Sempat ada pikiran melintas. Aku ingin menjadi orang kaya. Bahkan lebih kaya dari pada orang kaya di Indonesia. Semua bisa di beli. Namun nyatanya kekayaan tidak selalu memberikan kebahagiaan.
Saya ubah lagi mimpi saya. Saya ingin jadi orang kaya. Tapi kekayaan saya tidak membuat saya menjadi budak uang. Saya tidak mau menjadi bingung bagaimana menghabiskan uang yang segunung setiap hari. Uang ada ditangan saya, bukan di hati saya... Sebagaimana Sayyidina Ali berdoa.
Mimpi itu kadang surut, kadang kembali sampai akhirnya saya bertemu seorang kaya raya. Ia miliki tanah berhektar-hektar. Namun masyarakat di sekitar tidak memiliki kesengsaraan karenanya. Sebaliknya, semua kekayaannya memberikan banyak manfaat bagi masyarakat sekitar. Tak ada pemuda yang menganggur. Ibu-ibu juga tak sempat bergunjing tentang orang lain. Para kepala rumah tangga juga memiliki kesibukan. Semua produktif.
Betapa indahnya hidup seperti itu, ya? Sang hartawan yang dermawan tersebut menyebut kegiatannya sebagai social entrepreneurship.
Hm... menggiurkan...
Tapi untuk sementara, saya syukuri saja yang ada pada saya saat ini. Saya sekarang sudah kaya kok. Saya punya suami yang sholeh dan anak-anak yang spesial. Saya punya kehidupan yang penuh keberkahan... ALhamdulillah.
:)
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



2 comments:
i like this post, it must have come straight from your heart and for as long as you subscribe to these ideals you're going to be okay.....come to think of it having money is a necessity but having lots of it can be a source of all life's sorrows.....
yes, Mr hans! i like it too :) i'm learning to (only) have the positive energy in my life. So that i can invite more and more a lot of good things in my life :)
Posting Komentar