Sudah satu minggu, salah satu asisten yang membantu mencucikan pakaian cuti. Beliau sakit. Jadi tugasnya harus saya kerjakan sendiri.
Awalnya memang melelahkan. Namun semakin lama, tubuh tidak memberikan respon yang menjengkelkan. Bahkan bisa ikut menikmati ritme rutinitas dari pagi ke pagi itu.
Otot lengan mungkin sudah memiliki pengalaman cukup untuk diajak bekerja keras melakukan tugas 'berat' dadakan seperti mencuci baju. Lain halnya dengan mata. Organ yang satu ini nampaknya belum terlatih dengan baik. Mungkin dari sejak kecil. Jadi daya tarik untuk membuat kelopak mata terangkat sangat minim. Ini dirasa jauh lebih sulit dilakukan dari pada menarik ember besar yang penuh dengan pakaian kotor. Berat sekali.
Di suatu pagi. Saat punggung badan, lengan dan jemari merasa tak berdaya. Kedua mata ini semakin sulit untuk dibuka oleh karena lelah yang amat sangat. Bahkan ketika ada suara merdu memanggil-manggil membangunkan bundanya.
"Umi... Umi...", rengeknya.
Saya tetap ingin bersikukuh diam dalam lelap. Rasa pegal memohon semua sendi untuk tak bergerak sesaat demi sesaat. Hingga akhirnya ada sebuah kecupan lembut mendarat di dahi dari sang puteri yang cantik. Ada keajaiban. Serta merta energi hadir memenuhi ruang yang mampu mendorong kuat setiap organ tubuh untuk bekerja sesuai fungsinya, membalas cinta dan ketulusannya.
*for my beloved darling beautiful daughter
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



0 comments:
Posting Komentar