sampe sekarang ga bisa menghindari junk food. gimana pun tau ruginya, tetep aja hobi. alasannya simpel: beli suasana aja. walopun beli junk food di mall yang kecil, kayak di depok town center (dtc) gitu, tapi tetep weh beda ama rumah. kan makanan sehat dah selalu tersedia di rumah… gak papa donk sesekali. asal jangan ampe jadi kecanduan kali ya… selain bikin fisik sakit, kantong juga bisa cepet kosong. stress deh khir bulan hanya gara-gara makanan sampah. padahal kita kan musti hemat, ya?
masalah hemat-hemat uang, jadi inget kisah nyata “ketika gladiol bersemi”-nya daai tv. Di film itu, ada keluarga kayaaaa banget, tapi hemaaaaat banget, tapi juga royaaaal banget ama keluarga miskin. suatu hari, keluarga kaya itu mengalami kebangkrutan, jadi beberapa aset kekayaannya harus dijual supaya mereka tidak semakin jatuh terjerembab. beberapa anak yang mengelola perusahaan keluarga ada yang depresi, bahkan ada yang rambutnya memutih dalam semalam (yang ini gak tau bener apa ngga. katanya sih bener. tapi bisa, ya? psikosomatis memang cool!).
berbeda dengan mereka yang mengalami depresi, sang kakak pertama tersebut menghadapinya dengan cara yang elegan. pertama, dia menasihati adik-adiknya supaya tidak stress berkepanjangan dan mencoba untuk merapikan semuanya secara perlahan-lahan. Kedua, dia buat “penelitian” bagaimana keluarga mereka hidup dengan ‘tanpa apapun.
langkah pertama dilakukan sang kakak pertama dengan mengefaks nasihat yang panjang dari amerika ke adik-adiknya yang ada di Taiwan. setelah itu, ia melakukan langkah yang kedua. ia pergi keluar rumahnya. kemudian berjalan, tanpa uang. berjalan saja. ia mencari tau apa yang bisa ia dapatkan di dunia ini bila ia tidak punya uang. perjalanannya berakhir di belakang sebuah pertokoan (supermarket kali, ya…). disana sang kakak pertama sangat gembira karena ia telah menemukan banyak sekali bahan makanan di dalam tong sampah. ia tersenyum. ia tahu, ia dan keluarganya masih bisa hidup walaupun tidak punya uang sepeserpun.
sang kakak pertama pulang. ia memasakkan bahan-bahan manakanan dari tempah sampah tersebut. ia mengolah sebaik mungkin dan menyodorkannya kepada keluarganya (adiknya, keponakan-keponakannya, dan ipar-iparnya) di amerika. setelah memakan masakannya, sang kakak pertama meminta keluarganya untuk berkomentar dan ternyata komentar yang keluar adalah: enak…! hmm…! :-p (huek…)
kemudian sang kakak pun berterus terang tentang asal usul bahan makanan yang telah diolahnya. setelah mendengar cerita sang kakak, semua anggota keluarga yang ada di depan meja makan sontak memuntahkan makanannya. sang kakak pertama kecewa melihat reaksi keluarganya dan bersikeras bahwa makanan yang ada dihadapan mereka telah dibersihkan dan tetap bergizi. hal ini pun dia lakukan untuk membuktikan bahwa keluarga mereka dapat bertahan walaupun tidak punya uang. akhirnya, adik, keponakan dan ipar sang kakak pertama pun mematuhinya, memakan makanan yang berasal dari tempat sampah tersebut, dengan tersenyum, sampai habis…
cerita itu sempat bikin saya takjub hingga membuat mulut ini gatal dan ingin bercerita kepada siapa saja yang berkesempatan mendengar. sebagian pun ada yang turut takjub mendengarnya, ada juga yang hanya berkomentar:” ya… tempat sampah di amerika jangan disamakan dengan yang ada di Indonesia…”
tapi tak peduli. cerita tentang makan makanan sampah tersebut tetap membuat saya heran. sampai pada akhirnya aku bercerita sama salah satu orang terdekat…
“Iya … !!! dari tempat sampah!!! coba bayangin…”kataku semangat.
dia hanya berkomentar:”saya juga kan sering mungutin… itu di DTC… ada sayur, ada buah, banyak… banyak kok tetangga yang mungutin”
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
11 tahun yang lalu



0 comments:
Posting Komentar