Dulu, saya gak kepengen nyekolahin anak di sekolah yang mahal-mahal. apalagi yang branded, yang uang pangkalnya ampe belas belas juta. Saya pikir, yang negeri-negeri aja deh… gak usah yang neko-neko. toh, anaknya pak prof aja gak pake sekolah TK ato SD yang mahal. anaknya beliau juga sampai sempat tertular “logat-logat betawi”. Tapi beliau tidak malu. Bahkan sekarang anaknya , yang tidak masuk sekolah yang bermerek dan tidak ber-AC itu, bisa masuk salah satu SMU unggulan di Jakarta (hihihi… hiyalah, ibu dan bapaknya emang telaten siy…).
Tapi sempat, niat itu perlahan mulai memudar. Saya sekarang sedikit mulai tergiur dengan berbagai promosi yang terpampang di pinggir jalan, di tv atau promosi yang dipaparkan sama ibu-ibu yang udah nyekolahin anaknya di TK. Kayaknya kok keren ya kalo orang nanya, Fatih sekolah di mana, jeng? Pertanyaannya ku jawab, “di ‘School bla bla bla’….” cie… dari namanya aja udah keliatan canggih :)
Alhamdulillah, karena suami saya yang baik, otak dan hati ini mulai bersatu lagi dan meluruskan apa yang seharusnya dilakukan untuk Fatih dan Ara (nanti). Saya tidak akan mendaftarkan anak-anak ke sekolah karena gengsi, tapi karena kebutuhan anak itu sendiri. Kasian anak-anak… karena gengsi orang tua, anak-anak banyak yang musti stress karena harus mengikuti pelajaran sekolah yang berat bagi mereka. full day, lagi. Mereka jadi kehilangan waktu untuk bermain.
Perihal gengsi orang tua ini memang sengaja disinggung sama suami saya karena dia sempat mendapat curhat dari temannya. Katanya, gara-gara gengsi orang tua mengenai dimana anak-anaknya bersekolah, ada beberapa keluarga yang tidak akur gara-gara saling menonjolkan sekolah anak-anaknya. Padahal mereka bertetangga. bahkan salah satu keluarga yang bertetangga tersebut memilih pindah rumah karena gak tahan dengan “persaingan” antar orang tua tersebut (yang ini aneh…).
Waktu kecil, waktu SD dulu, saya juga sempat bersaing sama tetangga saya. Saya pernah mengajukan protes sama mama dan papa saya :p . Saya bilang sama mereka kalo saya juga ingin sekolah di SD yang ada jemputannya, ada AC-nya, yang murid-muridnya punya nama yang keren-keren (seperti alexia, sandra, imelda, dll). Sampai-sampai saya mengarang cerita kalo di sekolah saya ada setannya! hihihihi…
alhamdulillah, mama saya tidak mendengar keluhan saya. Salah satu hal yang saya syukuri dari penolakan orang tua saya terhadap keinginan saya (bukan kebutuhan) adalah saya memiliki pengalaman untuk berteman dengan orang-orang yang-mungkin- tidak ada di sekolah mahal. Saya punya teman yang borderline, saya punya teman yang tidak mengenal sampoh (shampoo) sehingga ia kerapkali menggaruk-garuk ramputnya yang punya kutu, saya juga punya pengalaman berteman dengan teman-teman yang tinggal di rumah yang berlantaikan tanah. Bagaimanapun, pengalaman itu sangat berarti dalam proses pertumbuhan dan perkembangan saya.
Walaupun murah meriah, sekolahan SD saya dulu juga TOB kok. Buktinya, alumni-alumninya banyak yang masuk perguruan tinggi negeri paling bergengsi di negeri ini, sebut saja UI dan STAN. Beberapa teman saya itu memang pintar-pintar. Seperti tetangga saya yang sekolah di sekolahan mahal, mereka juga bisa bermain-main dengan pelajaran matematika. Jadi, tidak selamanya sekolahan murah itu jelek, kan?
Saya pernah mendapatkan keluhan dari salah seorang teman saya yang pernah menyekolahkan anaknya di salah satu sekolah yang mahal. dia sangat kesal dengan sekolah itu. dia bilang, janji-janji yang pernah ditawarkan pihak sekolah ada yang tidak ditepati. Dia bilang, janji-janji sekolah anaknya adalah: kelas ber-AC dan murid-murid yang mendaftarkan diri di sekolah itu juga tidak hanya belajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pihak sekolah berjanji akan memberikan pelajaran bahasa Mandarin. Ternyata, setelah anaknya bersekolah di situ, kelasnya tidak ber-AC lantaran AC-nya rusak. Kemudian, anaknya teman saya itu juga tidak mendapat pelajaran bahasa Mandarin. anaknya teman saya dan teman saya sendiri pernah protes, tapi tidak ditanggapi. Teman saya jelas sangat kecewa. Dia kan sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit. berarti, tidak selamanya sekolahan yang mahal itu bagus, ya?
yaa… pilih-pilih sekolah memang harus hati-hati. Jangan cepat tergiur dengan iklan di jalanan atau iklan yang di TV. Saya harus melakukan wawancara mendalam dengan orang tua yang pernah menyekolahkan anaknya disitu dan juga dengan guru yang mengajar di sekolah itu.
Kemudian, saya juga gak bisa asal pilih yang penting murah atau yang penting mahal. Saya juga harus cek juga kalo sekolah yang saya incer itu sudah terdaftar di dinas pendidikan atau belum. Kalo pilihan sekolahnya ternyata belum terdaftar tapi sekolah itu memang sesuai dengan kebutuhan anak, maka yang memilihkan dan anak yang bersekolah harus bisa menerima konsekwensinya: sang anak harus ikut ujian persamaan.
Semoga saya tidak menjadi salah satu konsumen pendidikan yang kecewa. Yang penting, anak-anak saya yang lucu bisa menjadi anak yang soleh dan berguna. Dimanapun mereka sekolah, peran saya dan suami saya sebagai orang tua tetap yang paling penting buat mereka.
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



0 comments:
Posting Komentar