Amarahnya

|
Tak cukup tancapkan paku
Ketika amarah kuasai, palu pun harus merusak kayu yang ada dihadapannya
Membiarkannya patah
Rusak
Terhina
Tak berguna

Tak cukup

Diludahinya sang kayu

Tak cukup

Diinjak

Diinjak lagi
Hingga remuk
Hancur
Tak terbentuk
Terabaikan

Begitulah amarah begitu menguasainya

Tak sadar
Entah menyesal atau tidak makhluk Tuhan berjubah emas itu tlah pergi
Keberadaannya tak lagi nyata
Entah lenyap
Entah Tuhan tlah menutup tabir tebal berwarna kelabu antara kami

Lalu ku ‎separuh tak berdaya dan terperangah
Makhluk Tuhan yang nampak "elok" sepertinya memang ada
Aku hanya berusaha tak menghakiminya atau diriku sendiri
Lalu berusaha mengembalikan pecahan kayu, entah bagaimana, Tuhan memberikan kekuatannya hingga pecahan itu kembali seperti semula

Ya...

Sang kayu tetap kembali utuh
Namun retaknya tetap nyata
Sedikit bergaris tak rata
Jadi ingat kisah serupa tentang tancapan paku pada kayu karena amarah pula

Maka jiwaku berkata
Tetaplah tersenyum
Tuhanmu bukanlah sang kayu
Ia mudah sekali rusak

0 comments: