Menulis

|
Entah skenario apa yang menghantarkan saya pada pekerjaan ini: menulis. Dahulu kala, menulis itu merupakan suatu hal yang asing buat saya. Rasanya, otak dan jemari saya memang tidak pernah ditakdirkan untuk berhubungan demi kata kerja yang satu ini: menulis. Perasaan itu semakin menguat ketika saya melihat skripsi tebal milik kakak saya. Saya berpikir, "bagaimana dia bisa mengeluarkan ribuan kata ke dalam kertas seperti itu?".

Lalu saya bertemu sahabat semasa SMU. Dia pernah memperlihatkan sebuah buku. Dia bilang, buku itu berisi catatannya. Bukunya bukan diari seperti yang pernah saya tulis, disimpan, lalu dibakar. Bukan. Bukunya adalah kumpulan lagu hasil ciptaannya. Entah apa ekspresi saya saat itu. Kemungkinan saya terlihat tak berekspresi. Ya, seperti biasa. Namun hati saya berkata, "kamu cantik, hebat pula!"

Semasa kuliah, saya menemukan episode yang tidak diduga dengan bertemu seorang sahabat lagi. Dia punya kumpulan cerpen, cerber dan puisi. Saya merasa minder sama dia. Saya iri juga sama dia. Saya bingung, kok dia bisa sih menciptakan kata-kata indah seperti itu?

Lalu waktu terus berjalan. Saya bisa juga membuat skripsi seperti kakak saya. Walaupun skripsi itu dikritik oleh sang Bapak. Tapi saya tidak peduli. Bapak bilang, kalimat saya terlalu panjang. Saya tetap tidak peduli. Saya sudah menulis skripsi. Itu saja sudah cukup.

Beberapa saat setelah penulisan skripsi selesai, sahabat saya mengajak untuk membuat suatu hal masih dirasa tidak mungkin terjadi pada diri saya. Dia mengajak saya menulis skenario. Saya tidak tahu apakah saya menerimanya atau tidak. Seingat saya, hati saya berteriak, "Hei! Aku kan tidak bisa menulis! Kalau main drama, hayu!".

Lalu saya teringat lagi dengan percakapan saya dan sahabat saya di pinggir danau itu. Tiba-tiba sahabat saya memegang secarik kertas dan pena ditangannya. Dia mengajak saya menulis kata-kata. Kata apa saja yang terbersit di pikiran dituliskan olehnya. Saya ucapkan semua yang saya lihat. Dia menuliskannya. Dia juga menuliskan apa yang dia lihat. Saya jadi bertanya, itukah cara menulis?

Sekarang saya juga lagi menulis dan memuntahkan apa yang ada di kepala. Saya mencoba untuk merasakan kemudahan menulis sesuatu karena saya sering merasa menulis itu bukan pekerjaan yang mudah. Menulis itu susah!

Kesulitan untuk menulis yang paling saya rasakan adalah saat mood tidak mau diajak bekerja sama dengan baik. Seperti mood saya saat ini. Bahan yang akan diolah untuk ditulis sudah diserap. Tapi ketika mau dikeluarkan, hati saya bilang, bikin blog aja deh tentang spongebob.

Spongebob? Ada apa dengan mahluk bohongan berwarna kuning itu?

Iya, saat mood saya lagi menyebalkan begini, saya ingat salah satu episode Spongebob yang ingin menulis. Sebelum menulis dia mengerjakan berbagai hal. Lalu dia kembali ke kertasnya. Tapi dia belum sanggup mengeluarkan kata-kata. Kemudian dia mengerjakan hal-hal lain lagi. Akhirnya dia bisa mengerjakan sesuatu dengan serius dengan kertas dan penanya tersebut. Ternyata hasilnya bukan tulisan dengan rangkaian kata-kata. Dia hanya membuat sebuah huruf yang berukir. Saya jadi tersenyum geli. Kisahnya mirip betul dengan saya apabila mau menulis.

Ya, malam ini saya memang gagal menuliskan sesuatu untuk sebuah tugas. Tapi tak apa. Setidaknya saya menjadi lebih sadar mengenai sesuatu dari ceritanya Spongebob yang tiba-tiba muncul di memori saya. Saya harus lebih fokus kalau mau menulis. Ya, itu saja.

The End

2 comments:

Nazla mengatakan...

Dan orang yang tidak bisa menulis ini yang sekarang bisa membuat postingan indah :)

Sari Viciawati's Blog mengatakan...

hahahaha... Nazla! pinjem komik dooooong!