Make Up

|
Make up? artinya, alat-alat untuk poles sana, poles sini. Cling! Atau, kenapa ngga diartikan begini saja: make up your mind... then be your self...

heu heu...

Tapi, sebelum membahas "make up" dalam arti yang kedua, mari kita bahas yang pertama. Make up, alat-alat kecantikan dengan bahan-bahan dasar utama: bedak dan lipstik.

Benda yang pertama, bedak, pernah saya gunakan pada waktu SD. Almarhumah Mamah pernah membelikan yang compact. Pada saat mempergunakan pertama kali, saya merasa sudah dewasa sekali. Saya yang masih SD merasa sudah seperti emak-emak. Minimal seperti emak saya.

Benda yang kedua, lipstik, pernah saya gunakan pada saat SMU. Sebenarnya, ketika TK pun pernah dipergunakan hanya untuk mencoba seperti emak. Lalu waktu SD pun pernah pakai--pada saat manggung 17 Agustus-an tentunya.

Saat kuliah, seharusnya benda-benda kecantikan yang mendasar itu saya pakai lebih sering dong. Tapi tidak. Saya membuangnya. Yang body shop pun masuk ke keranjang sampah. Saya ada trauma dengan daya tarik perempuan terhadap laki-laki *hahahahaha...*

Kemudian ketika saya bekerja, saya masih berpolos ria. Sampai akhirnya salah seorang senior ada yang memberikan lipstik dari Jepun. Saya tidak langsung memakainya. Saya simpan saja di atas lemari. Yang menarik, kenapa hanya saya yang diberi lipstik sedangkan yang lain tidak?

Kemudian pada saat kuliah S3, tiba-tiba ada yang nyeletuk. Saya harus dandan biar ngga terlalu kelihatan seperti mahasiswi S1. Wahahaha... mahasiswi-mahasiswi S1 aja pada "cling", bo...

Kenapa ya, kawan saya bernasihat seperti itu? Latar belakangnya karena saya punya cerita tentang "saya dan sang pegawai baru di dekanat".

Setahun yang lalu, ada pegawai dekanat yang sok-sok mau "mapras" mahasiswa S1. Maksudnya, saya. Padahal saya kan dah punya anak dua. Dengan belagunya, ia meminta saya untuk menyebutkan nama salah seorang seniornya. Saat itu saya mendelik dan bersikukuh tak mau menjawab. Si sontoloyo itu tetap memaksa. Sampai akhirnya pegawai yang sudah lebih senior darinya bilang, "Dia itu dosen loh".

Wah, sedemikian culunnya kah wajah saya?

Maka, beberapa bulan kemudian, rajinlah saya memakai make up. Saya merasa lebih cantik. Tapi kenapa tidak merasa lebih dewasa?

Apapun itu, yang pasti, make up masih menempel sampai saat ini. Plus alat-alat meni pedi yang setia menemani di kala senggang. Namun ledekan kakak saya waktu kecil dulu sering terngiang-ngiang. Saya ingat betul celetukannya: "perempuan bermake-up tanda tak pe-de..."

4 comments:

Nazla mengatakan...

ikut berduka cita punya kakak 'sadis' gitu hihihihi

Sari Viciawati's Blog mengatakan...

tapi Lu, mereka banyak berjasah pula karena telah membuat sayah kuat bertahan di dunia nyatah. hihihihihi....

azz mengatakan...

jd sekarang mbak sari make-up an?
huehue...penasaran jdnya :)

Sari Viciawati's Blog mengatakan...

loh? kan udah dari taon lalu eike pake spf 15? emang ga keliatan? wadduh.. kurang tebal, ternyata..