Anak-anakku adalah permata hatiku. Layaknya permata, maka mereka indah dengan pancaran cahaya yang didapatkan dari sekitarnya.
Sebagai permata hati, maka begitulah para guru di TK itu memperlakukan anakku, Fatih. Mereka melihat ada banyak perbedaan padanya yang tidak dimiliki orang lain. Perbedaan-perbedaan tersebut diberi judul dengan “rasa ingin tahu yang besar”. Bukan dengan cap “anak nakal”, “anak jahil” atau “anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tua”.
Fatih, sebagaimana anak murid yang lain, adalah anak yang istimewa.
Jika ada kesalahan yang dibuat oleh Fatih, sang guru tidak serta merta menuliskan “catatan buruk” dalam buku penghubung. Sebaliknya, jika ada “sedikit” prestasi yang ditorehkan oleh anakku, maka ia akan segera melaporkan. Seperti salah satu tulisan indah yang tertera di dalam buku penghubung: “Fatih pintar sekali bahasa Inggisnya, bunda...”
Ah, andaikan... TK Permata Hati memiliki sekolah lain yang berjudul SD, SMP, SMU Permata Hati...
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



4 comments:
waaah, pinter!
mahal ga bo?
uang pangkal 2 jutaan. uang spp 180rb. itu semua udah termasuk semua fasilitas. jadi kalo ada acara2, ngga bayar2 lagi. jauh lebih murah dari pada yang puluh juta, dan yang sppnya sejutaan per bulan :p
pinter, that is if i may borrow Nazla's word, you must be proud of them, take good care of them
thank you, Mr Hans...
Posting Komentar