Ada banyak yang pesan yang pernah ibu saya sampaikan kepada saya. Sebagian besar pesan yang beliau sampaikan lebih banyak diutarakan melalui perbuatan. Hal itu wajar, karena biasanya, perkataan yang beliau sampaikan lebih banyak yang terlewat begitu saja dari pendengaran saya (wuzzz…) Misalnya, beliau paling tidak suka melihat saya selalu menggunakan pakaian yang sama sampai dua atau tiga kali seminggu. Sampai-sampai, beliau meminta saya untuk mencatat pakaian apa yang harus saya kenakan setiap hari dalam satu minggu. Tapi semuanya tidak saya lakukan. Menurut saya, jika saya sedang menyukai suatu hal tertentu, maka saya akan selalu mengenakannya selama saya suka. Saya akan menggantinya jika saya sudah tidak menyukainya lagi. Hal ini tidak berlaku pada pakaian yang saya kenakan saja. Perihal makanan juga seperti itu. Jika saya sedang suka nasi goreng, maka saya akan memakan nasi goreeeeng terus sampai saya bosan. Yah, itu lah saya. Sekarang? Saya mulai menaati pesannya untuk lebih memperhatikan penampilan :) Seperti beliau yang selalu memperhatikan penampilannya di saat sedang santai di rumah-ada atau tidak ada Bapak- ataupun pada saat bepergian.
Hal lain yang beliau sampaikan adalah perihal belajar memasak. Beliau selalu mendorong saya untuk belajar memasak. Ketrampilan memasak yang beliau inginkan dari saya tidak terhenti pada ketrampilan memasak mie instan, nasi goreng atau sup ayam saja. Ada beberapa ketrampilan lain yang beliau contohkan: terampil membuat kue, sri kaya, dan lain-lain. Sampai saat ini saya belum pernah bisa mencontoh apa yang beliau perbuat. Lagi pula beliau juga tidak pernah memaksa :) Tetapi setidaknya saya merasa telah dibekali oleh beliau beberapa teknik memasak. Setidaknya, saya tidak perlu malu untuk terjun ke dapur mertua atau kakak-kakak ipar :)
Dulu, berbagai pesan yang beliau miliki memang tidak pernah dipaksakan kepada saya. Saya boleh tumbuh dan berkembang menjadi siapa saya. Beliau hanya akan menjadi marah apabila saya, dan anak-anaknya lain, bersikap tidak sopan kepada orang tua, mementingkan diri sendiri, tidak mau berbagi, teledor, bohong, dan sifat jelek lainnya yang tidak berkenan di keluarga dan masyarakat, serta negara :p
Walaupun beliau tidak pernah memaksakan pesannya kepada saya, tetapi saya selalu terkesan dengan semua pesan yang pernah beliau sampaikan. Terutama pesan beliau mengenai “diri kita dan kematian”. Katanya, kematian itu sangat dekat. Salah satu kalimat yang sering beliau ucapkan pada saat meminta saya untuk memotongkan kuku tangan dan kakinya, adalah: “kalo mama meninggal, semuanya harus bersih ya…”. Saya sering terhentak apabila beliau berbicara seperti itu. Saya yang suka ngeyel pun menjawab, “yeee… emang mamah duluan yang meninggal, kan bisa aja sari duluan…”. Kalau jawaban saya seperti itu, biasanya beliau memunculkan mimik tidak suka. (Tapi saya benar, kan? Siapa yang bisa memprediksikan usia manusia?)
Suatu ketika, perbincangan itu muncul lagi. Kali ini lebih serius. Saya pun menanggapinya lebih serius. Saya yakin, sangat yakin, bisa saja saya yang pergi terlebih dulu meninggalkan dunia ini. Namun pada saat itu, beliau, ibu saya yang tercinta, tidak lagi memunculkan mimik tidak suka. Sebaliknya, beliau hanya tersenyum dan memandangi kuku-kukunya yang panjang sedang kupotongi satu persatu.
Entah… beberapa hari setelah itu… beliau dipanggil oleh-Nya dengan senyum menghiasi bibirnya…
“Ya Allah, ampunilah orang tua-ku, sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangi aku sejak kecil… Amin.”
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



0 comments:
Posting Komentar