susuri lagi
perjalanan panjang dengan lampu hias yang indah
Hingga akhirnya aku kembali
Ke suatu tempat dimana kau pernah berada

Semua berbeda
Lebih apik dengan susunan batu yang menjulang berwujud rumah Tuhan

Kerapuhan sendu masa lalu masih ada
Tidak dengan keberadaan hatiku yang mungkin menghilang dan mengeras
Kemudian sedikit meleleh
menyaksikan sumur dalam yang hanya sejengkal tangan dari mulut pintu

Aku pening
Aku menangis
Aku memikirkan kamu
Bukan sendu kamu

Aku kehilangannya
atau mungkin meninggalkannya
atau menutupinya
Oleh sendu lain yang berbalut kesepian dan kepalsuan

0 comments: