Curhat

|
Beberapa hari terakhir ini sempat terpikir kembali untuk menulis di blog. Cuap-cuap saja. Ngga perlu sistematis dan romantis. Hanya mengeluarkan kata-kata supaya jiwa memiliki sedikit ventilasi.

Cuap-cuap kali ini tentang pengetahuan yang ngga baru tapi baru disadari urgensinya seputar badan sendiri yang sudah mulai tidak dikenali sejak tidak menari, tidak berjalan kaki, jarang naik turun tangga dengan berlari, dan lebih sering mengandalkan jasa ojek. Saat saya malas bergerak, badan saya menjadi mekar. Dari angka 48 beranjak ke 52, kemudian ke 53 lalu ke 63. Angka terakhir didapatkan karena memang berbadan dua. Setelah melahirkan angkanya turun ke 54. Namun kemudian menanjak lagi ke angka 58, 59, dan 60. Lalu saya lelah melihat angka timbangan. Saya menyerah sampai akhirnya berani menimbang diri dan melihat jarum alat ukur bobot badan yang mengarah ke angka 63. Saya terkejut kemudian berusaha menurunkan berat badan namum jarum timbangan tidak kunjung bergeser ke kiri. Saya jadi semakin tertekan.

Selanjutnya saya berkenalan dengan benda yang bernama korset. Seorang teman bilang, korset itu wajib dikenakan untuk wanita selayaknya dua benda pakaian dalam lain yang biasanya dipergunakan wanita sehari-hari. Sekali dua kali pemakaian korset membuat saya merasa percaya diri. Namun lama kelamaan korset membuat saya merasa semakin tersiksa dan semakin mengabaikan apa yang namanya "DIET".

Ketidakpedulian terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh dan apa yang dirasakan oleh tubuh ternyata menumbuhkan berbagai penyakit yang menyebalkan. Ada satu kista yang sudah dioperasi ternyata tumbuh lagi tepat dibawah bekas jahitan operasi. Miom, kista dan endometriosis yang sudah lama berdiam di rahim juga nampak menggila. Mereka seperti yang meledek, kadang terasa seperti yang ingiin mencabik-cabik perut dan mengatakan, "Hei, we're still here! don't do anything coz we love staying in ur unhealthy body". Perut saya terasa sakit 100% (Meminjam istilah yang suka diungkapkan abang). Dokter pun meminta saya untuk terapi hormon. Saya lakukan itu tetapi sakit tidak kunjung hilang dan membuat saya ketagihan terhadap obat-obatan. Sampai akhirnya dokter yang lain mengatakan, "operasi, kalau perlu angkat rahimnya atau hamil lagi".

Rasanya mengerikan jika saya harus operasi. Lalu terbayang pada saat operasi dokter memutuskan sesuatu yang tidak diinginkan karena jaringan yang ada di dalam tubuh saya itu melekat kuat di rahim. Saya hanya terdiam sejenak. Bingung dan sedih. Suami hanya mendukung apa yang menjadi keputusan saya.

Pada akhirnya saya memutuskan sesuatu dengan tegas! Saya diet (baca: hidup sehat) dan lebih banyak bergerak. Saya harus berolahraga. Olah raga pilihan saya adalah angkat beban karena ada artikel yang mengatakan kita harus membangun otot jika ingin menurunkan berat badan dan membakar lemak. (See http://duniafitnes.com/fat-loss/membakar-lemak-sambil-membentuk-otot-why-not.html)

Alhamdulillah, saat ini ada banyak perubahan signifikan. Jarum timbangan akhirnya bergeser ke kiri. Lingkar pinggang juga menyusut. Lemak berkurang sebanyak 3%. Hidup lebih hidup dan saya juga sudah tidak takut makan lagi. Kemudian yang terpenting, perut tidak terasa sakit lagi. Tapi... kok saya belum datang bulan juga ya? Sudah telat seminggu nih!



*many many thanks to Duniafitness.com, Denny Santoso dan dr. Jeffry Tenggara untuk tips dietnya. Pengetahuan tentang otot tubuh memakan lemak, metabolisme, dan lainnya benar-benar membukakan mata (hati) :)

0 comments: